Menu
RSS
Top Banner Nasional

Inilah Daftar Tim & Raihan Penghargaan Pelajar Indonesia Dalam Ajang ITMO 2017

Bogorplus.com-Davao-Filipina. -- International Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) merupakan kompetisi dua tahunan yang bergengsi di tingkat Internasional karena tingkat kesulitan soalnya yang tinggi yang membutuhkan penalaran yang kuat dalam pemecahan soalnya. Indonesia pada ITMO 2017 ini mengirimkan 4 Tim untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama dan 2 Tim untuk tingkat Sekolah Dasar yang terdiri dari 4 Team Leader, 4 Deputy Leader, dan 24 peserta. Semua peserta dibina oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Bogor dibawah asuhan pelatih Olimpiade Nasional dan Internasional, Raden Ridwan Hasan Saputra. Dalam ajang tersebut, Ridwan Hasan Saputra bersama tim KPM berhasil menghantarkan anak asuhnya dengan mendapatkan perolehan penghargaan sebagai berikut:

Tingkat Sekolah Dasar (SD)

Tim Indonesia A (KPM)

Lomba Individu:

  1. Nisrina Fathiyya Nugraha SDIT Nurul Fikri Depok (Medali Emas)
  1. Muhammad Ilham Alfarisi SDIT Ummul Quro Bogor (Medali Perak)
  2. Sandhya Mahendra Dhaneswara SD Global Islamic School (Medali Perunggu)
  3. Amara Khairunnisa Dinata SD Pertiwi Bogor (Medali Perak)

Lomba Tim               : Trophy Champion dan 4 medali emas

Lomba Grup             : Trophy 1st Runner Up

Juara Umum            : Peringkat ke-2 dan mendapatkan 4 medali perak

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Tim Indonesia B (KPM)

Lomba Individu:

  1. Danish Muhammad Putra Amiftama SD Negeri Rawamangun 12
  2. Muhammad Zaky Amani SD Jakarta Islamic School (Merit)
  3. Fransiskus Yuan Tanujaya SD Taman Rama School Denpasar (Medali Perunggu)
  4. Teuku Arkansyah Ali SD Negeri Rawamangun 12 (Merit)

Lomba Tim               : Trophy 1st Runner Up dan 4 Medali Perak

Lomba Grup             : -

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 

Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Tim Indonesia A (Kemendikbud)

Lomba Individu:

  1. Gabriela Erin Mariangel SMP Santa Ursula (Medali Perak)
  2. Valenti Iverson SMP Sutomo 1 Medan (Medali Emas)
  3. Kanaya Padma Yudewo SMP Negeri 2 Depok (Medali Perunggu)
  4. Justin Adrian Halim SMP PL Bintang Laut Surakarta (Medali Emas)

Lomba Tim               : Trophy Champion dan 4 medali emas

Lomba Grup             : Trophy Champion

Juara Umum            : Peringkat ke-3 dan mendapatkan 4 medali perunggu

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 

Tim Indonesia B (Kemendikbud)

Lomba Individu:

  1. Andrew Daniel Janong SMPK 4 Penabur (Medali Perak)
  2. Febrian Dwi Kimhan SMP Islam al-Azhar 5 Cirebon (Medali Perunggu)
  3. Samuel SMPK Angelus Curtos (Medali Perak)
  4. Ferdinand Halim Santoso SMP Kristen Kalam Kudus (Medali Perak)

Lomba Tim   : Trophy 1st Runner Up dan 4 Medali Perak

Lomba Grup : Trophy 1st Runner Up

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 

Tim Indonesia C (KPM)

Lomba Individu:

  1. Gede Bagus Nanca Khrisnayukti SMP Negeri 1 Kuta Bali
  2. Nadia Azzahra Putri Arvi SMP Labschool Jakarta                 
  3. Pikatan Arya Bramajati SMP Negeri 2 Purwokerto (Merit)            
  4. Farrel Dwireswara Salim SMP Kharisma Bangsa Banten (Medali Emas)

Lomba Tim   : Trophy 1st Runner Up dan 4 Medali Perak

Lomba Grup : Trophy 2nd Runner Up

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 

Tim Indonesia D (KPM)

Lomba Individu:

  1. Reyfandi Nawal Pratama SMP Negeri 115 Jakarta            
  2. Ainun Nadhifah Syamsiyah SMP Negeri 1 Surabaya              
  3. Muhammad Arif Wibisono SMP Islam Al Azhar 8 Kemang Pratama Bekasi (Merit)
  4. Muhammad Nadhif Haryadipta SMP Labschool Jakarta (Medali Perunggu)

Lomba Tim   : Trophy 2nd Runner Up dan 4 Medali Perunggu

Lomba Grup :  -

 

Sumber: Thyeadi Tungson/Litbang-KPM

Read more...

Tim Indonesia Raih Champion Pada Ajang International Teenagers Mathematics Olympiad di Davao, Filipina

Tim Olimpiade Matematika Indonesia meraih Champion baik untuk tingkatan siswa Sekolah Dasar (SD) maupun untuk tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada ajang International Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) ke-8 pada tanggal 08 s.d. 12 November 2017, di Davao, Filipina.

Bogorplus.com-Davao-Filipina. -- Tim Olimpiade Matematika Indonesia meraih Champion baik untuk tingkatan siswa Sekolah Dasar (SD) maupun untuk tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada ajang International Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) ke-8 pada tanggal 08 s.d. 12 November 2017, di Davao, Filipina. Pada ITMO 2017 ini Tim Indonesia yang terdiri dari Tim Kemendikbud dan Tim Klinik Pendidikan MIPA (KPM) berhasil meraih 12 medali Emas, 22 medali Perak, 13 medali Perunggu, 3 Trophy Champion, 5 Trophy 1st Runner Up, 2 Trophy 2nd Runner Up. Sebuah prestasi yang luar biasa diraih oleh Tim A SD dan Tim A SMP, dimana Tim A SD menjadi Juara umum ke-2 dan Tim A SMP menjadi Juara umum ke-3. Sebuah prestasi yang luar biasa juga ditorehkan oleh salah satu siswa yaitu Justin Adrian Halim dimana pada Lomba Individu, ananda berhasil mendapatkan full score. Kompetisi ini menjadi cetak prestasi yang luar biasa bagi siswa SD dan SMP di kancah Internasional.

International Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) merupakan kompetisi dua tahunan yang bergengsi di tingkat Internasional karena tingkat kesulitan soalnya yang tinggi yang membutuhkan penalaran yang kuat dalam pemecahan soalnya. Indonesia pada ITMO 2017 ini mengirimkan 4 Tim untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama dan 2 Tim untuk tingkat Sekolah Dasar yang terdiri dari 4 Team Leader, 4 Deputy Leader, dan 24 peserta. Semua peserta dibina oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Bogor dibawah asuhan pelatih Olimpiade Nasional dan Internasional, Raden Ridwan Hasan Saputra. Pembinaan yang dilakukan KPM bukan hanya bertumpu pada pembinaan akademik semata, tapi juga pembinaan spiritual, team building, Pendidikan akhlak dan karakter, pembinaan jasmani, dan rekreasi.

Kompetisi ini diikuti oleh 172 peserta siswa Sekolah Menengah Pertama yang dikelompokkan menjadi 43 tim dan 84 siswa Sekolah Dasar yang dikelompokkan menjadi 21 tim. Lomba ini diikuti oleh siswa-siswi terbaik dari 16 Negara yaitu Afrika Selatan, Bulgaria, China, Filipina, India, Indonesia, Iran, Kamboja, Malaysia, Mongolia, Nepal, Rusia, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Tiap Peserta mendapatkan 2 tes yaitu Lomba Individu dan Lomba Tim. Pada Lomba Individu untuk siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama mengerjakan 12 soal isian singkat dan 3 soal uraian dalam waktu 120 menit dan untuk siswa tingkat Sekolah Dasar mengerjakan 15 soal isian singkat selama 90 menit, sedangkan pada Lomba Tim baik siswa tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama dalam 1 team (4 orang) mengerjakan 10 soal, dimana 8 soal pertama dikerjakan secara individual setelah mendiskusikan soal mana yang dikerjakan tiap siswa selama 35 menit, dan 2 soal terakhir dikerjakan bersama-sama dalam waktu 25 menit. Lomba Grup adalah penghargaan yang diberikan pada tim dengan nilainya diperoleh dengan menggabungkan 3 nilai tertinggi dari nilai individu pada tim tersebut.

Salah satu peserta yang bernama Farrel Dwi Reswara Salim dari SMP Kharisma Bangsa Banten yang juga merupakan salah satu siswa KPM mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang bisa mendapatkan medali emas pada ajang ITMO 2017 di Davao, Filipina ini. Farrel mengatakan sebelumnya tidak menyangka akan mendapatkan medali emas, karena soal kompetisinya yang susah dan cut off yang tinggi. Kata Farrel lagi untuk mencapai ini dia melakukan latihan latihan rutin olimpiade di Sekolahnya yang dibantu oleh kakak kelasnya dalam belajar. Farrel juga memberikan tips agar bisa menghadapi soal Olimpiade maka harus banyak latihan

Ungkapan kegembiraan mendapatkan medali emas juga diungkapkan oleh Nisrina Fathiyya Nugraha siswa SDIT Nurrul Fikri. Nisrina mengatakan ia senang bisa meraih medali emas pada ajang ITMO 2017 ini. Nisrina mengatakan soal soalnya yang lumayan susah, membuat dia kurang percaya diri ketika awal mengerjakan soalnya, tapi berbekal persiapan diri mengerjakan soal soal kompetisi sebelumnya dengan bimbingan ibunya, dan mengikuti karantina di Klinik Pendidikan MIPA, maka dia bisa melewati kompetisi ini dan akhirnya mendapatkan medali emas. Tips dari Nisrina jika ingin bisa menjawab soal soal olimpiade maka harus lebih rajin dalam mengerjakan soal-soal olimpiade

Thyeadi Tungson yang merupakan pelatih tim KPM dan juga pelatih tim Kemendikbud mengungkapkan keberhasilan yang diraih oleh Tim Indonesia kali ini tidak terlepas dari pembinaan Suprarasional, Team Building, dan juga pembekalan karakter yang diberikan kepada peserta diluar materi latihan soal soal olimpiade matematika selama masa training center. Pelaksanaan lomba yang bertepatan pada Hari Pahlawan 10 November, juga dijadikan momentum oleh Tim Pelatih dengan memberikan semangat dan motivasi yang kuat kepada Tim Indonesia sebelum berlomba untuk bisa memberikan hasil yang terbaik bagi Bangsa dan Negara pada ajang ITMO 2017 ini.

JUARA PUZZLE CONTEST

Selain prestasi yang ditorehkan melalui Lomba Individu dan Lomba Tim, 4 orang peserta berhasil mendapatkan peringkat 8 besar dari 256 siswa yang mengikuti ITMO pada kompetisi puzzle “Tic tac Toe 3D” yang diadakan sehari sebelum kontes Individual dan Team. Adapun prestasi yang diraih adalah peringkat ke-3 atas nama Gabriela Erin Mariangel, peringkat ke-4 atas nama Justin Adrian Halim dan Pikatan Arya Bramanjati, dan Peringkat ke-7 atas nama Fransiskus Yuan Tanujaya.

Puji syukur ke hadirat Allah S.W.T, berkat rahmat dan kuasaNya tim Indonesia telah berhasil menorehkan prestasi gemilang ini pada International Teenagers Mathematics Olympiad 2017 yang diadakan di Davao, Filipina.

Sumber: Thyeadi Tungson/Litbang-KPM

Read more...

Cara Berpikir Suprarasional Merambah ke Filipina

Foto: Motivator Supra Rasional, Raden Ridwan Hasan Saputra tengah memberikan pelaihan cara berpikir supra rasional

Bogorplus.com-Davao-Filipina. -- Seisi ruangan dibuat terpukau dengan paparan Ir. R. Ridwan Hasan Saputra, M. Si. yang bertajuk Supra Rational in Teaching Math for Teacher. Sesi sharing disampaikan di hadapan 120 peserta seminar dengan latar belakang guru, kepala sekolah, dan para team leader dari berbagai negara peserta International Teenagers Mathematics Olympiad  2017 pada tanggal 10 November 2017 di Davao City, Filipina.

Selama ini ada asumsi keliru dari orang tua tentang makna pandai matematika. Matematika diasumsikan sekadar ilmu berhitung. Anak yang pandai berhitung, maka diasumsikan pandai bermatematika. Padahal esensi matematika bukan berhitung, tetapi kesepakatan terhadap aturan-aturan. Pak Ridwan HS menyebutnya dengan istilah ‘Matematika tanpa Angka’.

Dalam mengkaji matematika, para siswa diharapkan menyepakati dan mengikuti aturan dan setiap siswa tidak boleh melanggar aturan jika mereka tidak ingin mendapatkan hukuman atau disalahkan oleh gurunya. Sebenarnya dalam ruang kehidupan nyata pun, siswa diharapkan jadi sosok yang patuh pada aturan dan kesepakatan bersama. Matematika tanpa angka adalah pelajaran yang mengajarkan siswa menjadi orang yang taat hukum, norma, dan menjunjung tinggi nilai moral. Pak Ridwan HS mengatakan, “Sikap moral dan taat aturan merupakan wujud nyata dari tingkat spiritualitas dan kecerdasan emosional. Orang tua yang mengajarkan anak mereka norma dan moral yang baik sejak dini, maka orang tua tersebut hakikatnya sudah mengajarkan matematika tanpa angka.” Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA ini pun menyampaikan satu pesan penting kepada para peserta seminar, “Belajar norma dan sikap moral yang baik itu lebih penting diajarkan dan dididik lebih awal daripada belajar konten matematika”. Ketika anak belajar sikap moral yang baik, daya nalar anak akan meningkat dan membuat anak akan mudah memahami pelajaran matematika (matematika dengan angka) di sekolahnya.  

Virgil Y. Batos, salah seorang guru yang menjadi peserta seminar mengaku sangat tertarik untuk lebih mendalami ilmu suprarasional yang disajikan pembicara. “Cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir yang jika diterapkan akan membuat guru dapat memberikan layanan pembelajaran terbaik untuk para siswa. Mengajarlah dengan sepenuh hati agar siswa dapat terbantu untuk lebih menyenangi dan memahami pelajaran matematika. Matematika itu tidak sulit. Syaratnya, guru harus punya beragam strategi dan sikap mengajar yang baik. Itu hal penting yang saya dapatkan dari presentasi Pak Ridwan.”

Senada dengan ungkapan Virgil Y. Batos, seorang kepala sekolah bernama Concordia S. Talaid menyatakan rasa suka cita atas penyajian materi dari Pak Ridwan HS. “Topik materi tentang cara berpikir suprarasional sangat bermanfaat sebab saya menjadi semakin memahami cara yang harus dilakukan seorang guru untuk membuat para siswanya mencintai matematika. Saya juga sepakat bahwa anak-anak tak cukup hanya dipenuhi kebutuhan raganya (pangan, sandang, papan), tetapi harus dipenuhi juga kebutuhan jiwanya (beribadah pada Tuhan). Kebutuhan jiwa sangat penting bagi kehidupan anak-anak. Karena dengan memenuhi kebutuhan jiwa anak, mereka akan tumbuh menjadi anak yang sukses dan bahagia menjalani kehidupannya.” Bu Concordia menaruh respek pada sosok Pak Ridwan HS dengan gagasan ‘Cara Berpikir Suprarasional’-nya. Beliau tak puas hanya mendapatkan ilmunya sendirian. Dalam waktu dekat, beliau berencana mengundang Pak Ridwan HS untuk berbagi ilmu tentang cara berpikir suprarasional dalam konteks pembelajaran matematika bagi guru-guru, sesama rekan sejawatnya yang berprofesi sebagai kepala sekolah, bahkan merekomendasikan kepada para koleganya para dosen di universitas.

Tak dinyana, ide cara berpikir suprarasional sudah mulai merambah ke Filipina. Pak Ridwan berharap hal ini menjadi pertanda positif bagi dirinya dan Klinik Pendidikan MIPA untuk terus konsisten berkiprah dan menebar ilmu cara berpikir suprarasional di Indonesia bahkan di dunia internasional. Hal ini semakin meneguhkan keyakinan bahwa ilmu cara berpikir suprarasional bersifat universal dan dapat bermanfaat bagi semua kalangan lintas bahasa, lintas agama, bahkan lintas bangsa.

Read more...