Menu
RSS
Top Banner Nasional

Cara Berpikir Suprarasional Merambah ke Filipina

Foto: Motivator Supra Rasional, Raden Ridwan Hasan Saputra tengah memberikan pelaihan cara berpikir supra rasional

Bogorplus.com-Davao-Filipina. -- Seisi ruangan dibuat terpukau dengan paparan Ir. R. Ridwan Hasan Saputra, M. Si. yang bertajuk Supra Rational in Teaching Math for Teacher. Sesi sharing disampaikan di hadapan 120 peserta seminar dengan latar belakang guru, kepala sekolah, dan para team leader dari berbagai negara peserta International Teenagers Mathematics Olympiad  2017 pada tanggal 10 November 2017 di Davao City, Filipina.

Selama ini ada asumsi keliru dari orang tua tentang makna pandai matematika. Matematika diasumsikan sekadar ilmu berhitung. Anak yang pandai berhitung, maka diasumsikan pandai bermatematika. Padahal esensi matematika bukan berhitung, tetapi kesepakatan terhadap aturan-aturan. Pak Ridwan HS menyebutnya dengan istilah ‘Matematika tanpa Angka’.

Dalam mengkaji matematika, para siswa diharapkan menyepakati dan mengikuti aturan dan setiap siswa tidak boleh melanggar aturan jika mereka tidak ingin mendapatkan hukuman atau disalahkan oleh gurunya. Sebenarnya dalam ruang kehidupan nyata pun, siswa diharapkan jadi sosok yang patuh pada aturan dan kesepakatan bersama. Matematika tanpa angka adalah pelajaran yang mengajarkan siswa menjadi orang yang taat hukum, norma, dan menjunjung tinggi nilai moral. Pak Ridwan HS mengatakan, “Sikap moral dan taat aturan merupakan wujud nyata dari tingkat spiritualitas dan kecerdasan emosional. Orang tua yang mengajarkan anak mereka norma dan moral yang baik sejak dini, maka orang tua tersebut hakikatnya sudah mengajarkan matematika tanpa angka.” Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA ini pun menyampaikan satu pesan penting kepada para peserta seminar, “Belajar norma dan sikap moral yang baik itu lebih penting diajarkan dan dididik lebih awal daripada belajar konten matematika”. Ketika anak belajar sikap moral yang baik, daya nalar anak akan meningkat dan membuat anak akan mudah memahami pelajaran matematika (matematika dengan angka) di sekolahnya.  

Virgil Y. Batos, salah seorang guru yang menjadi peserta seminar mengaku sangat tertarik untuk lebih mendalami ilmu suprarasional yang disajikan pembicara. “Cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir yang jika diterapkan akan membuat guru dapat memberikan layanan pembelajaran terbaik untuk para siswa. Mengajarlah dengan sepenuh hati agar siswa dapat terbantu untuk lebih menyenangi dan memahami pelajaran matematika. Matematika itu tidak sulit. Syaratnya, guru harus punya beragam strategi dan sikap mengajar yang baik. Itu hal penting yang saya dapatkan dari presentasi Pak Ridwan.”

Senada dengan ungkapan Virgil Y. Batos, seorang kepala sekolah bernama Concordia S. Talaid menyatakan rasa suka cita atas penyajian materi dari Pak Ridwan HS. “Topik materi tentang cara berpikir suprarasional sangat bermanfaat sebab saya menjadi semakin memahami cara yang harus dilakukan seorang guru untuk membuat para siswanya mencintai matematika. Saya juga sepakat bahwa anak-anak tak cukup hanya dipenuhi kebutuhan raganya (pangan, sandang, papan), tetapi harus dipenuhi juga kebutuhan jiwanya (beribadah pada Tuhan). Kebutuhan jiwa sangat penting bagi kehidupan anak-anak. Karena dengan memenuhi kebutuhan jiwa anak, mereka akan tumbuh menjadi anak yang sukses dan bahagia menjalani kehidupannya.” Bu Concordia menaruh respek pada sosok Pak Ridwan HS dengan gagasan ‘Cara Berpikir Suprarasional’-nya. Beliau tak puas hanya mendapatkan ilmunya sendirian. Dalam waktu dekat, beliau berencana mengundang Pak Ridwan HS untuk berbagi ilmu tentang cara berpikir suprarasional dalam konteks pembelajaran matematika bagi guru-guru, sesama rekan sejawatnya yang berprofesi sebagai kepala sekolah, bahkan merekomendasikan kepada para koleganya para dosen di universitas.

Tak dinyana, ide cara berpikir suprarasional sudah mulai merambah ke Filipina. Pak Ridwan berharap hal ini menjadi pertanda positif bagi dirinya dan Klinik Pendidikan MIPA untuk terus konsisten berkiprah dan menebar ilmu cara berpikir suprarasional di Indonesia bahkan di dunia internasional. Hal ini semakin meneguhkan keyakinan bahwa ilmu cara berpikir suprarasional bersifat universal dan dapat bermanfaat bagi semua kalangan lintas bahasa, lintas agama, bahkan lintas bangsa.

back to top