Menu
RSS
Banner Top Pendidikan

22 Siswa Binaan KPM Jalani Karantina IMWIC 2016

Kegiatan karantina International Mathematics Wizard Challenge (IMWIC) 2016 di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan karantina International Mathematics Wizard Challenge (IMWIC) 2016 di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Bogorplus.com – Sentul, Bogor – Sebanyak 22 siswa-siswi dari kelas 1 SD hingga 8 SMP tengah menjalani karantina yang diberikan oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Ole Suites Hotel, Sentul, Bogor. Kegiatan karantina yang dilakukan sebagai pembekalan materi dalam menghadapi International Mathematics Wizard Challenge (IMWIC) 2016 yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 20 – 24 Juli 2016 mendatang.

Dari ke-22 peserta yang mengikuti karantina, terdiri dari masing-masing tiga orang siswa kelas 1 SD dan 8 SMP. Masing-masing  empat siswa kelas 2 SD dan 4 SD, serta masing-masing dua anak kelas 3 SD, 5 SD, 6 SD, dan 7 SMP.

 Selama karantina para peserta diberikan materi berupa soal-soal latihan untuk melatih kemampuan peserta dalam menganalisa soal. Selain itu, para peserta juga mendapatkan permainan-permainan yang membangun keakraban. Di samping itu, setiap pagi peserta diwajibkan mengikuti olahraga guna menjaga kesehatan badan.

Salah satu peserta karantina, Ananda Ugracena Dharmayoga yang diwawancarai tim Bogorplus.com mengaku senang mendapat kesempatan terpilih sebagai wakil Indonesia untuk mengikuti IMWIC 2016.

“Sangat senang disini mendapat ilmu baru, teman-teman baru, dan tentunya pengalaman baru. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan medali emas,” ujar siswa kelas 6 SD Adhi Mekar Indonesia ini.

Selain para peserta, terdapat beberapa orang tua siswa yang turut dalam karantina untuk menemani anaknya saat olimpiade di Bangkok nanti. Salah satunya yakni Luluk Jatmikowati Sudjarwo, ibunda dari Rossyane Allyna Rachim siswi kelas 2 SD Lazuardi Tursina Banyuwangi.

Luluk mengatakan putrinya belum terbiasa pisah dalam waktu yang lama dengan orang tuanya dan ini merupakan kali pertama putrinya mengikuti olimpiade tingkat internasional, sehingga ia dan suaminya turut serta ke Bangkok untuk mendampingi Rossyane. “Memang yang berkeinginan untuk mengikuti olimpiade ini anak saya, namun Rossyane mengatakan saya dan ayahnya harus ikut mengantar ke Bangkok,” ujarnya seraya tertawa.

Luluk sempat dibuat bingung karena takut pihak KPM tidak mengizinkan orang tua siswa turut mendampingi ke luar negeri. “Alhamdulillah KPM mengizinkan orang tua siswa kelas 1 dan 2 SD ikut mendampingi ke luar negeri, sehingga kami pun mengikuti rangkaian karantina ini,” imbuh Luluk.

Ia menambahkan karantina yang dijalani anaknya dapat menambah ilmu dan pengalaman positif sebagai bekal tak hanya dalam lomba namun juga ke depannya.

“Dalam karantina ini ada proses yang harus ia jalani dengan baik. Proses yang ia jalani tersebut membuatnya menambah pengalaman dan yang paling penting ia nyaman menjalaninya,” ujar Luluk.

Karantina IMWIC berlangsung hingga 19 Juli. Pada 20 Juli peserta dan beberapa pendamping dari KPM akan berangkat ke Bangkok untuk mewakili Indonesia sebagai peserta dalam IMWIC 2016.

Humas KPM

back to top