Menu
RSS
Banner Top Pendidikan

Mendalami Suprarasional, Alumni KPM Raih Beasiswa Penuh Kuliah di Singapura

Bogorplus.com. –  Kabar membanggakan datang dari Ryo Chandra Putra Armanda, anak ketiga dari tiga bersaudara ini adalah satu di antara sekian banyak alumni Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang telah dinyatakan lolos seleksi beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri (Singapura). Ryo, begitu ia biasa disapa, mendapatkan beasiswa penuh dari DR. Goh Keng Swee Scholarship untuk melanjutkan studi ke jenjang S1 bidang Computer Science yang menjadi pilihannya.

Perjalanan Ryo untuk mendapatkan beasiswa tersebut memang penuh perjuangan dan layak untuk diapresiasi. Saat diwawancara, Ryo berbagi pengalamannya secara eksklusif kepada tim bogorplus.com.

Capaian yang diraih Ryo memang tak mudah. Ia mengakui bahwa perjuangan yang dirasakan memang tak terlepas dari tempaan hidup ketika menempuh pendidikan di Klinik Pendidikan MIPA (KPM) binaan Raden Ridwan Hasan Saputra.

Foto: Ryo bersama Presiden Direktur KPM, Raden Ridwan Hasan Saputra

Belajar Selama 6 Tahun, Bekasi-Bogor (PP)

Mengawali pendidikan di KPM sejak tahun 2009-2015 memang tak mudah bagi Ryo. Naik turunnya motivasi belajar telah ia rasakan. Namun, hal tersebut tak membuat Ryo gentar hingga akhirnya tetap konsisten datang ke Bogor meskipun harus melakoni perjalanan tak singkat. Jalanan macet, cuaca panas, dan hujan merupakan kesusahan yang biasa ia hadapi bersama kedua orangtuanya. Belum lagi ketika harus belajar hingga larut malam (mengikuti kelas istimewa) bersama Pak Ridwan, maka tak jarang, pulang tengah malam pun selalu jadi pilihan Ryo.

Tak cukup sampai pulang tengah malam, Ryo pun masih harus mengikuti proses ujian (eliminasi) yang digelar setiap bulannya dan merasakan naik-turun level saat belajar. Kendati harus bersusah-susah, bukan menjadi alasan untuk mengeluh dan berhenti belajar. Justru sebaliknya, berkat dukungan orang tua dan sekolah, Ryo tetap melanjutkan pendidikan bersama KPM sampai dengan menjadi Alumni. Nah, Sahabat yang budiman, Jika menelaah dari kisah diatas, tersisip makna yang terkandung untuk jadi bahan renungan kita bersama. Pertama, asam garam yang dialami Ryo membuktikan bahwa perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Disamping itu, peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi faktor kunci atas keberhasilan seorang anak dalam menggapai prestasi.

Kedua, secara kelembagaan, KPM tak hanya mengajarkan tentang matematika saja. “Jauh lebih penting daripada sekedar belajar matematika, KPM juga mengajarkan bagaimana menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal tersebut menjadi pelengkap pengalaman saya secara fisik dan mental untuk berani melangkah lebih maju di masa depan,” kata Ryo yang merupakan peraih medali emas dan peserta terbaik di ajang KMNR ke-11 tahun 2016.

Menapaki “Panggung” Universitas

Perjuangan Ryo menuju panggung universitas dimulai saat mengenyam pendidikan di SMA Negeri 8 Jakarta. Pada akhirnya, anak dari pasangan Rudy Armanda dan Henny Suryani lulus dengan meraih peringkat pertama di sekolahnya. Setelah itu, lika-liku pun turut menghiasi perjuangan Ryo dalam meraih kesempatan masuk perguruan tinggi yang diinginkan. Ryo mencoba peruntungan dengan mendaftar di National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU). Beberapa hari setelah pelaksanaan tes, rupanya keberkahan mulai menghampiri Ryo. Ia menerima surat elektronik bahwa dirinya dinyatakan lulus di NTU dan NUS. Tak hanya lulus, Ryo juga mendapat Tuition Grant, artinya biaya perkuliahan hanya ditanggung 50% dan sisanya lagi merupakan subsidi dari pemerintah Singapura. Ryo juga menambahkan, tidak semua yang lulus mendapatkan Tuition Grant.

Foto: Ryo dan kedua orang tuanya

Perjalanan kisah perjuangan Ryo yang meraih beasiswa ternyata masih terus berlanjut. Kini ia mendapat kesempatan untuk meraih beasiswa penuh yang berasal dari Asosiasi Perbankan di Singapura dengan nama Dr. Goh Keng Swee Scholarship. Beasiswa ini diperuntukkan bagi mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan di empat perguruan tinggi ternama di Singapura, seperti: NUS, NTU, SMU, dan SUTD.

Untuk meraih beasiswa Dr. Goh Keng Swee Scholarship  memang tak mudah. Pasalnya, Ryo harus bersaing dengan peserta dari 15 negara di Asia Pasifik, termasuk Tiongkok, Jepang, Korea dan negara lainnya. Terlebih, beasiswa ini hanya disediakan untuk 4 orang. Sudah dipastikan, atmosfer seleksi sangat ketat hampir terasa disetiap sudut lokasi tes. “Tahap pertama adalah seleksi nilai akademis dan raihan prestasi non akademis serta leadership. Pada tes ini Ryo mengakui kerja keras menuntut ilmu di KPM dan raihan prestasi lomba-lomba yang diikuti sangat berguna untuk menjadi pertimbangan di seleksi pertama ini,” ujar alumnus SDI Al Azhar 9 Kemang Pratama dan SMPN 115 Jakarta. setelah itu, dilanjutkan seleksi tahap kedua. “Pada tahap ini saya mengikuti personality test yang dilakukan secara online,” imbuh Ryo. Sampai pada akhirnya, Ryo pun diundang untuk mengikuti interview langsung di Singapura. Saat proses interview, Ryo pun merasa kurang percaya diri melihat peserta dari negara lain. namun, semangat tekad yang tinggi tak membuat Ryo gencar. Justru, ia menghadapi dengan baik semua rangkaian tesnya.

Beberapa hari kemudian usaha Ryo pun akhirnya membuahkan hasil. Tepatnya tiga hari setelah tes, Ryo hendak berbuka puasa (bulan Ramadan),  seketika itu ia ingin mengecek surat elektronik dan ternyata ada informasi yang tak terduga dari lembaga Dr. Goh Keng Swee. “Alhamdulillah Ya Allah ini mungkin berkah Ramadan buat saya,” ujar Ryo. Rupanya, pekikan Ryo dan rasa penasaran Ryo terjawab sudah melalui surat elektronik dan dinyatakan berhak meraih beasiswa dari Dr. Goh Keng Swee Scholarship. Luapan rasa syukur pun dan haru tak terbendung dari ekspresi Ryo bersama keluarga yang pada saat itu tengah berkumpul.

Setelah dinyatakan lulus, berbagai ucapan selamat dan doa pun mengalir dari SMAN 8 Jakarta, dimana tempat Ryo mengenyam pendidikan, serta keluarga dan kedua orang tua yang telah membesarkan Ryo hingga saat ini. “Kami sebagai orang tua merasa bersyukur dan bangga dengan rezeki yang diterima anak kami karena Ryo berhasil melanjutkan pendidikan di tempat yang telah diimpikannya,” ujar Pak Rudy, Ayahanda Ryo.

Hal senada juga diungkapkan Ibunda Ryo, Henny Suryani. Sang Ibunda berpesan agar Ryo tetap menjadi pribadi yang taat beribadah agar selalu diberikan keberkahan selama hidup. Harapannya dapat membawa nama baik Indonesia. “Saya berharap semoga kuliahnya lancar dengan meraih prestasi yang membanggakan sehingga ketika lulus, ilmunya dapat diterapkan di tanah air."

Tabungan Jiwa (Pahala) Lebih Baik daripada Harta

Dalam istilah suprarasional, ada istilah tabungan jiwa. Pengalaman Ryo dalam menapaki dunia universitas merupakan cerminan konsistensi dalam merencanakan kesusahan dengan mengikuti pendidikan di KPM. Jarak yang jauh dari rumah dan waktu belajar hingga malam hari membuatnya menjadi sosok pelajar yang tangguh dalam menghadapi ujian.

Ryo Chandra Putra Armanda telah membuktikan bahwa hasil perjuangan yang telah  dilakukan bersama orang tuanya dalam koridor kebaikan. Maka, pahala kebaikan yang telah dikumpulkan tersebut dapat dikonversi sesuai kebutuhan yang pada saat itu diperlukan.

Menarik jika kita menyimak pesan Raden Ridwan Hasan Saputra dalam buku Suprarasional. “Uang hanya bisa digunakan untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat materi. Sementara pahala bisa digunakan untuk mendapatkan materi dan non-materi Jadi, kejarlah pahala untuk kebahagiaan hidup kita.

Tim Media

back to top