Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Mengkaji Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren

Foto: Ratusan peserta pesantren matematika tengah menyimak pemaparan Ustadz Salim Rasmid, tentang materi penguatan pendidikan karakter di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor, Selasa (26/12/2017)

Bogorplus.com-Kab.Bogor-Jawa Barat – Kehadiran Pondok Pesantren merupakan suatu magnet tersendiri dalam menciptakan generasi insan muslim yang berkualitas. Selain sebagai wadah menempa ilmu agama dan ilmu umum, lembaga pendidikan ini memiliki peranan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Para lulusannya diharapkan memiliki kesalehan yang  kokoh, jiwa kemandirian, dan berkepribadian mulia.

Pemerhati pendidikan karakter, Dwi Samto mengutip sebuah pesan tersirat apa yang disampaikan pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqien, Ustadz Salim Rasmid.  “Pesantren bukanlah sebuah hotel yang seluruh santrinya harus dilayani. Kita ketahui, dalam kesehariannya, pondok pesantren telah menanamkan panca jiwa sebagai program penguatan karakter para santrinya, seperti: keikhlasan, kesederhanaan, jiwa yang mandiri, ukhuwah Islamiah, dan kebebasan berkreativitas (dalam bingkai ke-Islam-an),” ujarnya disela-sela kegiatan pesantren matematika yang digelar Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor, Selasa (26/12/2017).

Pria kelahiran 38 tahun silam ini, menunjukkan kekagumannya terhadap cerminan perilaku para santrinya. Pertama, keikhlasan dalam menuntut ilmu. Dimana hal ini diwujudkan saat menerima nasehat dan bimbingan dari guru.

Kedua, kesederhanaan dalam bersikap. Dalam proses pembelajaran, para santri tidak diperkenankan menonjolkan sisi latar belakang keluarga, semua dipandang sama dan mengajarkan rendah hati dalam bersikap.

Ketiga, ukhuwah Islamiah. Seperti yang kita ketahui, warga santri di pesantren datang dari berbagai latar belakang dan golongan. Di sinilah keunikannya, semua bersatu dan berjamaah dalam bingkai akidah untuk menjunjung perbedaan.

Keempat, memiliki jiwa kemandirian. Para santri dididik untuk memiliki jiwa kemandirian, yakni mampu melayani diri sendiri dan mampu menyelesaikan permasalahan hidup, dengan tidak bergantung pada peran orang tua secara langsung.

Kelima, di pesantren para santri diberikan kebebasan berkreasi, melalui kegiatan ekstrakurikuler guna melahirkan kreativitas sesuai norma-norma ke-Islam-an

Foto: Salah satu bentuk penguatan pendidikan karakter melalui permainan kekinian (holahoop estafet) yang dimainkan peserta pesantren matematika

Diakhir kegiatan, ayah dua anak ini berpesan kepada peserta. “Dalam hidup, jika ingin meraih kesuksesan harus memiliki pedoman 3 M, yakni, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang.” tutupnya.

Sumber: Dwi Samto/FMS/RLDC

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com