Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Tiada Penguatan Karakter dan Revolusi Mental Tanpa Suprarasional

Oleh: Raden Ridwan Hasan Saputra

Mendung terus memekat. Dunia pendidikan semakin tersedak, yang aroma suramnya makin menyengat. Mulai dari kasus pornografi, narkoba, tawuran pelajar, penganiayaan guru oleh murid, perisakan antar sesama murid, dan narasi kekerasan dan perilaku buruk lainnya kini sudah masuk sekolah. Sekolah saat ini bukan hanya tempat anak belajar hal yang baik, tetapi juga tempat anak belajar berbagi pengetahuan dan praktik hal-hal yang buruk. Anak bisa berbahasa kasar, anak suka tawuran, anak mengonsumsi narkoba, anak terlibat pergaulan bebas, dan perilaku buruk lainnya bisa mereka lakukan karena pengaruh buruk teman lainnya di sekolah. Sekolah saat ini bukan hanya berfungsi sebagai taman belajar, tetapi juga hutan rimba. Banyak hal buruk yang bisa terjadi pada anak-anak ketika sedang belajar di sekolah.  

Masih banyak sisi positif yang ada di sekolah, tetapi sisi negatif pun sudah mulai semakin banyak bermunculan. Hal-hal positif tetap dipertahankan dan hal-hal negatif sebisa mungkin dikurangi atau bahkan dihilangkan. Tulisan ini merupakan ungkapan kegelisahan sekaligus sumbang pemikiran untuk memberikan inspirasi bagi para guru, orang tua, dan pemerintah bagaimana cara memperbaiki degradasi moral yang tengah terjadi di dunia pendidikan. Gagasan ini seiring dengan adanya Program Penguatan Pendidikan Karakter yang sedang dilaksanakan pemerintah. Semoga ide dalam tulisan ini bisa menyukseskan Program Penguatan Pendidikan Karakter sehingga terjadi perubahan perilaku dari para pelajar kita menjadi lebih baik dan bisa menjadi generasi muda harapan bangsa.

Makna Suprarasional dan Karakter

Salah satu solusi yang bisa dilakukan dalam rangka memperbaiki karakter pelajar Indonesia dilakukan melalui pendekatan cara berpikir suprarasional.  Seperti kita ketahui, manusia mempunyai tiga antena dalam kehidupan, yaitu panca indera, akal, dan hati. Manusia seharusnya memanfaatkan ketiga antena tersebut dalam kehidupannya agar hidupnya jauh lebih baik. Namun sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia terlalu berfokus pada pembinaan antena panca indera dan akal. Sementara antena hati jarang sekali diperhatikan dan dibina. Orang yang sering menggunakan antena panca indera adalah orang natural. Orang yang sering menggunakan akal adalah orang rasional. Orang yang sering menggunakan hati ada dua kelompok, yaitu orang supranatural jika mendapat petunjuk dari setan dan orang suprarasional jika mendapak petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir  menggunakan hati yang selalu terpaut dengan Yang Maha Kuasa. Ciri orang suprarasional adalah orang yang beriman dan gemar berbuat kebajikan. Orang tersebut akan rajin beribadah, baik ibadah yang berhubungan dengan Sang Pencipta maupun  ibadah yang berhubungan dengan manusia dan alam sekitarnya. Selain rajin beribadah, orang tersebut sekuat mungkin akan berusaha untuk menghindari perbuatan dosa.

Seperti kita ketahui pula bahwa manusia terdiri dari unsur jiwa dan raga. Jika kita renungkan, raga itu mempunyai kebutuhan. Begitu pun dengan jiwa. Selama ini kita yang kita pahami kalau kebutuhan primer manusia itu adalah sandang, pangan, dan papan. Padahal, ketiga hal tersebut baru sebatas kebutuhan primer dari raga. Kita jarang atau bahkan tidak pernah memikirkan dan memenuhi kebutuhan primer dari jiwa. Akibatnya, banyak orang yang kaya dan menjabat sebuah posisi yang bagus masih tetap korupsi. Hal ini karena ada kebutuhan hidupnya yang belum terpenuhi, yaitu kebutuhan jiwa. Kebutuhan primer jiwa adalah mengingat dan beribadah kepada Sang Maha Pencipta.

Dalam cara berpikir suprarasional, kita mengenal namanya tabungan raga dan tabungan jiwa (Saputra, 2018). Tabungan raga adalah tabungan yang berbentuk fisik, seperti tubuh kita, akal kita, uang kita di bank, rumah, tanah, dan berbagai hal yang berbentuk fisik. Tabungan raga ini bisa diketahui dengan panca indera dan akal. Tabungan jiwa adalah tabungan yang tidak berbentuk fisik, seperti energi positif, karma baik, pahala, dan hal-hal lain yang tidak bisa diketahui oleh panca indera dan akal. Tabungan jiwa hanya bisa diketahui oleh hati. Dalam cara berpikir suprarasional, tabungan jiwa bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan non-fisik (jiwa) atau fisik (Saputra, 2018). Contoh kebutuhan non-fisik adalah ingin mempunyai anak yang sholeh atau sholehah.

Makna karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan lainnya. Dalam pusat bahasa Kemenristek, karakter memilliki makna bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, tabiat, temperamen, watak. Menurut Dirjen Pendidikan Agama Islam Kemenag RI, karakter dapat diartikan sebagai totalitas cirri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik.

Hubungan Suprarasional dan Karakter

Ada hubungan yang sangat erat antara makna cara berpikir suprarasional dan makna dari karakter. Unsur jiwa menjadi unsur yang sama-sama terkandung dalam makna cara berpikir suprarasional dan makna karakter. Karena keduanya terkait dengan urusan perihal jiwa. Karena karakter erat hubungannya dengan jiwa, maka mengajarkan atau mendidik karakter harus dengan pendekatan hati terlebih dahulu, bukan dengan pendekatan akal atau panca indera. Dengan dasar pemikiran tersebut, maka penguatan pendidikan karakter harus dilakukan dengan pendekatan hati atau menggunakan cara berpikir suprarasional.

Berikut ini disajikan ilustrasi yang menunjukkan pentingnya cara berpikir suprarasional dalam upaya penguatan pendidikan karakter. Dalam cara berpikir suprarasional, perbuatan baik akan menambah tabungan jiwa. Tabungan jiwa sendiri sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Zaman sekarang, orang-orang enggan untuk melakukan gotong royong atau kerja bakti dalam rangka membersihkan lingkungan. Alasannya karena gotong royong atau kerja bakti tersebut tidak dibayar atau tidak ada uangnya. Sebab, saat ini orang lebih dominan menggunakan akalnya dimana segala sesuatu diukur dengan uang. Orang yang berpikir suprarasional akan berpikir kalau gotong royong atau kerja bakti adalah perbuatan baik yang akan menambah tabungan jiwa. Oleh karena itu, orang yang berpikir suprarasional akan bersemangat untuk melakukan kerja bakti walaupun tidak mendapat upah sekalipun.

Tolong cermati ilustrasi lain yang ingin saya jelaskan untuk membedakan pendekatan akal dengan hati. Misal, kita bekerja pada sebuah perusahaan di depan rumah kita dengan gaji sebesar 1 juta. Kemudian, ada perusahaan baru  yang jaraknya 300 meter dari rumah kita membuka lowongan kerja untuk posisi  yang sama dengan pekerjaan kita saat ini, tetapi memberikan gaji 27 juta atau 27 kali lipat lebih besar. Apakah kita akan pindah kerja? Jawabannya, kemungkinan besar kita akan pindah kerja. Sekarang bagi umat Islam, jika sholat di rumah mendapat pahala 1 derajat. Ketika sholat berjamaah di masjid yang jaraknya mungkin hanya 300 meter dari rumah, kita akan mendapatkan pahala 27 derajat. Mana yang lebih utama untuk kita pilih, sholat sendiri di rumah atau sholat berjamaah di mesjid? Seharusnya, banyak umat Islam yang rajin sholat berjamaah ke mesjid. Tetapi faktanya, banyak mesjid sepi dari aktivitas orang sholat berjamaah. Hal ini karena umat Islam kebanyakan jarang berpikir menggunakan hatinya, sehingga hatinya kurang cerdas. Dalam istilah lain, belum berpikir suprarasional. Rajin melaksanakan ibadah merupakan ciri-ciri karakter yang baik. Manusia akan rajin beribadah jika manusia tersebut berpikirnya suprarasional.

Pendidikan karakter ini akan terasa jika para pelajar hatinya hidup. Sebab dengan hatinya hidup, siswa tersebut akan termotivasi untuk berbuat baik dan merasa takut untuk berbuat jahat. Nilai-nilai karakter yang selama ini ditanamkan, seperti Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, Integritas atau 18 karakter bangsa yang pernah dikenalkan sebelumnya akan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari jika hati para pelajar ini telah hidup. Oleh karenaitu, dalam konteks penguatan karakter, tugas utama adalah menghidupkan hati para pelajar terlebih dahulu dan cara menghidupkannya adalah dengan cara berpikir suprarasional.

Cara berpikir suprarasional ini sudah dipraktikkan di lembaga pendidikan yang saya pimpin, yaitu Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Lembaga yang menerapkan bayaran seikhlasnya telah bertahan lebih dari 13 tahun dan telah menghasilkan anak-anak yang berbudi pekerti dan berprestasi. Prestasi yang diperoleh tidak hanya tingkat lokal, tetapi juga nasional dan internasional. Banyak orang tua di berbagai daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Serang mengantarkan anaknya untuk belajar di KPM. Alasan utamanya adalah agar anaknya berkarakter. Karena KPM mengutamakan pendidikan akhlak dalam proses belajarnya.

Tujuan Pendidikan Nasional dan Suprarasional

Tujuan pendidikan Nasional menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jika kita cermati, tujuan dari pendidikan nasional sangat erat hubungannya dengan aspek jiwa, seperti mengenai iman dan taqwa serta akhlak mulia. Oleh karena itu, cara berpikir suprarasional dibutuhkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Cara berpikir suprarasional ini tidak hanya harus dimiliki oleh murid, tetapi juga oleh guru, kepala sekolah, orang tua murid, orang dinas pendidikan, dan para pejabat. Sebab, para pelajar butuh contoh manusia-manusia suprarasional. Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan dan pelatihan cara berpikir suprarasional di berbagai kalangan sehingga cara berpikir suprarasional bisa diaplikasikan oleh berbagai kalangan.

Revolusi Mental dan Suprarasional

Jika dikaji lebih jauh lagi, cara berpikir suprarasional akan sangat berguna dalam gerakan revolusi mental. Selama ini kita memahami revolusi mental adalah perubahan pola pikir, sikap, dan prilaku yang mengacu pada nilai-nilai esensial bangsa (integritas, etos kerja, gotong royong) agar Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian di dalam budaya.

Perubahan pola pikir (akal), sikap, dan perilaku (panca indera) sangat erat hubungannya dengan kejiwaan seperti halnya integritas dan gotong royong. Oleh karena itu, revolusi mental ini sangat erat hubungannya dengan cara berpikir suprarasional. Oleh karena itu, revolusi mental akan berhasil jika dibarengi dengan cara berpikir suprarasional. Penyebaran revolusi mental yang hanya mengandalkan pendekatan akal dan panca indera tanpa menghidupkan hati akan sangat sulit terwujud.

Pengalaman di lembaga yang saya pimpin, yaitu KPM. Pada awal mula berdiri, banyak karyawan yang saya miliki hanya lulusan SMA swasta. Sementara masalah yang dihadapi melebihi kapasitas yang karyawan dimiliki. Melalui pendekatan suprarasional, teman-teman yang awalnya orang-orang biasa menjadi lebih teruji integritas, etos kerja, dan semangat gotong royongnya sehingga bisa membuat lembaga KPM dengan bayaran seikhlasnya bertambah maju. Padahal secara logika, lembaga dengan bayaran seikhlasnya seharusnya tutup atau tidak berkembang. Tapi karena cara berpikir suprarasional, proses perubahan seperti revolusi mental bisa terjadi di KPM yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak.

Penutup           

Perubahan suatu bangsa dimulai dari perubahan manusianya. Perubahan tersebut dimulai dari perubahan hatinya. Hati yang awalnya mati harus diubah menjadi hati yang hidup dan hidupnya hati ini harus selalu dalam bimbingan Yang Maha Kuasa. Penguatan karakter pada dari manusia akan mudah terwujud dan revolusi mental pun akan mudah dilaksanakan jika hati manusia selalu dalam bimbingan Yang Maha Kuasa. Cara berpikir suprarasional adalah ilmu yang membuat hati hidup dan selalu dalam bimbingan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, Program Penguatan Pendidikan Karakter dan Revolusi Mental seharusnya melibatkan cara berpikir suprarasional supaya tujuan bisa dan mudah tercapai dan Indonesia akan menjadi lebih baik.

Bogor, 29 April 2018

Raden Ridwan Hasan Saputra

Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM)

Tokoh Perubahan Republika 2013

Penulis Buku Cara Berpikir Suprarasional (Best Seller)

 

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com