Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Kesan Karantina IMWiC 2018 di Mata Peserta dan Orang tua

Bogorplus.com-Kota Bogor-Jawa Barat -- Klinik Pendidikan MIPA kembali dipercaya menjadi tuan rumah kompetisi matematika bertaraf internasional yang bertajuk International Mathematics Wizards Challenge. Tidak hanya menjadi tuan rumah, KPM juga mengirimkan 190 pelajar untuk berkompetisi pada ajang tahunan tersebut. Perhelatan yang diselenggarakan di Redtop Hotel, Jakarta, Indonesia akan bersaing dengan peserta dari dua negara lainnya, yakni Filipina dan Thailand.

Sebelum menghadapi event kompetisi pada sabtu (05/05/2018) mendatang, Klinik Pendidikan MIPA terlebih dahulu menggelar rangkaian seleksi di berbagai daerah untuk mencari peserta terpilih yang akan mengikuti IMWiC 2018. Selain seleksi langsung di daerah, panitia juga memilih peserta terbaik dari para finalis KMNR Se-Indonesia ke-13 yang sudah dilaksanakan pada minggu (15/04/2018) lalu.

Setelah melewati serangkaian tes, peserta IMWiC terpilih menjalani karantina yang bertempat di Hotel Permata Bogor dari tanggal 27 April - 04 Mei 2018. Di masa karantina, para peserta mengikuti pembinaan karakter, pembinaan sikap mental, dan pembekalan materi matematika.

Meski berlangsung relatif singkat, para panitia sukses menyatukan visi -misi para peserta yang heterogen, dari mulai kelas 1 SD - 9 SMP menjadi suatu tim yang solid. Bahkan di antara peserta dapat berbaur satu sama lain dengan para peserta dari berbagai daerah.

Tim pelatih KPM tidak berfokus mengejar gelar juara saja, kami juga fokus membina akhlak dan perilaku peserta. Karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk menentukan keberhasilan, selain daya juang belajar yang tinggi,” ujar Team Leader Indonesia, Ryky Tunggal Saputra Aji dalam kesempatan wawancara lewat telepon seluler, Selasa (01/05/2018).

“Selama karantina, panitia melihat bagaimana kedisiplinan dan kehidupan mereka sehari-hari. Seperti dalam hal ibadah, peserta diajak untuk taat pada ajaran agamanya masing-masing. Selain itu, hubungan sesama teman terlihat dari cara anak-anak bersosialisasi. Jadi, meskipun terasa singkat, hal tersebut menjadi cara yang cukup efektif untuk turut serta berkontribusi dalam upaya pembangunan sumber daya manusia yang Indonesia berkualitas,” tutur Pak Ryky.

Peserta karantina asal SDI Athirah Makassar, Amira Kaila Kaherani sangat senang selama menjalani karantina, meskipun baru pertama kali jauh dari keluarga.

“Rindu sama orang tua selalu ada, tapi selama karantina, saya senang dan rasa rindu terobati karena banyak bertemu teman baru, guru yang seru, dan ilmu baru,” kata siswi kelas 3 SD yang hobi baca buku dan berenang kepada tim bogorplus.com di hotel permata bogor, Rabu (02/04/2018).

Hal senada juga diungkapkan Naufal Zaki Falih, pelajar kelas 7 SMPIT As-Syifa Boarding School Subang yang mengaku senang dengan metode karantina bersama KPM. “Insya Allah jika ada kesempatan, saya ingin ikut serta lagi. Karena bukan hanya mengejar menjadi juara, di KPM diajarkan banyak hal positif tentang kehidupan,” ujarnya.

 

Kiprah KPM dalam ikhtiarnya mencetak generasi emas, turut mendapat dukungan positif dari salah satu orang tua, Hafid Kustanto. “KPM sendiri suatu lembaga yang menerapkan sistem diluar dari kebiasaan, salah satunya menggunakan sistem metode seikhlasnya (SMS) dan matematika nalaria realistik (MNR) yang menimbulkan kesan aneh bagi sebagian orang. Namun pada akhirnya, pertanyaan tersebut terpecahkan sudah, disaat bersamaan Pak Ridwan sering menggelorakan cara berpikir suprarasional. Saya dan keluarga menemukan suatu hal yang selaras dengan impian pelajar Indonesia", ujar Pak Hafid.

“Terkait lomba IMWiC, kami menganggap ini merupakan sarana rekreasi intelektual bagi anak kami. Jadi, tak ada salahnya jika setahun sekali kami menabung, menyiapkan, dan memberikan kesempatan anak kami untuk berwisata matematika dengan mengikuti lomba. Karena orientasi kami adalah untuk memperbesar tabungan jiwa (suprarasional),” tutup Pak Hafid Kustanto.

Tim Media

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com