Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Suprarasional dalam Menuntut Ilmu

Bogorplus.com. -- Ilmu pengetahuan itu sangat penting dimiliki setiap manusia. Sebagai manusia kita harus terus belajar karena Rasulullah pernah bersabda yang artinya menuntut ilmu wajib untuk setiap muslim dan muslimat. Namun kita harus tahu definisi ilmu dari kaca mata supraraasional, dimana Rasullulah bersabda yang artinya ilmu adalah cahaya, cahaya Allah tidak akan didapatkan oleh orang yang melakukan maksiat. Disini akan dibahas dari 3 poin besar cara berfikir suprarasaional , yaitu 1) Allah adalah tempat bergantug, segala tujuan hanya kepada Allah, 2) Merencanakan Kesusahan, dan 3) Pahala lebih baik daripada uang (Saputra, 2017). Imam Ghazali berpesan Bantinglah otak untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya guna mencari rahasia besar yang terkandung di dalam benda besar yang bernama dunia ini, tetapi pasanglah pelita dalam hati sanubari, yaitu pelita kehidupan jiwa.

Dari poin pertama Allah adalah tempat bergantung, sebagaimana tedapat dalam surat  Al Ikhlas ayat ke 2. Seorang pelajar tidak boleh melupakan poin besar ini, karena dengan paham pada poin ini maka akan ada kemudahan dalam mendapatkan ilmu. Dalam Al Quran Surat Al Baqorah ayat 32, Allah berfirman yang artinya Maha Suci Engkau (Allah), tidak ada yang kami ketahui melainkan apa-apa yang telah diajarkan kepada kami, sessungguhnya (Allah) Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya kepahaman yang kita dapatkan semata-mata atas karunia Allah subhana wata’ala. Sebagaimana juga disebutkan dalam surat Al Alaq ayat 5 yang artinya Dia (Allah) mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahui. Dalam surat Al Baqoroh tadi di akhir ayat disebutkan Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana, dimaksudkan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah Allah, karena Allah Yang Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana dimaksudkan Allah akan memberikan ilmu kepada siapa saja, tertutama orang-orang yang menghambkan dirinya kepada Allah. Konteks ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukan IQ yang tinggi melainkan kemampuan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana Sabda Rasulullah yang artinya, barangsiapa yang Allah hendaki mendapatkan semua kebaikan, niscaya Allah akan memahamkan dia tentang ilmu agama.

Kenapa harus merencanakan kesusahan? Bukankah Rosulullah pernah bersabda yang artinya tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Ini menunjukkan bahwa seoarang penuntut ilmu harus benar-benar mau belajar kemana pun dan harus bersusah payah. Yang diharus dipahami dalam merencanakan kesusuhan adalah dimana perilaku yang dilakukan dimata orang kebanyakan adalah sulit, tetapi hati dari pelaku (orang yang menuntut ilmu) dalam keadaan senang dan semata-mata karena Allah. Imam Syafi’I berkata ada enam perkara dalam menuntut ilmu, 1) kecerdasan, 2) Antusias (terhadap ilmu), 3) Kesungguhan, 4) Harta (bekal), 5) Belajar dengan guu, 6) Waktu yang lama (panjang). Kecerdasan disini bisa digolongkan menjadi dua bagian yaitu; Pertama Kecerdasan yang diberi oleh Allah dengan berupa kemudahan dalam memahami pelajaran dan sangat mudah dalam menghafal apa yang diberikan oleh orang lain, dan dia mempunyai hafalan yang kuat, Kedua Kecerdasan yang di dapat dengan usaha yang keras dengan rajin belajar dan giat menghafal. Semua orang punya kesempatan untuk melakukan ini, dan Allah melihat atas setiap ikhtiar yang dilakukan, jadi tidak perlu ragu untuk terus melakukan (merencanakan kesusahan), karena dibalik itu akan ada kemudahan.

Yang tidak kalah penting adalah pahala lebih baik daripada harta. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. Rasulullah bersabda yang artinya siapa saja yang mengadakan perjalanan untuk usaha menuntut ilmu, maka Allah akan menganugrahkan jalan ke surga. Bukankah surga lebih baik dari dunia dan isinya? Sebagaimana dalam hadits lain disebutkan, seseorang yang mempelajari satu bab dari suatu ilmu masih lebih baik nilainya daripada dunia dan isinya. Pahala yang didapatkan bisa dari berbagai aspek dalam belajar, Rasulullah bersabda yang artinya, ilmu laksana sebuah gudang, sedangkan kunci pembukanya adalah bertanya. Sesungguhnya, ada pahala bagi empat golongan manusia, yaitu orang yang bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengar, dan orang yang senang dengan kondisi mereka bertiga. Pahala orang yang berjihad dijalan Allah adalah dijamin masuk surga, para penuntut ilmu salah mujahid di jalan Allah, karena mereka sedang memerangi kebodohan yang berada dalam dirinya dan lingkungannya.

Oleh karena itu, para penuntut ilmu harus berfikir suprarasional karena semua sesuai dengan yang di anjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua fokus kepada Allah dalam menggapai ridho-Nya, rela berkorban (merencakanakan kesusahan) yang nantinya akan mendatangkan kemaslahatan untuk banyak orang, dan bukan mikirkan apa yang didapat (harta) tetapi apa yang bisa dilakukan (akan mendatangkan pahala). 

Ha Long-Vietnam, 22 Juni 2018

Teguh Imam Agus Hidayat

Litbang Klinik Pendidikan MIPA

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com