Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Pengembangan HOTS dan Suprarasional Jadi Ciri Khas Karantina Lomba KPM

Foto bersama saat sesi karantina di Padepokan Amir Syahrudin Klinik Pendidikan MIPA/Dok. Tim Lomba

Bogorplus.com-Kab.Bogor-Jawa Barat – Kombinasi antara pengembangan HOTS dan cara berpikir suprarasional menjadi menu utama pada program karantina tim Klinik Pendidikan MIPA dalam menghelat setiap karantina lomba, khususnya pada karantina 1st International Festival Mathematical Triathlon Apollonia (26 - 29 Juli 2018) dan Bulgaria International Mathematics Competition (01 - 06 Juli 2018). Para pelatih secara intensif menjalankan beberapa program persiapan jelang keikutsertaan dalam ajang kompetisi bergengsi di Bulgaria mendatang.

Padepokan Amir Syahrudin, Kantor Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang beralamat di Jalan Raya Laladon-Ciomas, dipilih sebagai lokasi training center tim KPM yang terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada tanggal 03 -  09 Juni 2018, sedangkan tahap 2 pada tanggal 21 - 25 Juni 2018 (SD) dan 24 -  30 Juni 2018 (SMP).

Hal tersebut diungkapkan Kepala Divisi Lomba KPM, Muchammad Fachri (Selasa, 26 Juni 2018). “Pasalnya, mengingat kompetisi yang akan dilakoni cukup berat. Maka, pembinaan dilakukan selama dua tahap agar para peserta dapat menyerap lebih banyak ilmu yang diberikan oleh para pelatih,” ungkap Fachri.

“Setiap hari ada jadwal yang harus diikuti peserta mulai bangun tidur, kegiatan pagi hingga istirahat malam. Di samping itu, tim pelatih juga telah memberikan menu soal-soal  latihan yang cukup beragam sesuai porsi kompetisi mendatang,” ujar Fachri.

Foto: Keakraban peserta karantina bersama Rezky Arizaputra (Kak Eki sapaan akrabnya) saat berbagi ilmu dengan peserta karantina. Ia merupakan alumni KPM yang tercatat sebagai Mahasiswa NUS, Singapura dan pernah mengikuti kompetisi BIMC tahun 2013. 

Pria alumnus Institut Pertanian Bogor ini menambahkan, meskipun cukup menantang, menurutnya karantina yang digelar KPM selalu memiliki makna tersendiri dan memberikan kesan mendalam sehingga membuat peserta menikmati proses karantina. Mengingat panitia juga menyajikan sesi olah raga, dinamika kelompok, eksplorasi, dan latihan bela diri untuk ditampilkan di Bulgaria.

“Meskipun memiliki agenda yang cukup banyak, masa karantina ini merupakan momen yang tepat juga untuk saling mengakrabkan satu sama lain agar menjadi tim yang solid,” tambah pria berkaca mata ini.

Foto: M Ilham Al Farisi tengah menikmati bermain "Tic Tac Toe" bersama teman karantina, Teuku Arkansyah Ali/ Dok. Tim Lomba

Karantina yang digelar selama dua pekan rupanya membuat salah satu peserta karantina, Muhammad Ilham Al Farisi mengaku cukup senang dan terkesan  mengikuti karantina bersama KPM. “Tempatnya nyaman, teman-teman seru (kompak), dan para pelatih juga sabar dan baik dalam memberikan materi. Di samping itu, hal yang berkesan yang tak bisa dilupakan adalah belajar, bermain, dan berjuang bersama dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda,” ujar peraih medali perunggu di Kompetisi Matematika Nalaria Realistik ke-13 Se-Indonesia ini.

Kemudian, anak keempat dari empat bersaudara tersebut mengutarakan harapannya agar sukses pada ajang di Bulgaria nanti. “Mohon doanya dari teman-teman dan keluarga, semoga tim Indonesia mendapatkan hasil terbaik,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pelatih sekaligus Staf Ahli Litbang, Thyeadi Tungson menuturkan bahwa dalam program karantina ini, para pelatih fokus terhadap materi-materi berbasis Higher Order Thinking Skills  (HOTS) dan dibekali simulasi pelaksanaan kompetisi. “Simulasi ini bertujuan untuk memprediksi capaian peserta selama karantina dan hasil lomba mendatang. ” katanya.

Foto: Kepala Pelatih, Thyeadi Tungson menyampaikan materi kepada peserta karantina BIMC 2018

“Program simulasi bukan hanya sebatas simulasi pertandingan saja, melainkan membuat suasananya seperti kompetisi yang sesungguhnya dan para peserta harus menyesuaikan diri dengan kondisi sebenarnya,” ujar Thyeadi Tungson.

Selain latihan materi matematika, tim KPM juga membekali ilmu tentang cara berpikir suprarasional selama karantina. Dengan adanya program khusus tersebut, peserta diharapkan dapat menyelaraskan 3 antena kehidupan yang akan menjadi faktor kunci menjadi siswa yang mampu berprestasi, yakni akal pikiran, panca indera, dan hati.

Menarik jika menyimak kajian R. Ridwan Hasan Saputra dalam bukunya 'Cara Berpikir Suprarasional' (2017). “Kesuksesan sebenarnya bisa diperoleh oleh siapa saja, terutama bagi orang-orang yang mau selalu menambah tabungan kebaikan dengan rajin beribadah menurut kepercayaan masing-masing serta bekerja keras demi menggapai ridha Tuhan Yang Maha Kuasa,”.

Banyak orang pintar, tetapi hidupnya tidak sukses. Di KPM, tak hanya menciptakan generasi pintar dan cerdas. Namun, generasi yang akan dapat memberikan perubahan positif bagi bangsa lewat pengembangan HOTS dan pengamalan cara berpikir suprarasional.

 

Tim Media

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com