Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Kisah Unik peraih medali Emas dan Perunggu bidang Sains IMSO 2018

 

Foto: Tim IMSO KPM saat tiba di tanah air, Terminal Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (04/10/2018)/Dok. KPM

Tangerang-Banten. – Dibalik keberhasilan tim IMSO KPM di Cina, rupanya tersisip cerita unik yang dapat dijadikan inspirasi meraih mimpi untuk pelajar di Indonesia. Ada pepatah mengatakan “Banyak Jalan Menuju Roma”. Peribahasa ini tepat disematkan untuk dua peserta  bidang sains tim Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang meraih medali di ajang International Mathematics and Science Olympiad  (IMSO) 2018 yang telah berlangsung sejak tanggal 28 September – 04 Oktober 2018 di Cina.

Fansen Candra Funata (SD Darma Yudha, Pekanbaru) dan Baruna Adi Sanjaya (SDI Teratai Putih Global, Bekasi), keduanya baru saja dinobatkan sebagai peraih medali emas (Fansen) dan medali perunggu (Baruna) kategori IPA di ajang lomba matematika dan sains tahunan tingkat internasional, IMSO 2018.

Setelah menjuarai event tersebut, rasa syukur dan haru terpancar dari keduanya. Pasalnya, ikhtiar yang diambil cukup panjang dan berliku hingga akhirnya bisa tampil di ajang IMSO 2018.

Tim Bogorplus.com secara eksklusif  melakukan wawancara setibanya mereka di tanah air, Kamis (04/10/2018).

Kisah pertama datang dari Fansen Candra Funata. Meskipun tak lolos mengikuti IMSO dari jalur OSN, tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berikhtiar menatap IMSO 2018. Fansen bersyukur, karena masih dapat diberikan kesempatan mengikuti IMSO melalui jalur  seleksi yang berbeda. Setelah mengikuti babak final Olimpiade Matematika dan Sains Indonesia (OMSI) ke-3 Se-Indonesia, pada tanggal 15 Juli 2018 yang digelar Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Bogor. Fansen lolos seleksi tim IMSO yang dilakukan oleh KPM setelah melalui beberapa tahap seleksi.

OMSI sendiri merupakan kompetisi bertaraf nasional yang mengkombinasikan tes ujian terhadap penguasaan bidang studi matematika dan sains. Lomba OMSI dibagi menjadi dua tahap, yakni babak penyisihan (27/05/2018) yang diikuti 3.137 peserta serentak di kota-kota besar di Indonesia dan babak final yang diikuti 476 siswa di Bogor.

Foto: Fansen Candra Funata (tengah), pelajar asal SD Darma Yudha Pekanbaru saat menerima penghargaan di ajang IMSO 2018/Dok. KPM

Selain menumbuhkembangkan semangat,  bakat serta minat anak-anak di bidang matematika dan sains, OMSI menjadi jalan pembuka untuk menyeleksi tim IMSO KPM yang tahun ini diselenggarakan di China.

Setelah dinyatakan lolos menjadi tim IMSO KPM, Fansen dan 11 peserta terpilih (6 matematika dan 6 sains), mengikuti kegiatan karantina menuju IMSO yang diselenggarakan KPM dalam dua tahap.

Yang menarik perhatian Fansen selama mengikuti karantina adalah pola dan sistem karantina yang digelar KPM. Ia mengaku bersyukur karena di KPM tak sekedar mendapatkan pembinaan materi IPA (bidang studi yang dilombakan). Namun, juga pembinaan karakter tidak kalah penting, yakni pembiasaan adab dan akhlak yang baik. “Inilah yang menjadi keunikan dan nilai tambah saya ketika belajar bersama KPM,” Ujar Fansen.

Fansen beserta kedua orangtuanya pun meyampaikan rasa terima kasih yang besar kepada pihak sekolah (SD Darma yudha) dan tim KPM yang telah mendukung dan membinanya hingga dapat berkompetisi secara maksimal dan mempersembahkan medali emas bidang IPA dari ajang IMSO 2018 ini.

Kisah kedua datang dari Baruna Adi Sanjaya, yang mengatakan sangat bersyukur kepada Allah Swt karena dapat menjadi bagian tim yang berlaga di IMSO 2018. Pelajar SDI Teratai Putih Global Bekasi ini juga memiliki pengalaman yang tak jauh berbeda dengan perjuangan Fansen.

Foto: Baruna Adi Sanjaya, pelajar asal SDI Teratai Putih Global, Bekasi yang meraih medali perunggu bidang IPA/Dok. KPM

Meski tak lolos seleksi OSN tingkat Kecamatan, Baruna akhirnya dapat mencicipi tiket IMSO 2018. Hal tersebut terjadi bukan tanpa perjuangan yang berat. Sama halnya dengan siswa lain, Baruna harus menempuh proses seleksi ketat dan harus bersaing dengan siswa KPM dari berbagai daerah untuk mendapatkan kesempatan mengikuti IMSO 2018. Meskipun Ia merupakan siswa kelas khusus KPM, tak membuatnya Jumawa. Baruna terus mengasah kemampuannya dengan terus berlatih dan belajar dengan tekun. Hingga akhirnya Ia lolos seleksi dan terpilih menjadi tim IMSO KPM.

“Tak hanya kegigihan yang kuat untuk menuju IMSO, Baruna juga dinilai sebagai pelajar yang memiliki adab dan akhlak yang baik,” ungkap Ibu Ina Ana Khoeriyah selaku Deputy Leader IMSO bidang Sains.

Kiprah dan perjuangan Baruna pun akhirnya membuahkan hasil. Berhasil mendapatkan medali perunggu, Baruna  mengungkapkan rasa syukurnya dan meyakini bahwa kesuksesan adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Tim Media

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com