Menu
RSS

Items filtered by date: February 2019

Pelajar Homeschooling Kak Seto Nikmati Belajar Matematika di Acara FMS

Foto: Pelajar Homeschooling Kak Seto nikmati program FMS/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Saat siswa mulai terlihat jenuh mengikuti pelajaran matematika di kelas, maka inilah saatnya untuk melakukan hal baru dengan cara belajar di luar ruangan. Ya, belajar di luar kelas tentu patut jadi pertimbangan untuk dicoba bagi insan pendidik. Seperti yang dilakukan pelajar Home Schooling Kak Seto (HSKS) yang menjajal program Fun Math and Science (FMS) Outdoor Learning bersama Klinik Pendidikan MIPA (KPM), di Kebun Raya Bogor, Kamis (14/02).

Permainan Tic Tac Toe 9 (pesan disini)

Rimbunan pepohonan dan kicauan burung di pagi hari menambah suasana benar-benar mendukung untuk kenyamanan belajar. Awal kegiatan dimulai dengan ice breaking “senam kuda” membuat suasana semakin hangat dan ceria.

Beragam permainan dan eksplorasi pun disajikan, seperti Tic Tac Toe, Ballon Race, Permainan Berlian Matematika, The Toxic, Logic, Bulldozer, hingga Permainan Matematika Bela Negara (PMBN) menjadi menu pembelajaran di hari itu.

Foto: Siswi Homeschooling Kak Seto bermain Tic Tac Toe/Dok. KPM

Daffa Hanif Padantya, salah satu siswa kelas XI jadi merasa ketagihan belajar matematika setelah mengikuti FMS. “Program FMS mengenalkan saya cara  menyenangi belajar matematika. Akhirnya saya menikmati dan ingin mencoba lagi permainan dan eksplorasi matematika,” ujar siswa yang memiliki hobi bermain musik ini.

Hal senada diungkapkan Xyla Ardhia Fiorina, dia merasakan manfaat mengikuti FMS. “Senang sekali, karena lewat permainan Logix dan Cube saya bisa belajar berstrategi,” pungkasnya.

Tim Media

Read more...

Pelajar Homeschooling Kak Seto Belajar Fun Math and Science

Foto: Pelajar Homeschooling Kak Seto ikuti Fun Math and Science di Kebun Raya/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Suasana semarak dan penuh keceriaan menghiasi salah satu sudut lokasi di Kebun Raya Bogor. Ratusan pelajar Homeschooling Kak Seto mengikuti kegiatan Fun Math and Science (FMS) Outdoor Learning  yang difasilitasi tim Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

Dalam keterangan persnya, Ryky Tunggal Saputra Aji, Kepala Bagian Pelatihan KPM menyatakan bahwa program FMS Outdoor Learning merupakan kegiatan pembelajaran di luar ruangan yang menekankan pada aspek 'active learning' dan 'fun'.

Pak Ryky juga berharap para peserta program FMS Outdoor Learning bisa lebih termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, jiwa kepemimpinan lebih terasah, dan para peserta dapat pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.

Belajar matematika dan sains di luar ruangan? Siapa takut!

Tim Media

Read more...

Tingkatkan Kompetensi Matematika melalui Acara FMS

 Foto: Pelajar Homeschooling Kak Seto menjajal permainan The Toxic/Dok. KPM

Bogorplus-Bogor, Jawa Barat - Fun Math and Science (FMS) Outdoor Learning merupakan salah satu program unggulan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) berupa kegiatan pembelajaran di luar ruangan yang menekankan pada aspek 'active learning' dan 'fun'. Karena kekhasan tersebut, para pelajar Home Schooling Kak Seto merasakan langsung konsep kegiatan FMS di Kebun Raya Bogor, Kamis (14/02/2019).

Home Schooling Kak Seto memiliki agenda Edu Trip. Di sisi lain, para pelajar home schooling Kak Seto punya kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi akademik, khususnya di bidang matematika. Untuk merealisasikan kedua hal tersebut, FMS menjadi pilihan paling tepat untuk diikuti para pelajar home schooling Kak Seto.

Nina Maryoeni, Kepala Homeschooling Kak Seto menyatakan tertarik bekerja sama dengan pihak KPM untuk melaksanakan program FMS agar kompetensi matematika anak-anak lebih berkembang. "Kami ingin kompetensi akademik anak-anak lebih baik lewat program Edu Trip. Setelah kami cari referensi, akhirnya kami bisa bersinergi dengan KPM."

Foto: Adu strategi dengan bermain Logix/Dok. KPM

Lebih lanjut beliau menjelaskan, harapan terbesar dari terlaksananya aktivitas program ini tiada lain agar kompetensi dasar matematika anak-anak bisa berkembang. "Saya mengamati beragam permainan yang disajikan bisa memfasilitasi proses pengembangan kompetensi anak-anak. Mudah-mudahan setelah acara ini, ilmu yang telah didapatkan bisa digunakan dalam kehidupan di sekolah, salah satunya peningkatan kemampuan nalar anak-anak dalam mengerjakan Soal-soal matematika." ujar Bu Nina Maryoeni.

Tim Media

Read more...

KPM Ciptakan Media Pembelajaran Karakter

Permainan Suprarasional Penguatan Karakter/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Tak ada kata mudah untuk mendidik karakter anak-anak bangsa. Perlu komitmen, konsistensi, juga kreativitas dalam menyajikan pembelajaran karakter yang tepat bagi anak-anak kita.

Atas dasar pemikiran tersebut, Klinik Pendidikan MIPA (KPM) merancang Permainan Suprarasional Penguatan Karakter (PSPK) sebagai media pembelajaran karakter. Teguh Imam Agus Hidayat dalam wawancaranya menyampaikan bahwa PSPK ini dikreasi untuk membantu anak-anak memahami 18 nilai karakter bangsa dan melatih keterampilan berpikir untuk bisa memenangkan permainan.

Permainan ini memiliki aturan yang menarik karena setiap peserta yang menolong peserta lain, dia mendapat hadiah lebih besar dari yang diberikan kepada orang lain. "Kami merancang permainan ini agar anak-anak tak hanya tahu dan paham nilai karakter bangsa, tetapi langsung mempraktikkan saat simulasi bermain PSPK," ujar Pak Teguh.

Beliau menambahkan bahwa nilai kepedulian sosial menjadi salah satu nilai yang disimulasikan dalam PSPK. "Kita berharap anak-anak menjadi pribadi yang suka menolong orang lain. Saat melihat kesusahan orang lain, mereka bergegas memberikan pertolongan," ujar Kepala Bagian Litbang KPM ini.

Tim Media

Read more...

Matematika dan Karakter Bangsa

Sumber foto ilustrasi: www.freepik.com

Matematika kadung dianggap pelajaran sulit dan menakutkan oleh sebagian besar anak-anak Indonesia. Padahal, matematika bisa menjadi sarana untuk melatih kecakapan berpikir. Di sisi lain, pembelajaran matematika yang bermakna bisa membangun karakter anak. Bagaimana mengubah persepsi negatif ihwal matematika sekaligus menjadikan matematika sebagai alat efektif untuk mengasah nalar dan membangun karakter anak bangsa?

Becermin pada studi internasional seperti Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Programme for International Student Assesment (PISA) yang mengukur bukan saja penyerapan pengetahuan, tetapi juga kecakapan berpikir dan mengolah pengetahuan, hasil studi mengerucut pada satu kesimpulan, siswa Indonesia tak cakap bernalar.

Rasa hirau kita patut terusik dengan kenyataan lemahnya kecakapan bernalar anak-anak kita. Karena kecakapan bernalar merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk hidup di abad 21. Oleh karena itu, belajar bernalar melalui bermatematika harus dilakoni. Dalam bahasa Tan Malaka, “Seorang... kalau sudah dilatih dengan silat yang baik, akan berbeda pandang langkah sikap dan tangkisannya terhadap serangan lawannya. Begitulah juga otak yang sudah dilatih oleh matematika, lain sikapnya terhadap suatu persoalan daripada otak mentah.”

Kekeliruan paradigma pendidikan matematika di Indonesia menjadi salah satu penyebab lemahnya daya nalar anak bangsa. Matematika dipahami hanya sebagai alat menghitung dan proses utak-atik angka tanpa makna. Anak yang pandai berhitung disimpulkan sebagai anak yang pandai matematika. Yang menyedihkan, anak-anak terposisi harus belajar matematika. Karena jika tak belajar matematika maka tak lulus ujian nasional atau tak bisa masuk sekolah favorit, misalnya. Motivasi eksternal yang rapuh dibangun pada diri anak-anak kita. Anak-anak kita sesungguhnya tak paham, untuk apa belajar matematika. Akhirnya, anak-anak kita tidak merasakan kenikmatan bermatematika.

Simpul terlemah terjadinya fenomena lemahnya kecakapan bernalar anak bangsa adalah pembelajaran matematika yang nirmakna. Oleh karena itu, pembelajaran matematika yang nirmakna mesti menjadi titik fokus yang harus dibenahi. Ciri pembelajaran matematika yang nirmakna ditandai dengan proses pembelajaran yang anti-dialogis, siswa hanya sekadar tahu rumus tanpa paham makna, dan belajar hanya untuk mencapai tujuan-tujuan praktis seperti agar lulus ujian nasional, mudah mencari pekerjaan dan dapat gaji saat bekerja, serta tujuan praktis lainnya. Akibatnya, generasi kita lemah bernalar dan kita gagal membangun sikap bermatematika yang baik pada diri anak-anak bangsa.

Belajar bermatematika setidaknya bisa mengembangkan tiga hal, yaitu pemahaman matematika, kecakapan bernalar dan berkomunikasi, serta menumbuhkan sikap intelektualitas, yakni sikap terbuka dengan pemikiran orang lain, menghargai pemikirannya sendiri, dan menghargai matematika sebagai hasil peradaban manusia (Pranoto, 2014). Proses penumbuhan sikap intelektualitas erat kaitannya dengan pembangunan karakter lewat bermatematika. Jika seseorang belajar matematika dengan baik, sejatinya akan muncul sikap konsisten, jujur mengakui kelemahan diri sendiri dan kekuatan orang lain, teguh pendirian, sabar menjalani proses, disiplin, percaya diri karena menghargai pemikirannya sendiri, tidak asbun (asal bunyi) dalam berpendapat, dan karakter lainnya yang bisa direkacipta lewat proses pembelajaran matematika penuh makna. Inilah tantangan pembelajaran matematika di sekolah dan di perguruan tinggi yang sesungguhnya.

Rustworth Kidder (Latif, 2009) menjelaskan bahwa aspek melekat (embedded) merupakan salah satu kualitas yang menentukan keberhasilan suatu program pendidikan karakter, “Jangan memberikan pendidikan karakter secara terpisah; jangan menciptakan semacam ghetto etik yang menempatkan pendidikan karakter pada suatu sudut kurikulum. Integrasikan hal itu kedalam seluruh rangkaian kurikulum dan proses pembelajaran. Guru tidak punya kemewahan waktu untuk mengajar mata pelajaran etik tersendiri, tetapi mereka bisa memberikan pesan etik pada setiap mata pelajaran.”

Guru matematika adalah pendidik karakter. Tak hanya memiliki pemahaman matematika yang bagus dan piawai membuat siswa gemar bermatematika, guru matematika pun mesti konsisten menunjukkan sikap berkarakter dalam keseharian. Pembelajaran matematika di kelas dijadikan ruang praksis penanaman nilai-nilai karakter. Guru mendesain pendidikan karakter berbasis kelas. Guru mengupayakan nilai-nilai karakter dipraktikkan, diperjuangkan, dan diintegrasikan dalam keseluruhan proses bermatematika di kelas. Akhirnya, selain memiliki penguasaan konsep matematika yang baik dan kecakapan bernalar yang andal, anak-anak kita pun memiliki kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang berkarakter.    

Peradaban kehidupan suatu bangsa tengah rusak. Hal ini terjadi karena adanya ancaman mematikan dari ‘tujuh dosa sosial’ yang jauh-jauh hari sudah ditengarai oleh Mohandas K. Gandhi. Salah satu dosa sosial yang kini menjadi warna dasar kehidupan kita adalah terjadinya fenomena pendidikan tanpa karakter. Oleh karena itu, kesadaran harus dibangkitkan. Yudi Latif pernah berujar, “Kejatuhan politik cuma kehilangan penguasa; kejatuhan ekonomi, cuma kehilangan sesuatu. Tetapi kalau kejatuhan karakter, suatu bangsa kehilangan segalanya”. Dengan belajar bermatematika, kita bangun karakter anak-anak bangsa. Hanya dengan cara itu, kita berharap kenangan masa lalu tentang kisah bangsa yang korup dan lemah daya saingnya dalam kompetisi antar-bangsa akan segera diakhiri.

Tulisan pernah dimuat di opini Republika edisi 28 Agustus 2018

Read more...

SMPIT Al Hidayah Bogor dan KPM Sepakati Pembukaan KMS

Foto: Serah terima MoU dari KPM kepada SMPIT Al Hidayah Bogor/Dok. KPM 

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – SMPIT Al Hidayah Bogor dan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) sepakat untuk membuka Klub Matematika Seikhlasnya (KMS). Hal tersebut ditandai dengan adanya penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) oleh kedua belah pihak, Rabu (13/02), bertempat di SMPIT Al Hidayah Bogor, Jalan Curug Nangka-Loa No. 26, Desa Sukajaya, Tamansari, Kab. Bogor.

Telah hadir edisi perdana SupraMagz. Silahkan download disini

Pertemuan yang berlangusng selama dua jam tersebut dihadiri Taufik Hidayah selaku tim Jaringan KPM dan Muhammad Sodik sebagai Kepala SMPIT Al Hidayah Bogor.

Muhammad Sodik menyambut baik dan mengapresiasi hadirnya Klub Matematika Seikhlasnya.

“Kami sangat menyambut baik kesepakatan pembukaan KMS. Kita punya kesamaan misi untuk memperbaiki SDM, salah satunya lewat pengembangan Matematika Nalaria Realistik (MNR) dan Sains Nalaria Realistik (SNR) di lembaga kami,” ungkap Muhammad Sodik.

Foto: Sosialisasi KMS dihadapan siswa SMPIT Al Hidayah Bogor/Dok. KPM

Lebih lanjut, Muhammad Sodik menuturkan pentingnya mengembangkan MNR dan SNR sebagai bagian dari dakwah. “Selain dari sisi peningkatan kompetensi akademik, mempelajari metode MNR dan SNR merupakan bagian dari ikhtiar dakwah. Karena jika manfaatnya semakin terasa, kita akan sebarkan kepada masyarakat luas,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Taufik Hidayah selaku tim KPM menyampaikan terima kasih atas terjalinnya kerja sama ini. “Semoga program MNR, SNR, dan cara berpikir suprarasional semakin tersebar manfaatnya." ujar Taufik.

Tim Media

Read more...

Ratusan Pelajar Ramaikan Event American Mathematics Competition

Foto: Pelaksanaan AMC 10 dan 12 di KPM Cabang Surabaya/Dok. KPM

Bogor, Jawa Barat – Sebanyak 120 pelajar ramaikan perhelatan American Mathematics Competition (AMC 10 & 12). Event tahunan ini kembali menunjuk Klinik Pendidikan MIPA (KPM) sebagai salah satu penyelenggara di Indonesia, Rabu (13/02/2019).

Kepala Divisi Lomba, Muchammad Fachri, mengatakan bahwa American Mathematics Competition adalah salah satu kompetisi internasional yang digelar di Indonesia. “Pada dasarnya, kompetisi AMC dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni AMC 8, AMC 10, dan AMC 12,” paparnya.

Foto: Pelaksanaan AMC 10 dan 12 di KPM Cabang Jakarta/Dok. KPM

Fachri juga menambahkan bahwa dipercayanya kembali KPM menjadi tuan rumah dalam AMC 10 & 12 ini, diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi para pelajar di Indonesia untuk mengasah kemampuan bernalar siswa dalam bidang matematika.

Selain itu, AMC juga diharapkan dapat memberikan tantangan lebih bagi kepada para pelajar kita mengingat tingkat kesulitan soal-soal yang disajikan relatif sulit. Adapun lokasi kegiatan AMC 10 & 12 tersebar di beberapa lokasi Cabang dan Mitra KPM seperti Bogor, Surabaya, Bekasi, Solo, Semarang, Depok, Jombang, Sukabumi, dan Jakarta.

Tim Media

Read more...

KPM Kembangkan Permainan Suprarasional Penguatan Karakter

Foto: Puluhan pelajar SDI Al Azhar 10 Serang melakukan simulasi Permainan Suprarasional Penguatan Karakter, Selasa (12/02)/Dok. KPM

Karakter tak cukup diajarkan, namun harus dididik. Proses pendidikan karakter perlu strategi efektif, termasuk penggunaan media yang tepat agar memudahkan anak-anak memahami sekaligus mengamalkan nilai-nilai karakter yang diyakini.

Berdasarkan teori piramida pembelajaran Edgar Dale (1946), 90% orang akan memahami sesuatu dari aktivitas yang mereka lakukan. Belajar pendidikan karakter dengan menggunakan media permainan menjadi pilihan tepat agar proses dan hasil belajar lebih efektif.

Foto: Permainan Suprarasional Penguatan Karakter (PSPK)

Permainan Suprarasional Pendidikan Karakter (PSPK) merupakan ide kreatif yang digagas oleh tim Klinik Pendidikan MIPA sebagai salah satu media untuk belajar pendidikan karakter. Permainan ini dirancang agar bisa dilakukan oleh siswa Sekolah Dasar sampah Sekolah Menengah Atas. PSPK bisa dimainkan oleh 2 -  4 orang. Lewat kegiatan simulasi, media PSPK dapat membantu anak-anak bisa mengidentifikasi 18 karakter bangsa serta mengembangkan kecakapan berpikir agar mereka punya strategi jitu memenangkan permainan.

Tim Media 

Read more...

Ketika Karakter Sang Anak Ditempa di KPM

Foto: Ridwan Hasan Saputra (kiri) dan Letnan Kolonel Inf Thomas Rajunio, B.S (kanan)

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Siapa yang tak ingin memiliki anak yang pintar dan berakhlak mulia? Namun, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kesungguhan ikhtiar.

Belum lama ini, salah satu perwira menengah TNI, Letkol Inf Thomas Rajunio, B.S, berbagi kisah pembinaan karakter yang dijalani putrinya di Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

Lembaga yang dipimpin Ridwan Hasan Saputra (RHS) ini mampu mengesankan hati Sang Danyon 315/Garuda. KPM telah menularkan ilmu positif kepada putrinya yang bernama Nashwa Umaiza Triashky. “KPM itu tidak hanya fokus bicara soal akademik saja," ungkap alumnus Prajurit Perwira Karir tahun 2001 ini.

Dia pun menjelaskan, KPM memiliki keunikan yang khas seperti adanya format tugas PR Akhlak, sistem bayaran seikhlasnya, dan penerapan cara berpikir suprarasional dalam kehidupan sehari - hari.

Sejak putrinya mengikuti kelas khusus KPM selama satu tahun, telah terjadi perubahan positif pada sang anak. Meskipun mesti menghadapi perjuangan yang tak mudah untuk mengikuti semua sistem pendidikan yang diterapkan KPM, pelajar kelas 5 SDI Al Azhar 20 Cibubur itu tetap menunjukkan konsistensinya untuk bisa mengikuti ritme belajar bersama KPM.

 “Saya sangat bangga dan bersyukur karena terjadi perubahan signifikan pada diri sang anak. Hati saya tersentuh ketika putri saya sering mengajak saya untuk melakukan aktivitas ibadah sunah seperti puasa Senin dan Kamis, bersedekah, dan melaksanakan salat dhuha,” ujarnya. Sungguh, sikap sang putri menjadi anugerah terindah bagi dirinya dan keluarga.

Tim Media

Read more...

Pedulilah pada Diri Sendiri dengan Berolah raga

Sumber foto ilustrasi: www.freepik.com

Mengusahakan kondisi fisik prima adalah tindakan cerdas yang dapat kita lakukan. Berolah raga akan membuat kita lebih segar, lebih sehat, dan lebih berenergi. Tubuh yang fit akan membuat kita lebih bahagia.

Dalam sebuah studi berjudul 'A Sytematic Review of The Relationship between Physical Activity and Happiness' yang dimuat di Journal of Happiness Studies, seseorang bisa merasa bahagia setelah berolah raga selama 10 menit. Kajian tersebut merupakan studi meta-analisis Zhang dan Chen yang mengungkap hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan kebahagiaan.

Meskipun demikian, Zhang dan Chen menyarankan ada penelitian lanjutan agar bisa menarik kesimpulan yang lebih tegas mengenai hubungan kausal antara aktivitas fisik dan kebahagiaan. Hal ini perlu dilakukan mengingat terbatasnya jumlah uji coba terkontrol secara acak.

Terlepas dari riset tersebut, pentingnya olah raga tidak diragukan lagi bagi kesehatan fisik dan mental. Apa pun motivasi kita untuk berolah raga, mulailah lakukan dan konsistenlah berolah raga. Pedulilah dengan kesehatan diri kita agar hidup kita lebih baik dan lebih produktif.

Tim Media

Read more...
ads by bogorplus.com
Kota Bogor Bottom