Menu
RSS

Items filtered by date: May 2019

Pendukung 01,02 dan Poros Suprarasional

Foto: Motivator Cara Berpikir Suprarasional, Ridwan Hasan Saputra (RHS)/Dok. Klinik Pendidikan MIPA

BOGORPLUS.COM-BOGOR-JAWA BARAT. - Menjelang tanggal 22 Mei 2019, suhu politik di Indonesia semakin memanas. Perbedaan pendapat antara pendukung 01 dan 02 makin meruncing. Tuduhan pemilu curang dari pihak 02 dan tuduhan akan ada makar dari pihak 01, membuat ketegangan antara kedua kubu  semakin tinggi. Jika tidak segera dilakukan antisipasi, jika kedua massa pendukung turun ke jalan dalam jumlah besar dan dalam kondisi berhadap-hadapan, sangat mungkin akan terjadi benturan yang menyebabkan banyak jatuh korban. Benturan pertama tersebut bisa jadi memancing benturan berikutnya di berbagai daerah. Sehingga korban akan semakin banyak, baik korban jiwa maupun harta. Konflik ini bisa merembet menjadi konflik antar ormas, antar etnis, dan antar agama yang berlangsung lama. Kondisi ini bisa merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, Indonesia terancam jadi negara gagal gara-gara pilpres ini.

Saat ini, kedua kubu merasa yang paling benar sesuai versinya masing-masing. Secara pribadi, saya berkeyakinan kalau 01 dan 02 pasti mempunyai niat yang baik untuk membuat Indonesia lebih baik. Jadi, buat saya siapa pun yang akan jadi presiden tidak masalah. Saya pun melihat di barisan pendukung 01 dan pendukung 02 sama-sama ada yang berlatar belakang ulama dan pemuka agama lainnya, ada muslim dan non-muslim, ada orang-orang dari berbagai etnis, ada purnawirawan pembela NKRI. Saya tidak bisa membagi pihak-pihak itu secara dikotomi, satu pihak pendukung budi luhur dan pihak lain pendukung angkara murka.  Saya tidak bisa membagi salah satu pihak sebagai pendukung anti Islam dan pihak lain sebagai pendukung Islam. Bagi saya, pendukung 01 dan pendukung 02 adalah saudara sebangsa dan setanah air yang kebetulan sedang bertengkar.

Jika dalam situasi ini rakyat Indonesia terbelah dua, yaitu sebagai pendukung 01 dan pendukung 02,  ibarat dua saudara yang bertengkar, tidak ada lagi saudara yang memisahkan. Apalagi sudah tidak lagi guru bangsa yang suaranya didengar oleh kedua belah pihak. Institusi negara pun sudah tidak dipercaya. Maka, kondisi ini memungkinkan adanya  pihak asing yang turut membantu memisahkan ketika konflik ini terjadi. Namun, tidak ada makan siang gratis. Sangat mungkin, sambil berupaya memisahkan, pihak asing tersebut mengkavling-kavling kekayaan alam di Indonesia, dan mengeruknya untuk kepentingan mereka. Akhirnya, yang rugi kita semua sebagai bangsa Indonesia.

Agar kemungkinan itu tidak terjadi, harus ada sebagian dari rakyat yang tidak memihak kedua kubu dan berperan sebagai penengah. Peran sebagai penengah ini bukan  secara fisik pada saat benturan terjadi, karena yang mempunyai hak dan kewenangan tersebut adalah aparat keamanan. Peran yang bisa dilakukan oleh sebagian rakyat Indonesia untuk menengahi benturan kedua pendukung ini adalah dengan membentuk “pagar gaib”. Apa yang dimaksud “pagar gaib”? Dalam cara berpikir suprarasional, ketika kedua belah pihak saling berprasangka buruk, maka yang terjadi adalah caci maki, fitnah, iri dengki, dan timbulnya perilaku buruk lainnya. Aktivitas-aktivitas tersebut membuat tabungan jiwa atau energi positif kedua belah pihak jadi semakin berkurang. Sehingga awalnya di antara mereka ada tabungan jiwa atau energi positif yang membentuk “pagar gaib” yang menghalangi gesekan atau benturan. Maka ketika pagar gaib itu sudah tidak  ada lagi, benturan itu pasti akan terjadi.

Oleh karena itu harus ada sebagian dari rakyat Indonesia yang membentuk pagar gaib baru. Bagaimana cara membentuk pagar gaib? Caranya adalah harus ada sebagian dari rakyat Indonesia yang konsisten meningkatkan keimanan, memperbanyak amal saleh, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menasihati dalam kesabaran. Praktik di lapangannya, dalam situasi ini harus ada sebagian rakyat Indonesia yang rajin pergi ke masjid,  ke tempat ibadah untuk mendoakan keselamatan bangsa. Harus ada sebagian dari rakyat Indonesia yang bersilaturahim ke berbagai elemen masyarakat untuk mengajak lebih bertakwa kepada Allah, lebih meningkatkan ibadah, untuk saling tolong -menolong, menjaga persatuan dan kesatuan. Jika hal-hal tersebut dilakukan, akan timbul tabungan jiwa baru atau energi positif baru yang bisa menjadi “pagar gaib” baru yang menghindari benturan.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan Bapak-Ibu semua di bulan puasa ini, marilah secara berjamaah kita tingkatkan iman dan takwa, melalui sholat berjamaah tiap waktu, membaca Alquran, i’tikaf di masjid, membayar  zakat, perbanyaklah amal saleh. Mari jadikan diri kita semua sebagai penyejuk situasi dan tetap lakukan aktivitas-aktivitas ini tidak hanya pada bulan Ramadhan, namun juga setelah bulan Ramadhan. Doakanlah bangsa ini agar selamat dari bencana kemanusiaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saat ini yang dibutuhkan bangsa ini adalah doa dari orang-orang saleh yang banyak beribadah. Sebagian rakyat Indonesia yang melakukan aktivitas ini saya menyebutnya sebagai “poros suprarasional”. Gerakan untuk membentuk “Poros Suprarasional” bisa dilakukan oleh aparat atau elemen bangsa yang peduli dengan keselamatan bangsa, dari mulai tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota/kabupaten, Provinsi dan Nasional. Jika lebih dari 50% rakyat Indonesia menjadi bagian dari “Poros Suprarasional”, Insya Allah apa yang disebut “goro-goro” tak akan berlangsung lama, bahkan mungkin tidak akan terjadi. Selain itu, bisa jadi “Poros Suprarasional”  memberi dan menjadi solusi tak terduga dari masalah bangsa yang dihadapi saat ini.

Insya Allah saya adalah bagian dari “poros suprarasional”. Apakah Anda juga termasuk salah satu di antaranya? Jika ya, mari perbanyak ibadah, amal saleh, dan berdoa untuk keselamatan bangsa ini.

JIka setuju dengan tulisan ini, silakan bagikan kepada yang lain. Semoga suasana pada tanggal 22 Mei menjadi lebih sejuk.

Wassalamu’alaikum wr wb

Kampung Matematika Laladon, Bogor, 13 Mei 2019

Read more...
ads by bogorplus.com
Kota Bogor Bottom