Menu
RSS

Items filtered by date: March 2019

Jati Diri Alumni Klinik Pendidikan MIPA

Foto: Presiden Direktur KPM, Ridwan Hasan Saputra (RHS) berbagi ilmu dan inspirasi kehidupan kepada Alumni KPM tentang motivasi cara berpikir suprarasional/Dok. KPM

Buku The Greatness Guide (2006) karya Robin Sharma, teman setia kemana pun penulis pergi. Ide tulisan dalam buku tersebut mengangkat hal-hal sederhana, namun berlimpah inspirasi nilai-nilai kebaikan. Dikisahkan dalam buku tersebut, ada seorang wanita mendekati Robin Sharma dengan berurai air mata dan berkata, “Robin, saya sudah membaca semua buku Anda dan mencoba semampu saya untuk menjalani kehidupan seperti yang Anda tulis. Namun ada seorang pria yang benar-benar hidup sesuai dengan tulisan Anda. Ia meninggal beberapa bulan lalu. Ia adalah ayah saya. “Lima ribu orang datang pada saat pemakaman ayah saya”, kata wanita itu. “Seluruh kota ada di sana. Saya merasa sangat tersanjung melihatnya.”

Robin terperanjat mendengar kisah wanita tersebut. “Apakah ayah Anda pebisnis terkenal?” tanya Robin. “Bukan,” jawabnya. “Seorang politisi yang populer?” tanya Robin ingin tahu. “Bukan,” wanita itu berbisik. “Apakah ayah Anda seorang selebritis?” “Bukan, Robin, sama sekali tidak.” “Lalu, kenapa ada 5.000 orang datang saat pemakaman ayah Anda?” tanya Robin.

Wanita itu terdiam lama. “Mereka datang karena ayah saya adalah seorang pria yang selalu memasang senyum di wajahnya. Ia adalah jenis orang yang selalu menjadi orang pertama yang menolong orang yang membutuhkan. Ia selalu memperlakukan orang dengan sangat baik dan selalu sopan. Ia menapaki dunia ini dengan begitu halus. Lima ribu orang datang pada saat pemakaman ayah saya karena ia orang baik.”

Ada sebagian orang menertawakan gagasan tentang menjadi ikhlas, jujur, ramah, sopan, baik, dan berbudi itu sebagai pertanda kelemahan. Penulis pikir tidak. Justru ini adalah tanda kekuatan. Mudah saja untuk bersikap egois. Mudah saja kita marah ketika orang lain tidak setuju dengan kita. Mudah saja kita menyalahkan orang lain atas kesalahan yang terjadi. Namun, butuh ketekunan dan kesabaran untuk mempertahankan sesuatu yang lebih tinggi, untuk berlaku lebih baik, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Sosok ayah yang sederhana dan  bisa membuat 5.000 orang hadir di acara pemakaman

Klinik Pendidikan MIPA (KPM) merupakan lembaga pendidikan yang setia menebarkan nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai kebaikan tersebut harus terus dijaga dan dilestarikan dengan cara diamalkan dalam kehidupan keseharian dan disebarkan kepada banyak pihak. Salah satu proses pewarisan nilai-nilai kebaikan dikomunikasikan kepada para alumni KPM.   

Presiden Direktur KPM, Ridwan Hasan Saputra secara khusus menyampaikan pesan kehidupan kepada para alumni KPM di sesi acara ‘Temu Alumni KPM 2019’. Besar harapan KPM, para alumni KPM tetap dapat terikat secara batin dan berkenan untuk menjadi agen-agen kebaikan ketika para alumni KPM melanjutkan studi dan berkiprah di dunia kerja. Berikut ini beberapa nasihat hidup dari Pak Ridwan Hasan Saputra untuk para alumni KPM, di antaranya:

  1. Jadilah orang yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
  2. Berkomitmen untuk melakukan perubahan dan perbaikan kondisi umat dan bangsa. Jika para alumni KPM hendak berkuliah, jangan diniatkan hanya sekadar untuk mencari kerja. Justru lakukan terobosan terbaru yang bermanfaat untuk umat.
  3. Rajin bersilaturahim. Silaturahim yang paling utama ke KPM. Jika sudah kuliah dan kerja dimana pun, mainlah ke KPM. Ceritakan kiprah dan pengalaman hebat saat kuliah dan bekerja kepada adik-adik di KPM agar mereka termotivasi untuk melakukan hal terbaik seperti kakak-kakak kelasnya di KPM. Kemudian, alumni KPM harus sering berjumpa tokoh-tokoh besar. Dengan sering jumpa tokoh-tokoh besar, secara tidak langsung kita akan mendapatkan inspirasi dan energi positif dari orang-orang hebat tersebut.

Setiap anak-anak Indonesia bisa menjadi alumni KPM. Syaratnya, mengikuti semua proses pembinaan belajar di KPM sampai tuntas. Namun satu hal yang pasti, tak ada kata mudah untuk bisa menjadi alumni KPM yang memiliki jati diri KPM. Cirinya, mereka orang-orang beriman, berilmu, berakhlak mulia, berkomiten menjadi agen perubahan bagi umat dan bangsa, serta rajin bersilaturahim dengan KPM dan orang-orang besar. 

Tim Media 

Read more...

Aulia UI Choriyah: Menebar Kebermanfaatan lewat Peran menjadi Guru

Foto: Aulia UI Choriyah (pertama dari kanan)/Dok.KPM

Bogorplus.com-Bojonegoro, Jawa Timur - Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kalimat ini menjadi dasar filosofi bagi Aulia UI Choriyah untuk menjalani pilihan peran hidup menjadi guru. Bagi Bu Guru Aulia, bermanfaat bagi orang lain bisa dengan berbagai cara. “Menjadi guru adalah cara menyenangkan dan sesuai dengan passion saya. Saya juga merasa punya tanggung jawab dengan generasi selanjutnya. Setidaknya, dengan ikhtiar saya menjadi guru bisa turut membangun generasi cerdas dan berkarakter.” tutur Bu Aulia.

Bu Aulia mengisahkan bahwa dirinya sudah bercita-cita menjadi guru sejak duduk di bangku SMP. Meski sering mendengar kisah duka menjadi guru, hal itu tak menyurutkan cita-citanya untuk tetap menjadi guru. “Alhamdulillah sekarang diberi jalan oleh Allah untuk menjadi guru. Bisa berbagi ilmu kepada anak-anak adalah kepuasan tersendiri bagi saya” ujar guru yang biasa disapa Ustazah di lingkungan KPM Bojonegoro.

Seusai lulus kuliah, saya mengikuti event karya ilmiah remaja. Saat itu teman Bu Guru Aulia yang menjadi pengajar di Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Bojonegoro memberikan informasi lowongan pekerjaan di KPM sebagai pengajar matematika. Awalnya Bu Guru Aulia ragu karena dirinya ingin mengajar di lembaga formal, bukan lembaga non-formal. Singkat cerita, Bu Guru Aulia memutuskan untuk mencari informasi lebih mendalam tentang sosok KPM. Dari proses penelusuran informasi yang mendalam tentang KPM, Bu Guru Aulia mantap memilih KPM karena di KPM memiliki ciri khas dengan metode Matematika Nalaria Realistik. Alhamdulillah saya bisa ikut semua rangkaian tes dan dinyatakan lolos menjadi guru di KPM Bojonegoro.

Tak ayal, Bu Guru Aulia sangat bahagia bisa berkiprah dan menjadi keluarga besar KPM. Secara fisik, KPM sangat memprioritaskan kesejahteraan guru. Secara batin, mengajar di KP menghadirkan kebahagiaan tersendiri. “Saya belajar hal baru tentang Matematika Nalaria Realistik. Selain itu, relasi yang terbangun di KPM bukan sebatas guru-murid atau guru-orang tua murid, namun kami sudah seperti keluarga. Kita memiliki ikatan emosional yang sangat erat.” ujar Bu Guru Aulia. Hal lain yang sangat penting dan membuat saya makin betah di KPM adalah nasihat dari Presiden Direktur KPM, Ridwan Hasan Saputra yang sering dibagikan kepada guru-guru di seluruh KPM cabang. Beliau sering mengingatkan kita tentang cara berpikir suprarasional, melibatkan Allah dalam segala amal perbuatan, dan selalu konsisten menebarkan kebaikan sesuai peran dan posisi kita masing-masing.

KPM dengan mengusung konsep pendidikan seikhlasnya dan berorientasi pada pendidikan adab dan akhlak bisa melahirkan para juara olimpiade matematika dan sains di level nasional dan internasional. Hal luar biasa yang mesti disibak hikmahnya. Semua hal tersebut yang membuat Bu Guru Aulia semakin nyaman dan membuat hatinya adem mengajar di KPM. Insyaallah ada ruh keberkahan di KPM yang membuat KPM akan terus berjaya sepanjang masa. Aamiin.

Tim Media

Read more...

Revi Elvira Rosanti: Meraih Keberkahan bersama KPM

Foto: Revi Elvira Rosanti (tengah)/Dok. KPM 

Bogorplus.com-Bojonegoro, Jawa Timur - Setiap guru memiliki motivasi sendiri dalam menjalani profesinya. Bagi Revi Elvira Rosanti, saat mengajar matematika, kita bisa memahamkan anak-anak tentang nilai-nilai kebaikan. Cara efektif untuk memberikan nasihat hidup salah satunya bisa dilakukan lewat mengajar.

Hal yang membuat Bu Guru Revi bahagia adalah bisa turun tangan mendidik generasi penerus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. “Yang paling membahagiakan itu saat melihat anak-anak yang semangat belajarnya tinggi. Atau, ada anak-anak yang awalnya lemah kemampuan matematikanya tetapi jadi membaik kemampuan matematikanya karena dia tetap suka matematika dan tidak menyerah belajar matematika.” pungkas penyuka membaca dan travelling ini. Beliau menjelaskan, ketika melihat perjuangan anak-anak mendapatkan apa yang mereka impikan, mendampingi mereka saat mereka gagal dan mencoba memberi semangat hingga mereka berhasil adalah proses yang sangat membahagiakan menjadi guru. Melihat anak-anak tumbuh dengan semangat belajar karena Allah, bagi Guru Revi, itulah inti kebahagiaannya menjadi guru.

Cerita perkenalan Bu Guru Revi Elvira Rosanti dengan KPM bermula saat ada tawaran menjadi guru KPM. Saat mengikuti tes, kualitas soal tesnya lebih susah daripada materi yang biasa diajarkan di sekolah. Terakhir baru dipahami, itulah kualitas soal yang menguji kecakapan nalar. Singkat cerita, Bu Guru Revi lolos seleksi di KPM Bojonegoro. Dari situ awal mula perjalanan Bu Guru Revi mendalami ilmu Matematika Nalaria Realistik.

Selama berkiprah di KPM Bojonegoro membuat Bu Guru Revi senang karena mendapatkan banyak ilmu tentang konsep rezeki, ilmu tentang dunia olimpiade matematika, banyak belajar ilmu kehidupan dari orang tua yang mendukung anak-anaknya berpartisipasi dalam lomba-lomba matematika. Selain itu, Bu Guru Revi mengakui memiliki saudara baru dari kalangan pembina olimpiade dari luar kota maupun wali murid dari berbagai sekolah yang belajar di KPM Bojonegoro, juga pengalaman luar biasa mengelola pelaksanaan lomba dengan jumlah peserta yang luar biasa banyak. “Berkah selalu untuk KPM.” doa Bu Guru Revi untuk KPM di akhir wawancara dengan tim Bogorplus. Aamiin.

Tim Media

Read more...

Bekal Hidup Guru

Sumber foto ilustrasi: www.freepik.com

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Jika kehidupan guru diibaratkan sebuah perjalanan, artinya guru membutuhkan bekal hidup agar bisa menempuh perjalanan sampai tujuan akhir. Kehidupan di dunia dan di akhirat, itulah rute perjalanan yang harus dilewati guru. Ada dua bekal hidup yang dibutuhkan guru, yaitu bekal ringan dan bekal yang utama.

Bekal ringan berwujud harta dan tahta. Bekal ringan yang pertama adalah harta. Dengan harta yang dimiliki, guru bisa berfokus mengajar dan mendidik. Guru yang berharta, tak tergoda memperjualbelikan ilmu untuk mendatangkan keuntungan materi.

Karena, guru yang kaya bukan dilihat dari ukuran kepemilikan harta tetapi dari kebesaran dan kejernihan jiwanya. Rasulullah SAW bersabda: “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta benda duniawi. Tetapi yang dikatakan kaya itu adalah kaya jiwa (hati).” (HR Muslim).

Carilah harta secukupnya sebagai bekal menjalani peran hidup sebagai guru. Jangan terobsesi menjadi guru yang kaya raya. Karena, bisa jadi harta yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada harta berlimpah tetapi melalaikanmu dari Allah SWT. Bekal ringan yang kedua adalah takhta.

Buku BEST SELLER Cara Berpikir Suprarasional Karya Ridwan Hasan Saputra, dapatkan di KPM Mart (pesan disini)

Untuk meningkatkan kapasitas diri, ada sebagian guru yang berikhtiar mengisi jabatan-jabatan struktural (kepala sekolah, pengawas, kepala dinas pendidikan, dan sebagainya). Dengan takhta, guru bisa menjadi pemimpin yang menggunakan jabatan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi dunia pendidikan. Jabatan jangan dikejar. Tetapi, jika guru diamanahi jabatan, pergunakanlah dengan penuh tanggung jawab.

Abu Dzar RA berkisah, ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasulullah SAW, apakah engkau tidak mau mengangkat saya sebagai pejabat?” Rasulullah SAW menepuk bahu Abu Dzar RA perlahan seraya bersabda: “Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, sedangkan kekuasaan/jabatan itu adalah amanat. Sungguh jabatan itu pada hari kiamat kelak adalah hina-dina dan penyesalan. Kecuali orang yang menerimanya melaksanakan tanggung jawabnya.” (HR Ahmad & Muslim).

Penulis: Asep Sapa'at (Litbang Klinik Pendidikan MIPA)/Dok. KPM

Mengapa harta dan takhta itu bekal ringan bagi seorang guru? Karena bekal ringan kerap menjebak guru lupa akan tujuan hidupnya yang hakiki. Mengumpulkan harta dan meraih takhta menjadi tujuan utama hidup, bukan menjadi alat perjuangan untuk mencapai ridha Allah SWT.

Jika hal ini terjadi, runtuhlah kehormatan dan kewibawaan guru di mata manusia, terlebih di mata Allah SWT. Lantas, apa bekal utama yang harus dicari dan dipersiapkan guru? Takwa. Karena, dengan bekal takwa, guru bisa meraih kemenangan yang sempurna di dunia dan di akhirat kelak (QS an-Nur: 52; QS Ali Imran: 148).

Di dunia, guru yang memiliki bekal takwa akan diterima semua amal kebajikannya dengan balasan pahala yang besar di sisi-Nya (QS Ali Imran: 172), memiliki jiwa yang tenang dan tenteram (QS al-Araf: 35), dihapuskan semua dosa di masa lalu serta mendatangkan ampunan dari Allah SWT (QS ath-Thalaq: 5; QS al-Anfal: 29), membuahkan kemuliaan dan akhir perjuangan yang membahagiakan (QS Hud: 49).

Di akhirat kelak, guru yang berbekal takwa akan diberi derajat tinggi dan martabat kemuliaan di sisi Allah SWT (QS Yunus: 2). Yang teristimewa, guru bertakwa akan dianugerahi oleh Allah SWT surga Jannatu Naim (QS Al-Qalam: 34) dan Jannatu Adn, surga-surga tertinggi sebagai tempat tinggal untuk selama-lamanya.

Firman Allah SWT: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga-surga Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan-Nya.'' (QS al-Bayyinah: 8).

Jika takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kemuliaan hidup dunia dan akhirat, mengapa kita tak pernah puas mengejar bekal ringan? Wahai guru, renungkanlah. Wallahu alam bishawab.

Tulisan pernah dimuat di Hikmah Republika edisi 15 November 2016.

Read more...

Saatnya Guru Berpikir Suprarasional

Foto: Pelatihan Suprarasional MKKS SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 04-05 Maret 2019/Dok. KPM

Bogorplus.com-Sidoarjo, Jawa Timur – Sebanyak 65 guru dan kepala sekolah SD/MI Muhammadiyah sangat antusias mengikuti pelatihan “Berpikir Suprarasional dan Metode Pembelajaran Matematika Nalaria Realistik(MNR)” bersama pencetus Metode MNR dan Suprarasional, Ir. Ridwan Hasan Saputra, M.Si.

Selama dua hari, tanggal 4-5 Maret 2019 di Auditorium Mas Mansyur SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo, semua peserta mengikuti pembinaan dan pelatihan dengan penuh semangat hingga sesi terakhir.

Pak Achmad Irjik, S.Ag selaku ketua MKKS SD/MI Muhammadiyah Sidoarjo mengutip ayat Al Quran di Surah Ar Rahman di awal pembukaan acara:

 

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

 فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

 

"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Beliau mengutip ayat ini untuk mengingatkan dan memotivasi guru bahwa mengajar harus mengedepankan niat ikhlas karena Allah. Selebihnya, setiap kebaikan dalam mengajar dan mendidik akan dibalas Allah dengan kebaikan yang lebih banyak sesuai janji Allah.

Senada dengan itu, Pak Ridwan mengingatkan guru bahwa dalam mengajar jangan hanya mengejar materi saja. Karena sejatinya, manusia hidup membutuhkan kebutuhan fisik/nyata dan kebutuhan metafisik/gaib. Kebutuhan fisik yang bisa dilihat secara kasat mata dan bisa dipenuhi dengan tabungan materi seperti sandang, pangan, papan.

Sedangkan kebutuhan metafisik/gaib seperti wibawa, anak saleh, pasangan hidup yang saleh/salehah tidak bisa dipenuhi dengan bayaran fisik/materi. Namun, hanya bisa dibayar dengan tabungan jiwa. Tabungan jiwa tersebut meliputi fisik, akal, dan hati. Tabungan itu bisa dicairkan atau ditukarkan dengan kebutuhan fisik saat dibutuhkan.

Ada kisah seorang ulama yang memiliki tabungan jiwa berupa akal seperti Imam As Syafi’i. Dengan kecerdasan akalnya dan ketawadhuannya terhadap gurunya menjadikannya seorang ulama yang disegani di zamannya. Bahkan, karyanya masyhur hingga kini dan menjadi rujukan dalil bagi umat Islam.

Lebih hebatnya lagi, ada seorang pemuda yang memiliki gabungan ketiganya, yaitu fisik, akal, dan hatinya. Namanya Muhammad Al Fatih. Ia menguasai bahasa Yunani dan 6 bahasa lainnya ketika berusia 21 tahun. Sebagaimana telah disebutkan di atas, pada usia itu pulalah A-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Ia melatih akalnya dengan belajar Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran. Ia pun menjaga hatinya dengan senantiasa melatih dirinya dengan karakter ksatria dan mendekatkan dirinya pada Allah dengan banyak beribadah.

Secara fisik, ia sendiri ikut berangkat ke medan laga saat perang. Sang sultan tidak gentar berperang melawan musuh dengan pedangnya sendiri. Tentu hanya orang yang berfisik kuat dan pemberani yang bisa melakukan peperangan di medan pertempuran.

Maka, jika seorang guru ingin mendapatkan kemuliaan dimata Allah, sudah saatnya mengajar tidak lagi berpikir mengejar materi saja. Namun, justru sebaiknya mulai merancang ulang dirinya untuk berpikir suprarasional dengan melatih fisik, akal, dan jiwanya.

Buku BEST SELLER Cara Berpikir Suprarasional Karya Ridwan Hasan Saputra, dapatkan di KPM Mart (pesan disini)

Latihan fisik, guru hendaknya rajin berolah raga agar tidak sakit-sakitan. Latihan akal, guru harus terus belajar. Jangan malas belajar agar tidak memalukan ketika tidak bisa menjawab pertanyaan siswanya karena kurangnya belajar. Kuliah lagi jika ada kesempatan.

Terus mendekatkan diri pada Allah untuk membangun jiwa dan kedekatan diri pada pemilik alam semesta dengan memperbanyak amalan sunnah diluar ibadah wajib. Dengan demikian, tabungan jiwa akan semakin banyak. Suatu saat ketika dibutuhkan bisa ditukarkan dengan kebutuhan nyata/fisik seorang guru.

“Alhamdulillah, ilmu matematika hanya efek samping, yang utama adalah ilmu suprarasional yang mengantarkan kita menuju sukses dunia akhirat”, itulah komentar Ibu Anna Mey Jayanti, salah satu guru SD Muhammadiyah 10 Balong Bendo.

Penulis: Abdullah Makhrus (Guru SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo dan Ketua Sekolah Center Muhamadiyah Sidoarjo)

Begitu pula komentar Zaenal, seorang mahasiswa yang kini juga menjadi pengajar Sekolah Center Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Sidoarjo yang mengatakan, “Saya pribadi sangat berterima kasih. Adanya pelatihan ini telah memberi pengalaman baru bagi saya. Pengalaman tersebut memacu saya agar lebih kreatif lagi menjadi seorang guru. Besar harapan saya agar pelatihan-pelatihan tersebut menjadi agenda rutin”.

Begitu banyak motivasi dan inspirasi yang didapatkan peserta pelatihan selama dua hari. Rasanya ilmu yang sudah dimiliki terasa masih kurang dan ingin terus belajar dan berharap akan ada pelatihan seperti ini di bulan-bulan berikutnya.

Read more...

Teguh Imam Agus Hidayat: Esensi Berhitung itu Bukan Menghafal

Foto: Teguh Imam Agus Hidayat, Litbang Klinik Pendidikan MIPA/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari hal-hal yang terkait dengan kegiatan berhitung. Sementara, tidak semua orang suka dan pandai dalam matematika. Melalui metode kotak-kotak, perhitungan matematika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian menjadi lebih mudah dipahami. “Berhitung itu tidak perlu menghafal”, tegas Teguh Imam Agus Hidayat, Kepala Litbang Matematika di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa metode kotak-kotak dirancang untuk mempermudah anak dalam berhitung. Metode yang tepat digunakan untuk menanamkan konsep dasar berhitung bagi para siswa kelas bawah (kelas 1 SD sampai kelas 3 SD) serta untuk orang yang tidak suka matematika. “Anak-anak bisa belajar dengan menggambar kotak-kotak, sesuatu yang konkret bagi anak-anak. Anak-anak langsung melakukan simulasi berhitung dengan kotak-kotak yang tersedia di lembar kerja.” pungkas pemilik gelar magister pendidikan ini.

Metode kotak-kotak merupakan hasil kajian Bapak Ir. R. Ridwan Hasan Saputra, M.Si dan Tim KPM yang telah diujicobakan di berbagai sekolah, pesantren, dan berbagai instansi. Metode yang sangat cocok untuk membantu anak-anak yang tidak suka matematika agar lebih mudah memahami perhitungan matematika. Anak-anak akan lebih menikmati dan senang belajar karena mereka diajak menggambar kotak-kotak terlebih dahulu sebagai strategi untuk berhitung. Proses menggambar ini akan membuat anak aktif membangun pengetahuan. Karena anak aktif membangun pengetahuan tentang konsep berhitung lewat metode kotak-kotak, pemahaman mereka tentang konsep berhitung bisa lebih baik daripada hanya dijelaskan oleh gurunya saja.

Jadi teringat dengan pepatah Cina, “Jika saya dengar, saya lupa. Jika saya lihat, saya ingat. Jika saya lakukan,  saya paham.” Tunggu apa lagi, segera praktikkan metode kotak-kotak untuk pembelajaran anak-anak kita! Selamat mencoba.

Tim Media

Dapatkan buku berhitung dengan metode kotak-kotak di KPM Mart (pesan disini)
Read more...

SMPIT Al Hassan Fokus Perkuat Pembelajaran Matematika Berbasis Nalar

Foto: Sosialisasi KMS di SMPIT Al Hassan Bekasi/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bekasi, Jawa Barat – Lembaga Pendidikan SMPIT Al Hassan Bekasi tengah fokus menggarap program peningkatan kualitas guru dan proses pembelajaran matematika berbasis nalar. Program tersebut hendak diwujudkan dengan cara membuka Klub Matematika Seikhlasnya (KMS). 

Hal ini disampaikan Kepala SMPIT Al Hassan, Arif Shohiburrohman saat membuka acara KMS yang digelar di Aula SMPIT Al Hassan, Sabtu (02/03).

Dalam program ini, SMPIT Al Hassan melibatkan kerja sama dengan tiga lembaga, yakni Ponpes Modern Al Hassan, Yayasan Averroes Center, dan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) selalu penggagas program KMS.

Foto: Sosialisasi KMS di SMPIT Al Hassan Bekasi/Dok. KPM

“Saya pikir sudah saatnya kita melakukan terobosan untuk memperkuat akademik, terutama dalam pelajaran matematika dan sains. Program KMS yang digagas KPM selaras dengan cita-cita lembaga kami. Program ini bisa memfasilitasi minat dan bakat anak sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing anak-anak dalam menjawab tantangan global,” tutur Arif Shohiburrohman.

Arif juga menambahkan pentingnya menyiapkan anak-anak sejak dini agar kelak mereka bisa menjadi calon ilmuwan besar. “Kita berharap, melalui program Klub Matematika Seikhlasnya (KMS) yang telah kita mulai pada tanggal 02 Maret 2019 ini, akan lahir generasi-generasi seperti para ilmuwan muslim sebelumnya, yakni Ibnu Sina, Ibnu Rusdy dan Al-Khawarizmi,” tutupnya.

Tim Media

Read more...

SDI Al Ikhlas Kembangkan Pembelajaran Matematika lewat Metode Kotak-Kotak

Foto: Peserta pelatihan matematika dengan metode kotak-kotak SDI Al Ikhlas Jakarta/Dok. KPM

Bogorplus.com-Jakarta -  Hingga saat ini, matematika kerap menjadi salah satu pelajaran yang menakutkan bagi sebagian pelajar. Oleh karena itu, para guru dan sekolah pun berikhtiar untuk mengembangkan inovasi pembelajaran matematika yang mudah dipahami oleh anak.

Baca juga: 

Klinik Pendidikan MIPA, Lembaga yang Tulus dan Unik

Presdir KPM Berbagi Pengalaman Hidup Suprarasional di Surabaya

Untuk mengatasi persoalan tersebut, SDI Al Ikhlas Jakarta memiliki strategi jitu agar pelajarnya mendapatkan pengalaman berbeda dalam menyelesaikan soal matematika, yakni dengan menggelar pelatihan matematika lewat metode kotak-kotak bagi para gurunya, bertempat di Aula SDI Al Ikhlas Jakarta, Senin (03/03).

Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 08.00-15.00 WIB, tim KPM menyajikan beberapa materi seputar masalah nyata, pemahaman konsep hingga sesi eksplorasi matematika lewat permainan kartu nara.

Foto: Trainer KPM, Teguh Imam Agus Hidayat/Dok. KPM

Wakil Kepala Sekolah bidang SDM, Elvi Yuliara mengungkapkan, keberadaan guru menjadi salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran matematika. “Di sinilah peran sekolah untuk memastikan kompetensi guru terjaga dengan baik agar dapat membekali siswa dengan metode yang tepat, salah satunya dengan mengembangkan metode kotak-kotak,” ungkapnya.

Guru kelas 4 SD ini juga berharap lewat pelatihan ini semakin menumbuhkan minat belajar matematika dan terciptanya proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.

Sementara itu, Agus Pratomo, guru kelas 3 SD ini terkesan dengan proses pelatihan bersama KPM. Ia pun tak sabar ingin mengaplikasikan ilmu yang telah didapat kepada para siswanya saat proses pembelajaran matematika di kelas.

Tim Media

Read more...

Klinik Pendidikan MIPA, Lembaga yang Tulus dan Unik

 

Foto: Presdir KPM, Ridwan Hasan Saputra (kedua dari kanan) menyambut Presiden RI, Joko Widodo saat menjadi tuan rumah International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) 2015, Kota Tangerang/Dok. KPM

Bagi kolega Ridwan Hasan Saputra (Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA), Drs. H. Mohammad Soleh, M. Ed. merupakan lembaga yang tulus dan unik karena didasari atas niat mencerdaskan anak bangsa dengan biaya seikhlasnya. Ini dituangkan dalam visi dan misinya. “KPM menerapkan metode integrasi ilmu dan karakter. Walaupun anak cerdas dalam ilmu, tetapi kurang berkarakter, dan sulit dibina, dengan tegas akan disingkirkan. Sebaliknya, anak kurang cerdas, tetapi berkarakter, akan diupayakan maksimal meningkatkan kecerdasannya,” paparnya.   

Menurut juri dan pembina olimpiade matematika Kemendikbud itu, KPM merupakan lembaga yang kreatif karena memiliki strategi hierarkis (penjenjangan) yang sangat cermat. Tujuan akhirnya adalah menemukan anak brilian yang layak ikut olimpiade internasional. Dari sini, maka dibukalah kelas bimbingan belajar reguler, dari reguler inilah dicari anak untuk masuk kelas istimewa, dan dari kelas istimewa inilah dijaring anak-anak brilian itu. “KPM itu menantang karena menantang guru untuk mencintai soal-soal problem solving melalui seminar dan uji diri. Dengan cara ini direkrutlah guru calon pengajar KPM,” terang Soleh.

Baginya, KPM itu telah menggurita karena telah mengembangkan cangkangnya di berbagai wilayah, kabupaten, dan provinsi, didahului dengan seminar filosofi metode seikhlasnya. Tak cuma itu, KPM juga telah mengglobal karena telah berhasil membuat jaringan internasional dengan mengikutkan siswa dalam olimpiade, summer camp, dan IMAS. “Sosok Pak Ridwan juga telah eksis sebagai expert matematika dari Indonesia dalam seminar dan pelatihan guru level internasional,” kata pria kelahiran Jakarta, 4 Mei 1949, itu.

Metode seikhlasnya yang diterapkan KPM ternyata membawa berkah. Menurut Soleh, kemajuan yang telah dicapai KPM saat ini merupakan bukti adanya keberkahan itu. “Rezeki datang dari suber tak terduga, sesuai dengan firman-Nya dalam QS. At-Thalaq: 3 yang artinya: ‘Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” papar Soleh.

Master pendidikan lulusan University of Bristol United Kingdom tahun 1990 itu berharap semoga Ridwan dengan KPM-nya membawa perubahan dalam pendidikan matematika di Indonesia menjadi lebih kreatif.

(Sumber: Buku Orang Bogor yang Mendunia dengan Keropak, 2015)

Read more...

Presdir KPM Berbagi Pengalaman Hidup Suprarasional di Surabaya

Foto: Presdir KPM Berbagi Pengalaman Hidup Suprarasional di Surabaya/Dok. KPM

Surabaya – Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang juga penulis buku best seller ‘Cara Berpikir Suprarasional’ hadir dan berbagi pengalaman hidup di aula gedung Fakultas Psikologi Unair Kampus B, Ahad (03/03/2019). KPM Surabaya merancang acara ini sebagai upaya strategis untuk memperkuat jaringan komunikasi serta proses membumikan gagasan suprarasional di internal KPM Surabaya.  

Baca juga: 

Seminar Suprarasional, Upaya Memperkokoh Jati Diri KPM

Acara seminar suprarasional ini dihadiri oleh seluruh orang tua siswa KPM, para guru dari Rumah Pendidikan MIPA (RPM) dan Klub Matematika Seikhlasnya (KMS) yang berada di bawah koordinasi KPM Cabang Surabaya. Ketua panitia seminar suprarasional, Abdul Aziz menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda program KPM Pusat untuk memberikan penguatan suprarasional bagi jaringan internal KPM di daerah-daerah.

Program ini sangat strategis untuk menyamakan visi dan gerak langkah semua elemen Sumber Daya Manusia (SDM) agar tetap bisa memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya dalam peningkatan kualitas pendidikan matematika dan sains. “Suprarasional merupakan sebuah cara berpikir yang kami yakini akan mampu mengantarkan pada kebaikan hidup. Oleh karena itu, kami ingin keluarga besar KPM di Surabaya makin memahami dan bisa menerapkan suprarasional dalam kehidupan.” ungkap Kepala Divisi Pelatihan KPM Surabaya ini. Abdul Aziz juga juga berharap para peserta seminar bisa turut menyebarkan ilmu suprarasional agar benar-benar berdampak pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Tim Media

Read more...