Menu
RSS

Items filtered by date: March 2019

Guru Suprarasional

Asep Sapa'at/Dok. KPM 

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Setiap guru memiliki masalah hidup dan kehidupan. Karena masalah itu, guru menjadi berkeluh kesah. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” (QS. Al Ma’arij: 19 – 20).

Bersikap keluh kesah saja tak akan menyelesaikan masalah hidup. Guru harus berpikir dan berikhtiar untuk mengatasi persoalan hidupnya. Raden Ridwan Hasan Saputra (2017) dalam bukunya yang berjudul ‘Cara Berpikir Suprarasional’, menjelaskan kiat penting untuk bisa menyelesaikan masalah hidup, bahkan untuk mendapatkan rezeki dari jalan yang tak terduga. Guru suprarasional memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan karyawan Allah yang gemar berbuat kebajikan.


Ingin tahu strategi mendapatkan rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka?, miliki dan pelajari buku cara berpikir suprarasional (pesan disini)

Guru yang menjadikan dirinya sebagai karyawan Allah tak akan gentar menghadapi masalah hidup. Firman Allah Swt: “Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Maidah: 120). Allah menjadi tempat bergantung para guru suprarasional atas segala masalah yang menimpa hidupnya. Karena kesadaran ini, guru suprarasional memahami antara tujuan hidup dan cara meraih tujuan hidup. Beribadah kepada Allah Swt adalah tujuan hidup. Sedangkan menjalani peran sebagai guru sebagai cara untuk meraih tujuan hidup sekaligus ungkapan rasa syukur dari seorang hamba kepada Sang Khalik.  Tegasnya, guru suprarasional bekerja untuk Allah Swt, bukan untuk makhluk. 

Dalam konsep cara berpikir suprarasional dikenal istilah tabungan jiwa. Tabungan jiwa merupakan tempat menampung energi positif, pahala, dan karma baik sebagai hasil dari perbuatan baik yang dilakukan (Saputra, 2018). Tabungan jiwa bersifat gaib. Tabungan jiwa bisa bertambah karena amal saleh yang dilakukan. Sebaliknya, tabungan jiwa pun bisa berkurang karena perbuatan dosa yang dilakukan. Jika guru memiliki tabungan jiwa yang banyak, kebutuhan yang bersifat fisik (pangan, sandang, papan, dan hal lain bersifat materi) dan kebutuhan yang bersifat non-fisik (memiliki keluarga yang harmonis, keturunan yang saleh, anak yang pandai, pekerjaan yang berkah, dsb) bisa dipenuhi.

Guru suprarasional akan selalu mengingat Allah Swt dalam menjalankan setiap amanahnya. Karena senantiasa mengingat Allah Swt, hidupnya selalu bersemangat untuk beramal saleh dan berusaha menghindari kemaksiatan. Guru suprarasional bekerja dari satu kebaikan ke kebaikan lainnya. Waktu hidupnya diberkahi Allah Swt.

Karena guru suprarasional menjaga hak-hak Allah, maka Allah menjaga dan membantu menyelesaikan segala urusan hidupnya. Sebaliknya, guru yang abai terhadap hak-hak Allah dan hanya mengejar urusan dunia, kemelut hidup akan terus menggelayutinya. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan empat macam penyakit kepadanya, yaitu: 1). kebingungan yang tiada putus-putusnya; 2). kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya; 3). kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi; 4). khayalan yang tidak berujung wujudnya (HR. Muslim).

Wallahu a’lam bishawab

Tulisan pernah dimuat di Hikmah Republika edisi 5 Juli 2018

Read more...

Suprarasional, Solusi Guru Mogok

Foto: Ridwan Hasan Saputra, Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Miris, ribuan guru honorer di Indramayu mogok mengajar mulai 15 oktober 2018. Mogoknya guru honorer ini sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap tidak peduli terhadap nasib mereka. Situasi mogok mengajar ini tidak bisa diperkirakan kapan akan berakhir (Republika, 15/10/2018). Fenomena mogok mengajar ini bisa jadi akan merembet ke berbagai kota lain di Indonesia. Jika hal ini dibiarkan terjadi, hal ini akan menjadi sebuah masalah besar. Menurut saya, dibalik kejadian ini, ada solusi besar yang harus dilakukan agar dapat menyelesaikan berbagai masalah guru di Indonesia.

Kisah Orang Bogor yang Mendunia dengan Keropak (ikuti kisahnya dengan memesan buku ini disini)

Sesungguhnya, guru adalah profesi yang sangat terhormat. Sebab guru bermakna digugu dan ditiru. Tidak ada profesi seperti itu, yang punya kekuatan luar biasa jika guru bisa menjalankan perannya dengan baik. Merujuk pada undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Tugas utama guru adalah mendidik. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah. Sebab, seorang pendidik akan berhasil mendidik anak ketika dirinya mempunyai nilai-nilai kehidupan yang baik. Nilai yang paling utama yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah moralitas dan kesetiaan kepada pekerjaan. Tugas mengajar adalah tugas kedua seorang guru setelah tugas mendidik. Banyak guru yang mengajar, tetapi tidak mendidik. Hasilnya, muridnya pintar tetapi perilakunya kurang baik. Jika guru tidak mau mengajar, maka otomatis guru tersebut tidak melakukan pendidikan. Sehingga dalam kasus guru mogok mengajar, guru telah meninggalkan dua pekerjaan yang sangat penting, yaitu mogok mendidik dan mogok mengajar.

Sikap yang dilakukan oleh para guru honorer ini bisa dimafhumi bersama karena mereka pun berhak untuk hidup sejahtera. Sebab, bisa jadi apa yang mereka lakukan sebagai guru honorer beban kerjanya sama atau bahkan lebih berat daripada guru-guru yang sudah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Sehingga para guru honorer ini menuntut kesamaan pendapatan atau minimal kejelasan pengangkatan sebagai ASN. Masalah lain yang muncul adalah anggaran negara bisa jadi belum mencukupi untuk bisa mengangkat para guru honorer ini secara besar-besaran. Belum lagi masalah teknis lain, apakah para guru honorer ini masuk kriteria untuk dijadikan ASN dengan kategori profesi guru atau pendidik profesional sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1. Masalah ini seperti mengurai benang kusut yang harus segera dicarikan solusinya.

Solusi masalah guru mogok mengajar bisa dibagi menjadi 2, yaitu solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang. Sebelumnya, mari kita lihat terlebih dahulu, mengapa sekarang bisa terjadi mogok kerja di kalangan guru honorer sekolah-sekolah negeri. Padahal, di kalangan dunia pesantren atau sekolah-sekolah yang berbasis organisasi keagamaan, tidak pernah kita mendengar guru-gurunya melakukan demo mogok mengajar. Padahal, bisa jadi gaji atau honor yang guru-guru itu terima sama atau bahkan lebih kecil dari honor guru honorer di sekolah-sekolah negeri. Begitu pula guru-guru honorer di zaman dahulu. Tidak pernah tersiar kabar ada demo guru mogok mengajar. Padahal, guru honorer zaman dulu jauh lebih sulit. Situasi ini akan berbeda seandainya perhatian pemerintah saat ini jauh lebih baik kepada para guru honorer. Jawabannya, menurut saya adalah keikhlasan menjadi guru.

Jika dilihat dari fenomena tersebut di atas, ada sesuatu yang harus dikaji terkait guru honorer saat ini. Para guru honorer saat ini kebanyakan adalah hasil pendidikan zaman sekarang yang orientasinya adalah materi. Dalam benak para guru honorer ini hampir bisa dipastikan tujuan menjadi guru orientasi utamanya adalah mencari uang, bukan pengabdian untuk membina generasi muda agar menjadi lebih baik. Sehingga tidak ada kesetiaan pada profesi, yaitu mendidik para muridnya. Hal ini bukan sepenuhnya kesalahan guru honorer, sebab mereka juga adalah korban hasil pendidikan yang lebih berorientasi pada materi. Nah untuk masalah ini harus ada solusi jangka panjang, yaitu mengubah kurikulum. Supaya pendidikan kita bisa menciptakan manusia-manusia yang tidak berorientasi pada materi semata, tetapi juga pada pengabdian bangsa dan negara. Nilai-nilai keimanan, dalam hal ini penyadaran tentang hakikat tugas manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai  tujuan hidup harus tertanam dalam hati peserta didik.

Solusi jangka panjang dapat dilakukan dengan cara mengubah cara pandang masyarakat terhadap guru. Jadikanlah profesi guru menjadi profesi yang terhormat dengan kesejahteraan yang tinggi dan kualitas manusia yang tinggi pula. Sehingga banyak anak-anak pintar dan bahkan terpintar di negeri ini pun berminat menjadi guru. Kemudian, pemerintah harus berani menghukum guru-guru yang terbiasa memanipulasi nilai rapor untuk keuntungan pribadi atau melakukan praktik jual beli nilai. Sehingga potensi anak-anak pintar menjadi terbengkalai. Hal yang sangat penting lainnya adalah pengelolaan guru harus dilakukan secara sentralistik oleh pemerintah pusat, tidak dilakukan oleh pemerintah daerah.

Solusi jangka pendek adalah membentuk guru suprarasional. Solusi guru suprarasional muncul berdasarkan pengalaman pribadi yang sangat mungkin bisa menjadi solusi umum. Solusi ini mudah dan murah untuk dilakukan. Saya pernah menjadi guru honorer di SMA Negeri di kota Bogor sekitar 3 tahun dari mulai akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an. Menjadi guru honorer kehidupannya memang sulit karena gajinya sangat kecil. Sehingga saya harus berangkat mengajar dengan cara jalan kaki daripada naik ojeg. Kemudian selepas mengajar, saya isi dengan kegiatan mengajar les privat kesana kemari sampai malam hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, puasa Senin Kamis sering saya lakukan untuk mencapai berbagai manfaat. Ternyata, setelah melakukan hal-hal tersebut, hidup saya tidak berubah. Perubahan hidup terjadi saat saya menjadi guru honorer justru ketika saya mengubah cara berpikir saya. Awalnya saya bekerja untuk mencari uang, lalu tujuan tersebut diubah hanya untuk mendapat ridho Allah. Cara berpikir itu, saya menyebutnya cara berpikir suprarasional.

Guru suprarasional adalah guru yang mengajar dengan tujuan untuk mendapatkan ridho Allah. Guru suprarasional adalah guru yang meyakini Allah yang memberikan rezeki, bukan pihak sekolah atau pihak pemerintah. Sehingga guru suprarasional tidak berpikir berapa gajinya yang diberikan pihak sekolah atau pihak yayasan. Saya jadi semakin meyakini kalau Allah Maha kaya. Karena selama 3 tahun saya menjadi guru honorer dan mengajar les privat hanya karena tujuan uang, ternyata hidup saya tidak berubah menjadi sejahtera, bahkan malah awet susah. Tetapi, setelah saya menjadikan Allah sebagai tujuan dalam mendidik dan mengajar, rezeki saya malah  terus bertambah. Padahal waktu itu, justru saya melakukan hal yang ekstrem, yaitu mengajar tanpa menentukan tarif atau bayaran seikhlasnya.

Menurut saya, cara berpikir ini harus dimiliki oleh para guru, baik para guru yang sudah menjadi ASN, guru honorer, bahkan guru di sekolah swasta. Jika para berguru selalu berharap kesejahteraan dari pemerintah atau yayasan, para guru harus siap kecewa. Sebab, pemerintah dan yayasan punya keterbatasan. Tetapi, jika para guru minta kesejahteraan kepada Allah yang Maha Kaya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka para guru tidak akan pernah kecewa. Mari kita anggap bahwa menjadi guru saat ini adalah bekerja kepada Allah dan Allah yang akan memberi upah pada kerja kita. Keyakinan seperti ini harus ditanamkan pada guru honorer sehingga tidak akan terjadi aksi mogok mengajar.

Solusi untuk mengganti guru honorer dengan TNI, POLRI, Guru Pesantren atau relawan pendidikan bukanlah solusi yang punya dampak jangka panjang bahkan membuat guru honorer menjadi semakin kecewa. Pemerintah harus menghargai pengorbanan para guru honorer selama ini. Solusi yang menurut saya paling tepat adalah memenuhi keinginan para guru dengan syarat mereka harus mengikuti pelatihan dan menjadi guru suprarasional terlebih dahulu sebelum mereka menjadi ASN. Jika mereka sudah menjadi guru suprarasional, mereka sudah tidak lagi menuntut untuk menjadi ASN. Sebab, rezeki dari Allah jumlahnya jauh lebih besar. Seperti saya, saya menyelesaikan tulisan ini di Langkawi Malaysia. Setelah saya mengajar guru-guru di Malaysia, saya bahagia meskipun saya bukan Aparatur Sipil Negara.

 

Tulisan pernah dimuat di Opini Republika edisi 17 Oktober 2018

Read more...

Menjalani Kehidupan dengan Ilmu Suprarasional

 Foto: Ina Ana Khoeriah/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat -Konsep Suprarasional mengajarkanku untuk bersedekah dengan keikhlasan sesuai kode yang kita inginkan dalam doa. Pak Ridwan (Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA) pernah berpesan, “Bersedekahlah atau beramallah sesuai kode yang kita inginkan. InsyaAllah Allah akan mengabulkannya dan memberikan yang terbaik terhadap pengharapan yang kita inginkan di waktu yang tepat. Pesan beliau salah satunya, “Bersedekahlah ilmu, maka akan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut”. 

Buku BEST SELLER Cara Berpikir Suprarasional Karya Ridwan Hasan Saputra, dapatkan di KPM Mart (pesan disini)

Ini salah satu kisah suprarasional yang terjadi dalam hidupku. Suatu hari aku meminta izin kepada suamiku untuk membelikan perlengkapan haji ibu mertua. Dengan penuh rasa haru, kusiapkan dan kurapihkan segala perlengkapan ibadah haji untuk ibu mertuaku. Kerinduan akan menginjakkan kaki dan beribadah di rumah Allah adalah impian dan doa dalam setiap sujudku. Tentu semua orang muslim di seluruh penjuru dunia pun pasti mengharapkan doa yang sama untuk bisa berkunjung ke rumah Allah.

Kujalani hari-hariku seperti biasanya. Berperan menjadi  seorang Ibu, istri, staf, dan guru di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Nyaris tak ada yang berbeda, hanya lebih menyerahkan setiap yang aku lakukan pada-Nya. Hingga suatu hari, tepat di hari Jumat 5 Oktober 2018, aku dan suami dipanggil oleh Presdir KPM. Pak Ridwan menyampaikan hal yang tak pernah kuduga, aku dan suamiku diminta bersiap-siap untuk berangkat umrah. Sontak sekujur tubuhku lemas dan merinding. Aku tak kuasa menahan tangis dan tak berhenti mengucap syukur. Apakah ini hadiah dari Allah karena ikhtiarku menyiapkan segala keperluan ibadah haji untuk ibu mertuaku?

Bagiku, semuanya tidak ada yang kebetulan. Allah akan memberikan rezeki-Nya di waktu yang tepat dan dengan jalan yang tak disangka-sangka. Yang harus kita lakukan sebagai hamba-Nya adalah beribadah dan terus berbuat dengan penuh keikhlasan. Maka janganlah lelah untuk hidup dan menjalani kehidupan ini dengan penuh keikhlasan.

Ilmu yang pernah ibuku dan Pak Ridwan ajarkan tentang ilmu suprarasional pun terus aku pelajari dan kujalani. Karena hakikatnya, semua manusia berkewajiban menuntut ilmu. Tentunya semua tindakan yang dilakukan di dunia pun harus dengan ilmu. Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam Al Quran, maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya ...” Kisah ini kuceritakan kepada anak-anakku agar jangan pernah menghentikan langkahnya menuntut ilmu dan semakin mengenal Sang Pemilik Ilmu dengan terus mempelajari serta menerapkan ilmu suprarasional.

Tim Media

Read more...