Menu
RSS

Items filtered by date: July 2019

Bermatematika Melalui Permainan Matematika

Foto: Peserta pelatihan MNR menjajal permainan Kartu Nara/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Disadari atau tidak disadari, matematika merupakan salah satu pelajaran yang ditakuti oleh sebagian besar anak-anak kita. Padahal, matematika justru sangat bermanfaat untuk mengasah keterampilan berpikir mereka. Persepsi matematika sebagai sesuatu yang menakutkan harus diubah. Tantangan bagi orangtua dan guru, bagaimana bisa memotivasi anak untuk belajar matematika?       

Pada dasarnya, anak-anak sangat senang bermain. Bermain merupakan dunia anak-anak. Dari pemikiran tersebut, kita dapat mengupayakan pendekatan pembelajaran matematika melalui permainan. Dengan permainan, kita dapat memulai atau memotivasi anak belajar matematika sehingga mereka akan tergugah untuk mempelajari matematika lebih lanjut secara sungguh-sungguh. Pada akhirnya, kita berharap anak-anak akan memahami matematika secara utuh.

Pada umumnya, permainan disenangi oleh anak-anak. Namun demikian, kita perlu menganalisis kebutuhan menyajikan permainan dalam pembelajaran matematika. Di samping itu, kita pun harus memahami kelebihan dan kekurangan dari setiap permainan matematika yang akan dipraktikkan dalam situasi pembelajaran.

Permainan dan teka-teki sudah diakui secara luas sebagai salah satu cara menggugah siswa untuk melek matematika (Kamii dalam Turmudi, 1997; Gardner dalam Within dan Wilde, 1992). Ernest (Turmudi, 1997) menjelaskan bahwa permainan mengajarkan matematika secara efektif karena empat hal, yaitu: 1) menyediakan penguatan dan latihan keterampilan; 2) menyediakan motivasi; 3) membantu akuisi dan pengembangan konsep matematika; 4) mengembangkan strategi pemecahan masalah.

Kartu Nara sarana bermain sambil belajar Matematika, minat? pesan disini

Permainan matematika berpotensi untuk mengasah nalar dan kemampuan pemecahan masalah karena menawarkan penggunaan secara fleksibel dari bermacam-macam strategi penyelesaian masalah seperti menemukan pola (look for pattern), menyelesaikan masalah secara mundur (working backwards), menebak dan menerka (guess and check), mengubah cara pandang terhadap masalah (changing your point of view), menyusun daftar secara sistematis (make a systematic list), mempertimbangkan atau meniadakan suatu kemungkinan yang dapat terjadi (eliminate possibilities), dan menyelesaikan masalah secara mundur (working backwards).

Lazimnya sebuah permainan yang menyenangkan dan dikenal anak-anak, mereka pasti mengetahui ada aturan permainan yang harus ditaati dan mereka harus mengetahui strategi untuk bisa memenangkan permainan secara konsisten. Posamentier dan Stepelman (1990) mengemukakan kesamaan antara strategi permainan dan strategi pemecahan masalah seperti yang tersaji dalam tabel berikut ini.

Strategi Permainan

Strategi Pemecahan Masalah

  • Baca aturannya.
  • Baca aturannya.
  • Pahami aturannya.
  • Apa yang diberikan dan apa yang dicari?
  • Kembangkan sebuah rencana
  • Tuliskan persamaannya.
  • Kerjakan rencana itu.
  • Selesaikan persamaan itu.
  • Jika kamu menang, tersenyumlah. Jika tidak menang, pikirkanlah mengapa kalah.
  • Periksalah jawabanmu.

 

Agar siswa bersikap positif terhadap matematika, maka perlu ada strategi yang menarik bagi siswa, memotivasi mereka belajar, memberikan rasa aman untuk belajar, dan menyenangkan bagi mereka. Permainan matematika bisa digunakan sebagai salah satu alternatif untuk melatih daya nalar anak lewat aktivitas yang disenangi anak. Selamat mencoba. 

Tim Media

Read more...

Pelatihan MNR & Kecakapan Bernalar Guru

Foto: KPM Gelar Pelatihan Matematika Nalaria Realistik/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Di satu sisi, matematika sangat berguna untuk melatih kecakapan bernalar siswa. Namun di sisi lain, sebagian besar siswa kita justru tak menyukai matematika. Kondisi ironi yang harus dicarikan solusinya. Klinik Pendidikan MIPA (KPM) melalui pelatihan Matematika Nalaria Realistik (MNR) berupaya memberikan kontribusi untuk meningkatkan kecakapan bernalar guru matematika yang bisa berdampak pada perbaikan kemampuan bernalar siswa.                

Teguh Imam Agus Hidayat, Kepala Divisi Pelatihan KPM menuturkan bahwa guru dituntut harus memahami cara melaksanakan pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan kemampuan nalar dan pemecahan masalah. “Pelatihan MNR berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) mendorong para guru agar cakap bernalar sehingga diharapkan mampu melatih kecakapan bernalar para siswanya. Para guru diajak mencari ide-ide kreatif dalam mengembangkan bahan ajar dan media ajar yang mampu mengasah daya nalar siswa.” ungkap Math Tutor Tim KPM Indonesia di ajang International Mathematics and Science Olympiad (2016-2018) ini.   

Foto: Teguh Imam Agus Hidayat menjadi narasumber pelatihan/Dok. KPM

Kecakapan penalaran matematik yang baik sangat ditunjang oleh pemahaman matematik yang baik pula. Tanpa pemahaman konsep yang baik, kemampuan penalaran tidak akan berkembang optimal. Rahmat Isnaeni, salah satu peserta pelatihan MNR mengungkapkan bahwa dirinya menyadari pentingnya mengajarkan matematika dari sesuatu yang nyata ada di sekitar siswa. Selain itu, siswa juga mesti diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk membangun konsep pengetahuannya sendiri. “Dari pelatihan MNR ini, saya menemukan hal baru bahwa mengajar itu harus dimulai dari sesuatu yang nyata agar anak-anak mudah untuk menemukan sendiri konsepnya. Saya harus mengubah gaya mengajar saya. Siswa harus mengalami pembelajaran matematika yang lebih melibatkan mereka dalam proses membangun pengetahuan matematika.” tutur guru SDIT Al Madinah Kebumen ini.

Anda seorang guru Matematika dan ingin meningkatkan kemampuan dibidang Olimpiade Matematika? Yuk, ikut program pelatihan ini bersama KPM. Info klik disini

Pembelajaran matematika yang perlu dilakukan guru adalah bagaimana guru mendorong siswa untuk bernalar, bertanya, memecahkan masalah, dan mendiskusikan ide-ide matematik mereka. Saat siswa belajar membangun pemahaman konsep, mengasah nalar lewat pengerjaan soal-soal HOTS, menyelesaikan tantangan eksplorasi matematika dan pemecahan masalah, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menawarkan kegiatan-kegiatan seperti itu adalah esensial. Dan hal-hal esensial tersebut menjadi sajian materi pada acara pelatihan MNR berbasis HOTS yang digelar di ruko KPM (23-26/07). Semua peserta pelatihan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi guru matematika yang efektif, yaitu guru yang mampu menstimulasi kecakapan bernalar siswa melalui pembelajaran matematika.

Tim Media

Read more...

KPM Gelar Olimpiade Matematika dan Sains Indonesia ke-4

 

Bogorplus.com Bogor, Jawa Barat - Dalam rangka mengembangkan minat dan bakat anak-anak Indonesia di bidang matematika dan sains, Klinik Pendidikan MIPA (KPM) kembali menggelar Olimpiade Matematika dan Sains Indonesia (OMSI) ke-4. OMSI merupakan kompetisi nasional yang menjaring prestasi dan bakat terbaik anak-anak Indonesia di bidang matematika dan sains. Babak penyisihan OMSI ke-4 diikuti lebih dari 6000 siswa dan digelar serentak pada tanggal 21 Juli 2019 di Riau, Sumatera Selatan, Aceh, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat.

Kepala Divisi Lomba KPM, M. Fachri mengungkapkan bahwa OMSI ini merupakan kompetisi yang sangat tepat bagi para siswa kelas 4 – 5 SD sederajat yang menyukai tantangan karena tes OMSI akan menguji penguasaan kemampuan matematika dan sains siswa secara utuh. “Kehadiran OMSI diharapkan dapat memotivasi para siswa dalam meraih prestasi sesuai bakat dan minat mereka di bidang matematika dan sains. Menariknya, para juara OMSI ke-4 berpeluang besar untuk dapat mengikuti kompetisi internasional bergengsi, International Mathematics and Science Olympiad yang akan dilaksanakan di Vietnam.” ungkap Fachri.

KPM rutin menggelar agenda OMSI untuk mewadahi minat dan bakat anak-anak Indonesia di bidang matematika dan sains. Dengan konsep biaya pendaftaran seikhlasnya, KPM berharap semua anak-anak Indonesia dapat berpartisipasi di ajang OMSI ke-4. Dengan demikian, OMSI ke-4 dapat menjaring bibit-bibit baru dan merawat potensi anak-anak Indonesia yang memiliki prestasi dan bakat di bidang matematika dan sains dari berbagai daerah di Indonesia.

Respon positif dari gelaran OMSI ini pun akhirnya disambut positif para orangtua, salah satunya Solihati, Ia mengaku telah mengikutsertakan putrinya di ajang OMSI selama 3 kali berturut-turut. Baginya, OMSI merupakan wadah untuk melatih kemampuan matematika dan sains yang layak untuk diberikan kepada anak.

“Kalah dan menang nomor sekian, yang terpenting adalah pengalaman dalam setiap kompetisi,” pungkasnya.

Sementara itu, siswa kelas 5, Mahendra, peserta yang pertama kali mencicipi event OMSI mengaku puas karena dapat bertemu jenis kompetisi baru. “Ternyata soalnya lumayan menantang dan bagus sekali,” ujar Mahendra.  

Tim Media

Read more...

Kompetensi Guru, Kunci Reformasi Pembelajaran Sains

Foto: Peserta pelatihan SNR 16-19 Juli 2019/Dok. KPM

Bogor – Kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa prestasi belajar sains anak Indonesia kurang menggembirakan. Bercermin dari data Program for International Student Assessment (PISA) 2015, dari 70 negara yang berpartisipasi pada PISA 2015, Indonesia menempati posisi ke-62 untuk pelajaran sains. Senada dengan hasil studi PISA 2015, hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2016 tingkat Nasional pun menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains anak Indonesia sangat lemah: 73,61% anak memiliki kemampuan sains kurang, 25,38 % anak memiliki kemampuan sains cukup, dan hanya 1,01% anak memiliki kemampuan sains yang baik (Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemendikbud, 2016).

Foto: Aktivitas eksperimen Sains/Dok. KPM

Reformasi pembelajaran sains harus dilakukan agar bisa memperbaiki kemampuan sains anak-anak Indonesia. Kunci reformasi pembelajaran sains sendiri sangat ditentukan oleh tingkat kompetensi guru sains. “Peningkatan dan penguatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran sains menjadi hal urgen yang harus dilakukan.” ujar Aji Endro, Litbang di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Menurutnya, guru harus terus meningkatkan kapasitas diri, baik sebagai pengajar maupun pembelajar sehingga bisa mendorong terciptanya suasana pembelajaran sains yang kontekstual, bermakna, dan menyenangkan bagi para siswa.

Ingin menambah wawasan seputar fakta unik dunia sains? Yuk, segera miliki buku SYKAT (Saya Sekarang Tahu) Edisi Sains PESAN DISINI

KPM mengembangkan Sains Nalaria Realistik (SNR) sebagai sebuah pendekatan pembelajaran sains yang mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill). SNR mengembangkan tahapan-tahapan penyajian materi dalam pembelajaran sains, mulai dari penyajian masalah nyata, pemahaman konsep, penalaran komunikasi, pemecahan masalah, eksplorasi sains, dan pelaksanaan praktikum dengan metode STEAM (Science Technology Engineering Art Mathematics). Belajar sains tak harus dihafal, tetapi harus dipahami secara bermakna. Siswa mesti diajak berpikir kritis dan dituntun agar bisa membangun pengetahuan sains dan bersikap ilmiah lewat proses ilmiah. Hal ini ditegaskan Aji Endro disela-sela mengisi pelatihan SNR, “Kompetensi sains siswa mesti dibangun melalui proses ilmiah di dalam maupun di luar kelas. Pembelajaran SNR memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berekspresi dan mengeksplorasi diri mereka lewat aktivitas sains yang bermakna dan menyenangkan.” tegasnya. 

Tim Media

Read more...

KPM Kembangkan Kreativitas Mengajar Guru Sains


Foto: Pelatihan Sains Nalaria Realistik (SNR), 16-19 Juli 2019/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Prestasi belajar sains anak Indonesia kurang menggembirakan jika dilihat dari hasil studi internasional. Hal ini dapat dilihat dari data Program for International Student Assessment (PISA) 2015. Dari 70 negara yang berpartisipasi pada PISA 2015, Indonesia menempati posisi ke-62 untuk pelajaran sains. Senada dengan hasil studi PISA 2015, hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2016 tingkat Nasional pun menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains anak Indonesia sangat lemah dengan rincian 73,61% anak memiliki kemampuan sains kurang, 25,38% anak memiliki kemampuan sains cukup, dan hanya 1,01% anak memiliki kemampuan sains yang baik (Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemendikbud, 2016).

Foto: Belajar Sains Semakin Asyik dengan Buku BISA Karya Klinik Pendidikan MIPA (pesan disini)

Secara umum, pemahaman dan penalaran saintifik siswa masih lemah. Para siswa pun kurang memahami konsep sains secara bermakna dan masih terpaku pada penjelasan buku teks. Hal ini diungkapkan oleh Esti Rahmawati, salah satu peserta pelatihan Sains Nalaria Realistik (SNR) yang diselenggarakan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di ruko laladon Ciomas, Bogor (16-19/07). Menurutnya, anak-anak cenderung belajar sains pada level tahu tanpa memahami konsep secara mendalam. “Metode pembelajaran satu arah menyebabkan anak-anak belajar sains tanpa berpikir kritis. Padahal, keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu aspek penting yang harus dilatihkan agar kemampuan sains anak-anak menjadi bagus.” ujar guru SD Plus Al Kautsar Malang ini. Slamet Wahyudi menuturkan hal senada terkait tak terasahnya kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah anak dalam aktivitas pembelajaran sains di kelas. Guru SDIT Ar-Ridho ini mengungkapkan bahwa anak-anak kurang diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan sains dengan cara mereka sendiri. “Karena anak-anak tak difasilitasi untuk membangun pengetahuannya sendiri, kreativitas dan pemecahan masalah mereka kurang terasah. Anak-anak hanya tahu ilmu sains tanpa memahami arti dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari”, ujarnya penuh semangat.

Reformasi pembelajaran dan peningkatan kapasitas guru sains menjadi kata kunci untuk mewujudkan paradigma pembelajaran sains yang bermakna, kontekstual, dan menyenangkan bagi anak-anak Indonesia. KPM melalui kegiatan pelatihan SNR hadir dan berupaya memberikan kontribusi untuk mencapai hal tersebut. Pelatihan SNR dirancang untuk membantu para guru agar bisa mengembangkan inovasi dan kreativitas mereka dalam mengajar sains.

SNR merupakan pendekatan pembelajaran yang mengembangkan daya nalar. Ina Ana khoeriah, Kepala Divisi Litbang IPA di KPM mengatakan bahwa belajar sains tak harus dihafal, tetapi harus dipahami secara bermakna dengan mengedepankan kemampuan bernalar. “Hal penting bagi para siswa dalam mempelajari sains adalah pemahaman konsep. Pemahaman konsep penting dikuasai sebagai fondasi untuk mempermudah belajar sains di tahap berikutnya.” ungkap narasumber Fun Science Republika ini.

SNR mengembangkan tahapan-tahapan penyajian materi dalam pembelajaran sains, mulai dari penyajian masalah nyata, pemahaman konsep, penalaran komunikasi, pemecahan masalah, eksplorasi sains, dan pelaksanaan praktikum dengan metode STEAM (Science Technology Engineering Art Mathematics). Semua tahapan pembelajaran ini disajikan dan disimulasikan dalam pelatihan SNR bagi para guru dan praktisi pendidikan sains. Fenni Pratiwi, pengajar di SDIT Ash-Shibgoh menyampaikan rasa bahagianya bisa berpartisipasi dalam pelatihan SNR. Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman baru, terutama tentang konsepsi SNR, beliau juga merasa terpacu untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar sains di sekolah. “Selesai acara pelatihan SNR ini saya akan kembali ke sekolah dan membagikan ilmu ini ke rekan-rekan sejawat serta mempraktikkan ilmu SNR agar saya semakin paham manfaat penerapan SNR dalam pembelajaran sains.” tandasnya.

Tim Media

 

Read more...

Suprarational Math Camp, Ikhtiar KPM Membentuk Karakter Siswa

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Upaya pembentukan karakter siswa menjadi fokus kerja dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Salah satu ikhtiar yang dilakukan yaitu melalui program Suprarational Math Camp (SMC). Selama sepekan, lembaga nirlaba pendidikan yang berkedudukan di Laladon, Ciomas Bogor telah menggelar dua kegiatan, yakni bagi siswa kelas 3-4 SD (02-03 Juli 2019) dan kelas 5-6 SD (04-05 Juli 2019). Acara SMC sendiri bertempat di Padepokan Amir Syahrudin. 

Kepala Divisi Pendidikan, Ryky Tunggal Saputra Aji mengatakan bahwa penyelenggaraan Suprarational Math Camp Pra KBM merupakan kegiatan yang harus diikuti siswa KPM dalam rangka mempersiapkan siswa/siswi untuk memasuki tahun ajaran baru. “Pada prosesnya, siswa dilatih kemandirian, bertoleransi, bertanggung jawab, memiliki rasa empati, dan berkomunikasi dengan baik,” ungkapnya. 

Dijelaskannya bahwa kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam, selain dibekali dengan pendidikan budi pekerti dan aktivitas ibadah,  para peserta juga dibekali pendalaman materi sebelum menghadapi pembelajaran di kelas khusus nanti. “Kita berharap para siswa sudah sangat siap dalam menyongsong tahun ajaran baru dengan menunjukkan prestasi membanggakan serta akhlak yang mulia,” jelasnya. 

Vita Trisetiasih, orangtua siswa mengutarakan rasa syukur karena putranya dapat mengikuti Suprarational Math Camp. SMC sangat bermanfaat karena membantu putranya melakukan pembiasaan positif yang dapat diterapkan di rumah dalam hal penerapan budi pekerti. 

Sementara itu, Nabila Syafarani Aulia, siswa SDI Al Azhar 20 Cibubur sangat menikmati kegiatan SMC dengan riang gembira. “Senang ikut program SMC di KPM. Saya bisa belajar dan ibadah bareng teman-teman, pas mulai menikmati kegiatan, malah harus pulang,” ujar Nabila seraya tersenyum sumringah.

Tim Media

Read more...

Semarak Program Science In House Training di Ruko KPM Laladon


Foto: SIHT level SD/Dok. KPM

Bogor, Jawa Barat – Ruko KPM Laladon (03-05/07/2019) dihiasi wajah ceria anak-anak. Suasana makin meriah dengan riuh rendah suara anak-anak yang sedang belajar IPA di ruang kelas. Mereka belajar bersama, tertawa bersama, melakukan praktikum bersama, dan menikmati sajian pembelajaran IPA bertajuk Science In House Training (SIHT) yang dipandu para pelatih dari tim Litbang IPA Read1 Institute.

Program Science In House Training (SIHT) merupakan program pengembangan minat dan bakat anak-anak Indonesia di bidang IPA yang diselenggarakan bagi siswa kelas 4 – 6 SD dan kelas 7 – 9 SMP. Program SIHT bertujuan untuk menguatkan pemahaman anak terkait materi dasar dan materi pengembangan IPA, mengasah keterampilan berpikir anak dalam menyelesaikan soal-soal IPA berbasis Higher Order Thinking Skill, melatih kemandirian dan sikap tanggung jawab anak, melatih sikap ilmiah anak, serta membangun kebersamaan dan menjalin persahabatan di antara sesama peserta yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda.     

Foto: SIHT level SMP/Dok. KPM

Ina Ana Khoeriah, Kepala Divisi Litbang IPA di Read1 Institute memaparkan, SIHT merupakan program pembinaan bagi siswa-siswi SD dan SMP di bidang IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Nalaria Realistik (SNR). Fokus utama dari kegiatan SIHT adalah melatih daya nalar anak. Salah satu kegiatan yang selalu menarik perhatian bagi  anak-anak dalam progam SIHT adalah praktikum. “Kegiatan praktikum dirancang untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang erat kaitannya dengan keterampilan bernalar dan memecahkan masalah dalam konteks pembelajaran IPA.” ujar Team Leader Tim KPM-Indonesia di ajang International Science Competition 2018 di Malaysia.

Hanif Alfarizki Pratama, salah satu peserta SIHT mengungkapkan perasaan gembiranya bisa turut serta di acara SIHT. Halim mengaku memiliki banyak teman baru dan semakin bertambah ilmunya. “Pokoknya acaranya seru. Belajar di sini menyenangkan, apalagi pas kegiatan praktikum.” ungkap siswa SDI Al Azhar 44 Summarecon Bekasi. Hal serupa dituturkan Halim Rizqullah. Siswa asal Sumatera Barat ini membuatnya semakin suka belajar IPA. Menurutnya, tempat acara SIHT bagus dan nyaman. Salah satu yang menarik dari kegiatan SIHT adalah aktivitas praktikumnya. “Saat melakukan eksperimen, kita harus bekerja sama dan senang rasanya saat berhasil melakukan eksperimen secara bersama-sama”, urai siswa yang bercita-cita jadi dokter ini, penuh antusias.  

Tim Media

Read more...

Mengembangkan Keterampilan Proses Sains lewat Praktikum

Foto iluistrasi: Freepik.com

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat berkaitan dengan konteks alam dan lingkungan. Idealnya, pembelajaran IPA dirancang melalui aktivitas yang melibatkan para siswa untuk berpikir, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan pengamatan, mengambil kesimpulan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan hasil pengamatan. Harapannya, para siswa tak hanya menguasai pengetahuan IPA berupa fakta-fakta dan konsep-konsep saja, melainkan memahami konsep IPA secara mendalam lewat suatu proses penemuan. Pemahaman IPA dibangun melalui aktivitas pengamatan terhadap fenomena alam secara empiris, bukan sekadar transfer informasi dari guru kepada siswa.

Komponen penting dalam IPA setidaknya terdiri dari tiga hal, yaitu produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Ketiga komponen tersebut saling berkelindan dan tak dapat dipisahkan. Kecenderungan yang kerap terjadi dalam pembelajaran IPA adalah pembelajaran hanya berfokus pada aspek produk ilmiah saja, sedangkan sikap Ilmiah dan proses ilmiah kurang dieksplorasi secara optimal. Untuk menumbuhkembangkan sikap ilmiah dan proses ilmiah yang baik pada diri siswa, perlu adanya metode pembelajaran yang tepat guna, salah satunya adalah penerapan metode praktikum dalam pembelajaran IPA.

Foto: Peserta Science In House Training 03-04 Juli 2019/Dok. KPM

Science In House Training (SIHT) merupakan program pembinaan bagi siswa-siswi SD dan SMP di bidang IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Nalaria Realistik (SNR). Program SIHT diselenggarakan Read1 Institute di ruko Klinik Pendidikan MIPA Laladon pada tanggal 3 – 4 Juli 2019 (kelas 4 – 6 SD) dan tanggal 4 – 5 Juli 2019 (kelas 7 – 9 SMP).

Fokus utama dari kegiatan SIHT adalah melatih daya nalar anak. Salah satu kegiatan yang dikembangkan dalam progam SIHT adalah praktikum. Kegiatan praktikum dirancang untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang erat kaitannya dengan keterampilan bernalar dan memecahkan masalah dalam konteks pembelajaran IPA.

Ardiansyah (2014) mengemukakan beberapa argumentasi tentang pentingnya mengembangkan keterampilan proses sains dalam pendidikan dasar dan pendidikan menengah, di antaranya: (1). Keterampilan proses sains memiliki manfaat dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan; (2). Keterampilan proses sains memberi bekal siswa untuk membentuk konsep sendiri dan cara bagaimana mempelajari sesuatu; (3). Keterampilan proses sains membantu siswa mengembangkan dirinya sendiri; (4). Keterampilan proses sains membantu siswa yang masih berada pada taraf perkembangan berpikir konkret; (5). Keterampilan proses sains mampu mengembangkan kreativitas siswa.

Febie Leony Tiffani, fasilitator kegiatan praktikum pada program SIHT menjelaskan bahwa aktivitas praktikum bertujuan untuk melatih cara berpikir dan bersikap anak-anak layaknya seorang ilmuwan. “Anak-anak diberikan ruang ekspresi dan ruang eksplorasi dalam melakukan eksperimen sains sehari-hari untuk menguji kedalaman pemahaman anak-anak tentang konsep-konsep IPA. Melalui tahapan-tahapan praktikum, anak-anak akan terasah penalarannya dalam memahami konsep IPA.” ujar Deputy Leader di ajang International Science Competition 2018 lalu di Malaysia.   

Hal senada diungkapkan para peserta SIHT yang merasakan manfaat dari kegiatan praktikum IPA. Hanif, siswa dari SDI Al Azhar Summarecon Bekasi mengaku bahwa kegiatan praktikum membuat kegiatan pembelajaran IPA lebih seru karena dapat memahami fenomena-fenomena alam yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Alexandria Najwa Ashila (SDI Al Azhar Summarecon Bekasi) pun menyampaikan bahwa praktikum bisa membuatnya lebih mudah memahami konsep IPA karena adanya proses aktif membangun pengetahuan, bukan sekadar menghafal materi.  Begitu pula yang dirasakan Halim, siswa SDI Al Azhar 32 Padang ini mengaku bahwa belajar dengan praktikum sangat membantunya mengingat dan memahami materi IPA. “Saat melakukan praktikum, kita jadi tahu langkah-langkah dalam mengamati sesuatu dan mengapa sesuatu itu terjadi. Saya jadi ingat terus materi yang sudah dipelajari lewat praktikum.” tutur siswa yang bercita-cita menjadi dokter ini.

Pengembangan keterampilan proses sains dengan metode praktikum sangat ideal dilakukan untuk mendukung pembelajaran IPA yang efektif. Kunci keberhasilan kegiatan praktikum terletak pada keterlibatan aktif peserta untuk berpikir, mengamati, melakukan pengujian, dan mengomunikasikan hasil temuan dari eksperimen yang dilakukan. Semakin tinggi keterlibatan siswa dalam praktikum, semakin tinggi pencapaian pemahaman dan keterampilan proses sains (Kalsum, 2010).  Salut untuk penyelenggaraan program SIHT yang mencoba mendorong para siswa untuk belajar bak ilmuwan yang piawai melakukan praktikum dan berujung pada terasahnya keterampilan proses sains mereka. Semoga program sejenis ini terus konsisten dilakukan demi kualitas pembelajaran IPA yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Tim Media

Read more...

LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto Gelar Pelatihan “Berpikir Suprarasional”

Foto: Pelatihan Berpikir Suprarasional di LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto/Dok. KPM

Bogorplus.com-Purwokerto, Jawa Tengah – Lajnah Pendidikan dan Pengajaran (LPP) Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto terus berstrategi untuk meningkatkan kualitas SDM para insan pendidiknya. Selain berkomitmen membenahi kemampuan akademik, LPP Al Irsyad Al Islamiyyah pun turut membekali para guru lewat Program Pelatihan Suprarasional.

Acara yang mengusung tema “Meningkatkan Kualitas SDM yang Berkarakter Suprarasional: Kerja Ikhlas, Kerja Cerdas, Kerja Keras ini pun disambut antusias 200 peserta dari unit TK hingga SMA Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, bertempat di Aula SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Kamis (04/07/2019).

Pelatihan yang menghadirkan Motivator Suprarasional, Ridwan Hasan Saputra ini memberikan pemahaman kepada para peserta untuk mengoptimalkan 3 antena kehidupan manusia, yakni akal, hati, dan panca indera. Selain itu, Tokoh Perubahan Republika 2013 ini berbagi konsep tabungan jiwa dan merencanakan kesusahan untuk meraih keberkahan hidup.

Foto: Serah terima ucapan terima kasih dari Ketua Harian LPP Al Irsyad Al Islamiyyah, Ustadz Abdul Qohin kepada Ridwan Hasan Saputra/Dok. KPM

Ketua Harian LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Ustadz Abdul Qohin, mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan pelatihan ini adalah untuk membangun motivasi para guru agar menjadi insan yang berkarakter.

“Meningkatkan kualitas SDM di LPP Al Irsyad Al Islamiyyah merupakan keniscayaan. Melalui program pelatihan suprarasional, kita berharap ada pembaharuan bagaimana para guru dapat bekerja dengan amanah, ikhlas, cerdas, dan riang gembira sehingga dapat berimbas pada kemajuan dan kebaikan lembaga sesuai kompetensinya masing-masing,” kata Ustadz Qohin.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Qohin menyebutkan akan mengimplementasikan ilmu yang didapatkan  dari pelatihan suprarasional bagi seluruh guru dan juga karyawan. “Langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti program suprarasional dan menyinergikan dengan program yang telah berjalan,” ungkapnya.

Foto: Suasana pelatihan berpikir suprarasional/Dok. KPM

Meskipun pelatihan dimulai dari pagi hingga sore, tak menyurutkan antusias peserta untuk mengkaji ilmu dari Sang Motivator. Widodo, Guru Fisika SMA Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mengungkapkan bahwa dirinya sangat menikmati sajian materi yang diberikan narasumber. “Pelatihan suprarasional ini sangat menginspirasi. Tak terasa sesi demi sesi telah dilalui dan begitu banyak ilmu yang saya dapatkan. Semoga ini menjadi bekal untuk meningkatkan potensi diri,” ungkap guru yang telah mengabdi selama 10 tahun ini.

Sementara itu, Yuli Setyoningrum, guru SD Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mengatakan bahwa upaya penyelesaian masalah secara rasional seringkali dipersepsikan sebagai solusi yang tepat. Namun kenyataannya, rasional saja tak cukup jika tidak melibatkan hati dalam bertindak. Dengan hadirnya pelatihan berpikir suprarasional ini diharapkan dapat lebih terlatih untuk untuk memadukan tiga antena kehidupan agar mampu memperluas jangkauan solusi ketika menyelesaikan masalah dan mendapatkan rezeki yang tak terduga.

Tim Media

Read more...

Science In House Training, Kembangkan Potensi Anak di Bidang IPA

Foto: Peserta mendapatkan pembelajaran eksperimen di kegiatan Science In House Training/Dok. KPM

Bogor, Jawa Barat – Setiap anak Indonesia memilki hak untuk dikembangkan potensi dirinya di berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali anak-anak Indonesia yang memiliki potensi di bidang IPA. Untuk memfasilitasi pengembangan minat dan bakat anak Indonesia di bidang IPA, Read1 Institute menggelar program Science In House Training (SIHT) di ruko Klinik Pendidikan MIPA Laladon pada tanggal 3 – 4 Juli 2019 (kelas 4 – 6 SD) dan tanggal 4 – 5 Juli 2019 (kelas 7 – 9 SMP).

Program SIHT bertujuan untuk menguatkan pemahaman anak pada materi dasar dan materi pengembangan IPA, mengasah keterampilan berpikir anak dalam menyelesaikan soal-soal IPA berbasis Higher Order Thinking Skill, melatih kemandirian dan sikap tanggung jawab anak, melatih sikap ilmiah anak, serta membangun kebersamaan dan menjalin persahabatan di antara sesama peserta yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda.  

     

Foto: Peserta Science In House Training (SIHT)/Dok. KPM

Ina Ana Khoeriah, Kepala Divisi Litbang IPA di Read1 Institute memaparkan, SIHT merupakan program pembinaan bagi siswa-siswi SD dan SMP di bidang IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Nalaria Realistik (SNR). Fokus utama dari kegiatan SIHT adalah melatih daya nalar anak. Salah satu kegiatan yang selalu menarik perhatian bagi  anak-anak dalam progam SIHT adalah praktikum. “Kegiatan praktikum dirancang untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang erat kaitannya dengan keterampilan bernalar dan memecahkan masalah dalam konteks pembelajaran IPA.” ujar Deputy Leader Tim KPM-Indonesia di ajang International Mathematics Science Olympiad 2018 di Zhejiang, Cina.

Program SIHT senafas dengan semangat pendidikan STEM. Dalam konteks pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), pembelajaran yang disajikan berbasis pemecahan masalah dengan mengedepankan penyelidikan ilmiah sebagai bentuk pemecahan masalah. Pada program SIHT, anak-anak dituntun dan dilatih agar menjadi pemecah masalah, pemikir logis, pemikir kreatif, komunikator, dan kolaborator andal melalui berbagai aktivitas sains. Hal ini sejalan dengan upaya melatih keterampilan hidup di abad 21. Selain itu, program SIHT pun memiliki kontribusi positif dan penting untuk mengembangkan pembelajaran IPA yang bermakna bagi anak-anak Indonesia.

Tim Media

Read more...