Menu
RSS
Banner Top Pendidikan

Bermatematika dengan Cara Berpikir Suprarasional

Oleh: Asep Sapa'at, Kepala Divisi Pendidikan Klinik Pendidikan MIPA

Tahukah Anda apa itu cara berpikir suprarasional? Cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir yang menjadikan Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi faktor yang sangat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atau memecahkan masalah. Orang tua, guru, atau pun anak yang berpikir suprarasional akan memahami bahwa mengharap ridho Allah Swt. menjadi tujuan belajar dan banyak melakukan perbuatan baik (dimensi dunia dan akhirat) sebagai cara untuk memperkuat keyakinan ini. Saputra (2017) menyatakan bahwa cara berpikir suprarasional akan mengantarkan anak pada sumber ilmu, yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui dan sumber dari segala sumber ilmu. Jadi, tugas orang tua dan guru adalah semakin mendekatkan dirinya beserta anaknya kepada sumber ilmu.

Ada asumsi ketika anak pandai berhitung, maka anak tersebut disimpulkan pandai bermatematika. Asumsi ini keliru. Karena anak yang pandai berhitung belum tentu pandai bermatematika. Matematika adalah suatu tata aturan yang disepakati bersama. Karena matematika adalah suatu tata aturan, anak dilatih untuk taat pada aturan agar tidak mendapatkan konsekuensi atau hukuman karena pelanggaran terhadap aturan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak peraturan yang wajib dipatuhi dengan penuh kesadaran. Ketika kita belajar mematuhi aturan yang berlaku dan sudah menjadi kesepakatan bersama, maka kita sedang belajar matematika tanpa angka. Matematika tanpa angka merupakan wujud nyata dari cara berpikir suprarasional.

Matematika tanpa angka adalah cara penyajian matematika yang berfokus mengajarkan dan mendidik anak menjadi pribadi bermoral dan patuh pada aturan. Moralitas dan perilaku baik yang ditunjukkan dalam keseharian merupakan cerminan dari pengajaran dan pembelajaran matematika tanpa angka. Konten matematika menjadi alat, sedangkan mendidik karakter anak menjadi fokus utama pembelajaran matematika tanpa angka. Ketika anak belajar disiplin mematuhi aturan dan norma yang berlaku, penalaran anak pun sedang diasah. Harapannya, ketika penalaran anak berkembang, maka anak-anak akan lebih mudah memahami pelajaran matematika. Karena pelajaran matematika relatif mudah dipelajari ketika daya nalar anak berkembang dengan baik.

Bagaimana konsep matematika tanpa angka sebagai realisasi cara berpikir suprarasional dapat meningkatkan penalaran anak? Pertama, ketika kita mengajarkan anak-anak agar hormat pada orang yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, anak-anak sedang diajarkan dan dilatih bagaimana cara bersikap yang tepat kepada orang yang lebih tua dan orang yang lebih muda. Hasil dari pembelajaran ini, anak-anak dilatih untuk terampil menganalisis bagaimana cara terbaik untuk berkomunikasi dan bersikap dengan orang lain yang usianya berbeda dengan dirinya. Dalam konteks pembelajaran matematika, anak-anak diharapkan terlatih untuk menemukenali masalah sekaligus mampu memilih alternatif solusi untuk pemecahan masalah tersebut.

Kedua, ketika orang tua dan guru mengajarkan pengetahuan kepada anak-anak tentang perbedaan orang baik dan orang jahat. Orang baik terbiasa menunjukkan perilaku baik, seperti berkata santun, bersikap sopan, jujur, dan bersikap baik lainnya. Sebaliknya, orang jahat pun biasa menunjukkan perilaku buruk, seperti bohong, berkata kasar, menghina orang, dan bersikap buruk lainnya. Dalam konteks ini, orang tua dan guru sedang mengajarkan kepada anak-anak kemampuan mengidentifikasi perilaku orang baik dan perilaku orang jahat, serta bagaimana cara terbaik untuk menghadapi kedua kelompok orang tersebut.

Ketiga, ketika orang tua dan guru mengajarkan pengetahuan dan mendidik anak-anak tentang cara-cara dan tahapan perilaku yang harus ditunjukkan saat bertamu, misalnya. Saat datang bertamu, ketika sudah sampai di pintu rumah orang yang dituju, kita ketuk pintu dan mengucapkan salam. Jangan dulu masuk ke rumah sebelum dipersilakan oleh pemilik rumah. Ketika anak-anak sudah terbiasa melakukan hal-hal baik saat bertamu itu artinya mereka dapat berpikir dengan baik bagaimana seharusnya kita bersikap saat bertamu. Dalam konteks pembelajaran matematika, ketika anak-anak mendapatkan masalah matematika, mereka dapat menyelesaikan masalah matematika tersebut beserta langkah-langkah penyelesaian masalah yang tepat.

Idealnya, matematika tanpa angka seharusnya diajarkan kepada anak-anak terlebih dahulu sebelum matematika dengan angka. Cara terbaik mengajarkan matematika tanpa angka adalah dengan cara mengajarkan dan menyemangati anak-anak mempraktikkan cara berpikir suprarasional dalam kehidupan mereka. Konsekuensi logisnya, orang tua dan guru harus menjadi teladan yang konsisten berpikir ala suprarasional. Karena dengan cara berpikir suprarasional, konsepsi matematika tanpa angka diharapkan mampu membangun karakter anak-anak dengan sendirinya. Selain itu, kemampuan penalaran anak menjadi semakin terlatih sebagai faktor kunci keberhasilan anak dalam belajar matematika.

Ada yang menarik dari hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri St. Louis (Suyanto, 2010) bahwa peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik di sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang terlibat dalam program pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis tingkat perilaku negatif siswa yang menghambat keberhasilan akademik. Dampak nyata penerapan pendidikan karakter terhadap keberhasilan belajar anak.

Matematika tanpa angka sebagai wujud nyata dari cara berpikir suprarasional berfokus untuk membangun karakter anak, bukan hanya sekadar membuat anak berpengetahuan matematika saja. Cara berpikir suprarasional mengubah titik tekan pembelajaran matematika dari pengajaran an sich menjadi pembangunan karakter anak. Fokus pembelajaran matematika pun diarahkan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan bernalar anak, bukan kemampuan hapalan anak (Low Order Thinking Skills). Harapannya di masa mendatang, cara berpikir suprarasional akan mampu melahirkan sumber daya manusia berkualitas tinggi dengan tingkat keimanan dan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang setara.

back to top