Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Suprarational Math Camp, Ikhtiar KPM Membentuk Karakter Siswa

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Upaya pembentukan karakter siswa menjadi fokus kerja dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Salah satu ikhtiar yang dilakukan yaitu melalui program Suprarational Math Camp (SMC). Selama sepekan, lembaga nirlaba pendidikan yang berkedudukan di Laladon, Ciomas Bogor telah menggelar dua kegiatan, yakni bagi siswa kelas 3-4 SD (02-03 Juli 2019) dan kelas 5-6 SD (04-05 Juli 2019). Acara SMC sendiri bertempat di Padepokan Amir Syahrudin. 

Kepala Divisi Pendidikan, Ryky Tunggal Saputra Aji mengatakan bahwa penyelenggaraan Suprarational Math Camp Pra KBM merupakan kegiatan yang harus diikuti siswa KPM dalam rangka mempersiapkan siswa/siswi untuk memasuki tahun ajaran baru. “Pada prosesnya, siswa dilatih kemandirian, bertoleransi, bertanggung jawab, memiliki rasa empati, dan berkomunikasi dengan baik,” ungkapnya. 

Dijelaskannya bahwa kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam, selain dibekali dengan pendidikan budi pekerti dan aktivitas ibadah,  para peserta juga dibekali pendalaman materi sebelum menghadapi pembelajaran di kelas khusus nanti. “Kita berharap para siswa sudah sangat siap dalam menyongsong tahun ajaran baru dengan menunjukkan prestasi membanggakan serta akhlak yang mulia,” jelasnya. 

Vita Trisetiasih, orangtua siswa mengutarakan rasa syukur karena putranya dapat mengikuti Suprarational Math Camp. SMC sangat bermanfaat karena membantu putranya melakukan pembiasaan positif yang dapat diterapkan di rumah dalam hal penerapan budi pekerti. 

Sementara itu, Nabila Syafarani Aulia, siswa SDI Al Azhar 20 Cibubur sangat menikmati kegiatan SMC dengan riang gembira. “Senang ikut program SMC di KPM. Saya bisa belajar dan ibadah bareng teman-teman, pas mulai menikmati kegiatan, malah harus pulang,” ujar Nabila seraya tersenyum sumringah.

Tim Media

Read more...

Semarak Program Science In House Training di Ruko KPM Laladon


Foto: SIHT level SD/Dok. KPM

Bogor, Jawa Barat – Ruko KPM Laladon (03-05/07/2019) dihiasi wajah ceria anak-anak. Suasana makin meriah dengan riuh rendah suara anak-anak yang sedang belajar IPA di ruang kelas. Mereka belajar bersama, tertawa bersama, melakukan praktikum bersama, dan menikmati sajian pembelajaran IPA bertajuk Science In House Training (SIHT) yang dipandu para pelatih dari tim Litbang IPA Read1 Institute.

Program Science In House Training (SIHT) merupakan program pengembangan minat dan bakat anak-anak Indonesia di bidang IPA yang diselenggarakan bagi siswa kelas 4 – 6 SD dan kelas 7 – 9 SMP. Program SIHT bertujuan untuk menguatkan pemahaman anak terkait materi dasar dan materi pengembangan IPA, mengasah keterampilan berpikir anak dalam menyelesaikan soal-soal IPA berbasis Higher Order Thinking Skill, melatih kemandirian dan sikap tanggung jawab anak, melatih sikap ilmiah anak, serta membangun kebersamaan dan menjalin persahabatan di antara sesama peserta yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda.     

Foto: SIHT level SMP/Dok. KPM

Ina Ana Khoeriah, Kepala Divisi Litbang IPA di Read1 Institute memaparkan, SIHT merupakan program pembinaan bagi siswa-siswi SD dan SMP di bidang IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Nalaria Realistik (SNR). Fokus utama dari kegiatan SIHT adalah melatih daya nalar anak. Salah satu kegiatan yang selalu menarik perhatian bagi  anak-anak dalam progam SIHT adalah praktikum. “Kegiatan praktikum dirancang untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang erat kaitannya dengan keterampilan bernalar dan memecahkan masalah dalam konteks pembelajaran IPA.” ujar Team Leader Tim KPM-Indonesia di ajang International Science Competition 2018 di Malaysia.

Hanif Alfarizki Pratama, salah satu peserta SIHT mengungkapkan perasaan gembiranya bisa turut serta di acara SIHT. Halim mengaku memiliki banyak teman baru dan semakin bertambah ilmunya. “Pokoknya acaranya seru. Belajar di sini menyenangkan, apalagi pas kegiatan praktikum.” ungkap siswa SDI Al Azhar 44 Summarecon Bekasi. Hal serupa dituturkan Halim Rizqullah. Siswa asal Sumatera Barat ini membuatnya semakin suka belajar IPA. Menurutnya, tempat acara SIHT bagus dan nyaman. Salah satu yang menarik dari kegiatan SIHT adalah aktivitas praktikumnya. “Saat melakukan eksperimen, kita harus bekerja sama dan senang rasanya saat berhasil melakukan eksperimen secara bersama-sama”, urai siswa yang bercita-cita jadi dokter ini, penuh antusias.  

Tim Media

Read more...

Mengembangkan Keterampilan Proses Sains lewat Praktikum

Foto iluistrasi: Freepik.com

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat berkaitan dengan konteks alam dan lingkungan. Idealnya, pembelajaran IPA dirancang melalui aktivitas yang melibatkan para siswa untuk berpikir, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan pengamatan, mengambil kesimpulan, menerapkan konsep, dan mengomunikasikan hasil pengamatan. Harapannya, para siswa tak hanya menguasai pengetahuan IPA berupa fakta-fakta dan konsep-konsep saja, melainkan memahami konsep IPA secara mendalam lewat suatu proses penemuan. Pemahaman IPA dibangun melalui aktivitas pengamatan terhadap fenomena alam secara empiris, bukan sekadar transfer informasi dari guru kepada siswa.

Komponen penting dalam IPA setidaknya terdiri dari tiga hal, yaitu produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Ketiga komponen tersebut saling berkelindan dan tak dapat dipisahkan. Kecenderungan yang kerap terjadi dalam pembelajaran IPA adalah pembelajaran hanya berfokus pada aspek produk ilmiah saja, sedangkan sikap Ilmiah dan proses ilmiah kurang dieksplorasi secara optimal. Untuk menumbuhkembangkan sikap ilmiah dan proses ilmiah yang baik pada diri siswa, perlu adanya metode pembelajaran yang tepat guna, salah satunya adalah penerapan metode praktikum dalam pembelajaran IPA.

Foto: Peserta Science In House Training 03-04 Juli 2019/Dok. KPM

Science In House Training (SIHT) merupakan program pembinaan bagi siswa-siswi SD dan SMP di bidang IPA dengan menggunakan pendekatan Sains Nalaria Realistik (SNR). Program SIHT diselenggarakan Read1 Institute di ruko Klinik Pendidikan MIPA Laladon pada tanggal 3 – 4 Juli 2019 (kelas 4 – 6 SD) dan tanggal 4 – 5 Juli 2019 (kelas 7 – 9 SMP).

Fokus utama dari kegiatan SIHT adalah melatih daya nalar anak. Salah satu kegiatan yang dikembangkan dalam progam SIHT adalah praktikum. Kegiatan praktikum dirancang untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang erat kaitannya dengan keterampilan bernalar dan memecahkan masalah dalam konteks pembelajaran IPA.

Ardiansyah (2014) mengemukakan beberapa argumentasi tentang pentingnya mengembangkan keterampilan proses sains dalam pendidikan dasar dan pendidikan menengah, di antaranya: (1). Keterampilan proses sains memiliki manfaat dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan; (2). Keterampilan proses sains memberi bekal siswa untuk membentuk konsep sendiri dan cara bagaimana mempelajari sesuatu; (3). Keterampilan proses sains membantu siswa mengembangkan dirinya sendiri; (4). Keterampilan proses sains membantu siswa yang masih berada pada taraf perkembangan berpikir konkret; (5). Keterampilan proses sains mampu mengembangkan kreativitas siswa.

Febie Leony Tiffani, fasilitator kegiatan praktikum pada program SIHT menjelaskan bahwa aktivitas praktikum bertujuan untuk melatih cara berpikir dan bersikap anak-anak layaknya seorang ilmuwan. “Anak-anak diberikan ruang ekspresi dan ruang eksplorasi dalam melakukan eksperimen sains sehari-hari untuk menguji kedalaman pemahaman anak-anak tentang konsep-konsep IPA. Melalui tahapan-tahapan praktikum, anak-anak akan terasah penalarannya dalam memahami konsep IPA.” ujar Deputy Leader di ajang International Science Competition 2018 lalu di Malaysia.   

Hal senada diungkapkan para peserta SIHT yang merasakan manfaat dari kegiatan praktikum IPA. Hanif, siswa dari SDI Al Azhar Summarecon Bekasi mengaku bahwa kegiatan praktikum membuat kegiatan pembelajaran IPA lebih seru karena dapat memahami fenomena-fenomena alam yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Alexandria Najwa Ashila (SDI Al Azhar Summarecon Bekasi) pun menyampaikan bahwa praktikum bisa membuatnya lebih mudah memahami konsep IPA karena adanya proses aktif membangun pengetahuan, bukan sekadar menghafal materi.  Begitu pula yang dirasakan Halim, siswa SDI Al Azhar 32 Padang ini mengaku bahwa belajar dengan praktikum sangat membantunya mengingat dan memahami materi IPA. “Saat melakukan praktikum, kita jadi tahu langkah-langkah dalam mengamati sesuatu dan mengapa sesuatu itu terjadi. Saya jadi ingat terus materi yang sudah dipelajari lewat praktikum.” tutur siswa yang bercita-cita menjadi dokter ini.

Pengembangan keterampilan proses sains dengan metode praktikum sangat ideal dilakukan untuk mendukung pembelajaran IPA yang efektif. Kunci keberhasilan kegiatan praktikum terletak pada keterlibatan aktif peserta untuk berpikir, mengamati, melakukan pengujian, dan mengomunikasikan hasil temuan dari eksperimen yang dilakukan. Semakin tinggi keterlibatan siswa dalam praktikum, semakin tinggi pencapaian pemahaman dan keterampilan proses sains (Kalsum, 2010).  Salut untuk penyelenggaraan program SIHT yang mencoba mendorong para siswa untuk belajar bak ilmuwan yang piawai melakukan praktikum dan berujung pada terasahnya keterampilan proses sains mereka. Semoga program sejenis ini terus konsisten dilakukan demi kualitas pembelajaran IPA yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Tim Media

Read more...
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com