Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Konsep Bela Negara Kreatif untuk Generasi Milenial

Oleh: Ridwan Hasan Saputra (RHS)

Bogorplus.com, Bogor-Jawa Barat - Menanggapi ide Menteri Pertahanan, Bapak Prabowo Subianto tentang adanya komponen cadangan bela negara dari pelajar SMP dan SMA. Saya sangat menyambut baik ide tersebut dengan syarat pelaksanaannya harus kreatif dan kekinian sesuai dengan jiwa anak-anak milenial. Ide Bapak Prabowo ini mengingatkan saya tentang konsep penerapan Bela Negara yang kreatif yang awal mulanya dilaksanakan di Kodim 0620/kabupaten Cirebon dan Kodim 0606/Kota Bogor. Program kreatif ini bernama Wisata Matematika Bela Negara (WMBN).  Program ini memadukan unsur-unsur Bela Negara dan Matematika serta dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan. Pada Program ini, para pelajar datang ke Makodim dan dibina oleh anggota TNI selama setengah hari. Program ini berlangsung sekitar tahun 2017 dimana Komandan Kodim 0620/Kabupaten Cirebon pada saat itu adalah Letkol Inf Irwan Budiyana dan Komandan Kodim 0606/kota Bogor pada saat itu adalah Letkol Arm Doddy Suhardiman.

Foto: Kegiatan Wisata Matematika Bela Negara di Makodim 0606/Kota Bogor/Dok. KPM

Sebelum membuat tulisan ini saya telah membaca modul yang berisi seratus lebih testimoni dari para pelajar yang mewakili ribuan pelajar yang telah mengikuti program ini. Mereka sangat antusias dan senang mengikuti program ini. Mereka merasakan Program Bela Negara yang dikemas dalam bentuk Wisata Matematika Bela Negara, membuat mereka menjadi paham tentang bela Negara karena pelaksanaannya tidak menghadirkan suasana yang membosankan dan menegangkan. Melalui Permainan Matematika Bela Negara, mereka dapat lebih memahami tentang Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sejarah Perjuangan Bangsa. Sebenarnya, masih banyak testimoni positif dari para peserta yang tidak bisa dituliskan di sini. Hal ini menunjukan bahwa program ini sangat bermanfaat dan diminati pelajar.

Foto: Pelajar Kota Bogor menjajal Permainan Matematika Bela Negara/Dok. KPM

Selain itu, Program Wisata Matematika Bela Negara juga sudah mendapat respon positif dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat.  Pada waktu itu, Asisten Teritorial KASAD, Mayjen TNI Widagdo Hendro Sukoco telah menjadikan program ini menjadi program KASAD di masa kepemimpinan Jenderal TNI Mulyono. Sebelum dikenalkan kepada para pelajar, perwakilan Babinsa di setiap Kodim di seluruh Indonesia mendapatkan training for trainers untuk menjadi fasilitator Wisata Matematika Bela Negara yang pelaksanaannya di masing-masing Komando Daerah Militer (KODAM). Tidak hanya unsur dari Babinsa saja yang dilibatkan dalam program ini, para prajurit dari Kostrad dan Kopassus pun dilatih untuk menjadi fasilitator Wisata Matematika Bela Negara. Setelah mengikuti proses pelatihan, para Babinsa harus mempraktikkan program ini di masing-masing Kodim dan kegiatan Wisata Matematika Bela Negara ini pun disambut positif insan pendidik, terbukti sudah lebih ratusan sekolah mengikuti kegiatan Wisata Matematika Bela Negara. Video kegiatan Wisata Matematika Bela Negara dapat disaksikan pada Channel Youtube KPM Seikhlasnya.

Setelah satu hingga dua tahun dikenalkan, sayangnya program ini tidak berlanjut secara nasional. Harapannya, para pelajar di seluruh Indonesia dapat mengikuti program Wisata Matematika Bela Negara yang dilaksanakan di seluruh Kodim di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan TNI sebagai pelaksana program ini, belum mendapatkan dukungan penuh oleh Kemhan dan Kemdikbud. Sehingga, proses pembinaan bela negara pada saat itu belum fokus  untuk menyasar pada pelajar SMP dan SMA.

Foto: Ridwan Hasan Saputra (RHS) melatih Permainan Matematika Bela Negara kepada anggota TNI di Makodim 0620/Kabupaten Cirebon/Dok. KPM

Semoga dengan adanya keinginan Menteri Pertahanan saat ini untuk menyiapkan komponen cadangan bela negara dari pelajar SMP dan SMA, serta adanya respon positif dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bisa membuat  program Wisata Matematika Bela Negara ‘bangkit kembali dari kuburnya’. Tanpa adanya dukungan dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, program Wisata Matematika Bela Negara ini tidak bisa berjalan. Sebab, program ini butuh akses ke sekolah dan dana operasional agar program ini bisa berjalan berkesinambungan.

Hal yang menjadi bahan pertimbangan perlunya program Wisata Matematika Bela Negara dibangkitkan kembali adalah karena program ini sudah terbukti bermanfaat dan efektif membuat anak-anak milenial dapat memahami dan ikut serta dalam bela negara. Para pembinanya sudah siap dan tersebar di seluruh Indonesia yaitu anggota TNI, khususnya babinsa di berbagai daerah. Sehingga program bisa langsung digerakkan sebagai program nasional.

Semoga Bapak Prabowo dan Mas Nadiem membaca tulisan ini.

Bogor, 15 November 2019

Ridwan Hasan Saputra

(Pemerhati Bela Negara )

Read more...

Kolaborasi K3S Samarinda & KPM Gelar Pembinaan Olimpiade MIPA


Foto: Pelatihan Pembimbing Olimpiade MIPA/Dok. KPM

Bogorplus.com-Kota Samarinda, Kalimantan Timur – Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya pelajar menjadi aset utama sebagai bekal dalam menghadapi era persaingan global. Realitas tersebut semakin menegaskan bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu penggerak utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Berbagai inovasi terus didorong para insan pendidik untuk mewujudkan proses pembelajaran Matematika dan IPA (MIPA) yang mampu mengasah keterampilan berpikir siswa. Salah Satu upaya yang dilakukan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Dasar Kota Samarinda adalah bekerja sama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) dalam menggelar Pelatihan Pembimbing Olimpiade Matematika dan IPA yang dihadiri 100 guru SD Swasta Se-Kota Samarinda, bertempat di Kantor Erlangga, pada 13-15 November 2019.

Foto: Kadisdik Kota Samarinda (tengah) menyampaikan sambutan dan membukan acara pelatihan/Dok. KPM

Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda, H. Asli Nuryadin mengatakan bahwa esensi pendidikan yang maju adalah mampu berpikir diluar kebiasaan (out of the box). “Kebijakan saya ini terbilang tidak popular karena diluar dari kebiasaan. Namun, untuk meraih sukses butuh sebuah pengorbanan dan perjuangan,” ujarnya saat memberikan sambutan.

H. Asli Nuryadin menegaskan bahwa untuk merubah peradaban pendidikan harus dimulai dari diri sendiri, sedangkan sekolah dan pemerintah hanya sebagai fasilitator. Di samping itu, yang terpenting adalah niat. “Kalau nawaitunya tidak dari kita sendiri, pasti akan sulit,” tegasnya.

Senada dengan Kadisdik Kota Samarinda, Ketua Pelaksana Pembinaan, Yeny Duwi Seviawati berharap kegiatan dapat menumbuhkembangkan pengetahuan para guru untuk membina siswa di bidang olimpiade MIPA. “Saya berkeyakinan jika para guru terus mengeksplor kemampuan di bidang olimpiade, InsyaAllah kualitas siswa di Samarinda akan semakin meningkat,” pungkasnya.

Tim Media

Read more...

KOMPI 2019: Hadirkan Solusi Menghadapi Tantangan Pendidikan di Era Milenial

Foto: Kasie Kurikulum & Pengembangan Program (SD) YPI Al Azhar, Subari, membuka acara babak final KOMPI 2019/Dok. KPM

Bogorplus.com-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan – Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar menaruh harapan besar dari perhelatan Kompetisi Matematika dan Pendidikan Islam (KOMPI) 2019 yang diselenggarakan Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Setidaknya, ada dua makna mendalam bagi YPI Al Azhar dari perhelatan perdana tersebut.

“Pertama, KOMPI menjadi sebuah solusi dalam menjawab tantangan pendidikan di era milenial. Kedua, Konsep Sistem Metode Seikhlasnya dan Matematika Nalaria Realistik (MNR) menjadi ciri khas Klinik Pendidikan MIPA (KPM) dalam mewarnai dunia pendidikan di Indonesia,” ungkap Kasie Kurikulum dan Pengembangan Program (SD), Direktorat Dikdasmen YPI Al Azhar, Subari, dalam kesempatan wawancara pada babak final KOMPI 2019, di SDI Al Azhar 1 Kebayoran Baru, Minggu (10/11/2019).

Subari mengatakan bahwa penyelenggaraan KOMPI 2019 ini dianggap sebagai momentum penting bagi dunia pendidikan. “KOMPI ini merupakan cara out of the box yang digagas KPM. Sudah sepatutnya dunia pendidikan harus mengusung konsep pendidikan agama dan umum seperti yang dilakukan KPM, sehingga makna mendidik yang menitikberatkan pada perbaikan moral, nalar, dan intelektual dapat terwujud.

Selain itu,  yang menjadi daya tarik dari perhelatan KOMPI adalah Sistem Metode Seikhlasnya (SMS) “Konsep yang dibangun KPM selama ini adalah konsep seikhlasnya, itulah yang menjadi inspirasi kami dalam menghadirkan pendidikan dengan penuh keikhlasan. Karena sejatinya, salah satu adab di dalam menuntut ilmu itu adalah semata-mata mengharap ridho Allah SWT, maka dalam proses majlis ilmu, baik murid maupun guru harus memiliki kesamaan niat, yakni mengharapkan ridho Allah SWT, ” tegas Subari.

Tim Media 

Read more...
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com