Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Aulia UI Choriyah: Menebar Kebermanfaatan lewat Peran menjadi Guru

Foto: Aulia UI Choriyah (pertama dari kanan)/Dok.KPM

Bogorplus.com-Bojonegoro, Jawa Timur - Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kalimat ini menjadi dasar filosofi bagi Aulia UI Choriyah untuk menjalani pilihan peran hidup menjadi guru. Bagi Bu Guru Aulia, bermanfaat bagi orang lain bisa dengan berbagai cara. “Menjadi guru adalah cara menyenangkan dan sesuai dengan passion saya. Saya juga merasa punya tanggung jawab dengan generasi selanjutnya. Setidaknya, dengan ikhtiar saya menjadi guru bisa turut membangun generasi cerdas dan berkarakter.” tutur Bu Aulia.

Bu Aulia mengisahkan bahwa dirinya sudah bercita-cita menjadi guru sejak duduk di bangku SMP. Meski sering mendengar kisah duka menjadi guru, hal itu tak menyurutkan cita-citanya untuk tetap menjadi guru. “Alhamdulillah sekarang diberi jalan oleh Allah untuk menjadi guru. Bisa berbagi ilmu kepada anak-anak adalah kepuasan tersendiri bagi saya” ujar guru yang biasa disapa Ustazah di lingkungan KPM Bojonegoro.

Seusai lulus kuliah, saya mengikuti event karya ilmiah remaja. Saat itu teman Bu Guru Aulia yang menjadi pengajar di Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Bojonegoro memberikan informasi lowongan pekerjaan di KPM sebagai pengajar matematika. Awalnya Bu Guru Aulia ragu karena dirinya ingin mengajar di lembaga formal, bukan lembaga non-formal. Singkat cerita, Bu Guru Aulia memutuskan untuk mencari informasi lebih mendalam tentang sosok KPM. Dari proses penelusuran informasi yang mendalam tentang KPM, Bu Guru Aulia mantap memilih KPM karena di KPM memiliki ciri khas dengan metode Matematika Nalaria Realistik. Alhamdulillah saya bisa ikut semua rangkaian tes dan dinyatakan lolos menjadi guru di KPM Bojonegoro.

Tak ayal, Bu Guru Aulia sangat bahagia bisa berkiprah dan menjadi keluarga besar KPM. Secara fisik, KPM sangat memprioritaskan kesejahteraan guru. Secara batin, mengajar di KP menghadirkan kebahagiaan tersendiri. “Saya belajar hal baru tentang Matematika Nalaria Realistik. Selain itu, relasi yang terbangun di KPM bukan sebatas guru-murid atau guru-orang tua murid, namun kami sudah seperti keluarga. Kita memiliki ikatan emosional yang sangat erat.” ujar Bu Guru Aulia. Hal lain yang sangat penting dan membuat saya makin betah di KPM adalah nasihat dari Presiden Direktur KPM, Ridwan Hasan Saputra yang sering dibagikan kepada guru-guru di seluruh KPM cabang. Beliau sering mengingatkan kita tentang cara berpikir suprarasional, melibatkan Allah dalam segala amal perbuatan, dan selalu konsisten menebarkan kebaikan sesuai peran dan posisi kita masing-masing.

KPM dengan mengusung konsep pendidikan seikhlasnya dan berorientasi pada pendidikan adab dan akhlak bisa melahirkan para juara olimpiade matematika dan sains di level nasional dan internasional. Hal luar biasa yang mesti disibak hikmahnya. Semua hal tersebut yang membuat Bu Guru Aulia semakin nyaman dan membuat hatinya adem mengajar di KPM. Insyaallah ada ruh keberkahan di KPM yang membuat KPM akan terus berjaya sepanjang masa. Aamiin.

Tim Media

Read more...

Revi Elvira Rosanti: Meraih Keberkahan bersama KPM

Foto: Revi Elvira Rosanti (tengah)/Dok. KPM 

Bogorplus.com-Bojonegoro, Jawa Timur - Setiap guru memiliki motivasi sendiri dalam menjalani profesinya. Bagi Revi Elvira Rosanti, saat mengajar matematika, kita bisa memahamkan anak-anak tentang nilai-nilai kebaikan. Cara efektif untuk memberikan nasihat hidup salah satunya bisa dilakukan lewat mengajar.

Hal yang membuat Bu Guru Revi bahagia adalah bisa turun tangan mendidik generasi penerus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. “Yang paling membahagiakan itu saat melihat anak-anak yang semangat belajarnya tinggi. Atau, ada anak-anak yang awalnya lemah kemampuan matematikanya tetapi jadi membaik kemampuan matematikanya karena dia tetap suka matematika dan tidak menyerah belajar matematika.” pungkas penyuka membaca dan travelling ini. Beliau menjelaskan, ketika melihat perjuangan anak-anak mendapatkan apa yang mereka impikan, mendampingi mereka saat mereka gagal dan mencoba memberi semangat hingga mereka berhasil adalah proses yang sangat membahagiakan menjadi guru. Melihat anak-anak tumbuh dengan semangat belajar karena Allah, bagi Guru Revi, itulah inti kebahagiaannya menjadi guru.

Cerita perkenalan Bu Guru Revi Elvira Rosanti dengan KPM bermula saat ada tawaran menjadi guru KPM. Saat mengikuti tes, kualitas soal tesnya lebih susah daripada materi yang biasa diajarkan di sekolah. Terakhir baru dipahami, itulah kualitas soal yang menguji kecakapan nalar. Singkat cerita, Bu Guru Revi lolos seleksi di KPM Bojonegoro. Dari situ awal mula perjalanan Bu Guru Revi mendalami ilmu Matematika Nalaria Realistik.

Selama berkiprah di KPM Bojonegoro membuat Bu Guru Revi senang karena mendapatkan banyak ilmu tentang konsep rezeki, ilmu tentang dunia olimpiade matematika, banyak belajar ilmu kehidupan dari orang tua yang mendukung anak-anaknya berpartisipasi dalam lomba-lomba matematika. Selain itu, Bu Guru Revi mengakui memiliki saudara baru dari kalangan pembina olimpiade dari luar kota maupun wali murid dari berbagai sekolah yang belajar di KPM Bojonegoro, juga pengalaman luar biasa mengelola pelaksanaan lomba dengan jumlah peserta yang luar biasa banyak. “Berkah selalu untuk KPM.” doa Bu Guru Revi untuk KPM di akhir wawancara dengan tim Bogorplus. Aamiin.

Tim Media

Read more...

Bekal Hidup Guru

Sumber foto ilustrasi: www.freepik.com

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Jika kehidupan guru diibaratkan sebuah perjalanan, artinya guru membutuhkan bekal hidup agar bisa menempuh perjalanan sampai tujuan akhir. Kehidupan di dunia dan di akhirat, itulah rute perjalanan yang harus dilewati guru. Ada dua bekal hidup yang dibutuhkan guru, yaitu bekal ringan dan bekal yang utama.

Bekal ringan berwujud harta dan tahta. Bekal ringan yang pertama adalah harta. Dengan harta yang dimiliki, guru bisa berfokus mengajar dan mendidik. Guru yang berharta, tak tergoda memperjualbelikan ilmu untuk mendatangkan keuntungan materi.

Karena, guru yang kaya bukan dilihat dari ukuran kepemilikan harta tetapi dari kebesaran dan kejernihan jiwanya. Rasulullah SAW bersabda: “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta benda duniawi. Tetapi yang dikatakan kaya itu adalah kaya jiwa (hati).” (HR Muslim).

Carilah harta secukupnya sebagai bekal menjalani peran hidup sebagai guru. Jangan terobsesi menjadi guru yang kaya raya. Karena, bisa jadi harta yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada harta berlimpah tetapi melalaikanmu dari Allah SWT. Bekal ringan yang kedua adalah takhta.

Buku BEST SELLER Cara Berpikir Suprarasional Karya Ridwan Hasan Saputra, dapatkan di KPM Mart (pesan disini)

Untuk meningkatkan kapasitas diri, ada sebagian guru yang berikhtiar mengisi jabatan-jabatan struktural (kepala sekolah, pengawas, kepala dinas pendidikan, dan sebagainya). Dengan takhta, guru bisa menjadi pemimpin yang menggunakan jabatan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi dunia pendidikan. Jabatan jangan dikejar. Tetapi, jika guru diamanahi jabatan, pergunakanlah dengan penuh tanggung jawab.

Abu Dzar RA berkisah, ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasulullah SAW, apakah engkau tidak mau mengangkat saya sebagai pejabat?” Rasulullah SAW menepuk bahu Abu Dzar RA perlahan seraya bersabda: “Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, sedangkan kekuasaan/jabatan itu adalah amanat. Sungguh jabatan itu pada hari kiamat kelak adalah hina-dina dan penyesalan. Kecuali orang yang menerimanya melaksanakan tanggung jawabnya.” (HR Ahmad & Muslim).

Penulis: Asep Sapa'at (Litbang Klinik Pendidikan MIPA)/Dok. KPM

Mengapa harta dan takhta itu bekal ringan bagi seorang guru? Karena bekal ringan kerap menjebak guru lupa akan tujuan hidupnya yang hakiki. Mengumpulkan harta dan meraih takhta menjadi tujuan utama hidup, bukan menjadi alat perjuangan untuk mencapai ridha Allah SWT.

Jika hal ini terjadi, runtuhlah kehormatan dan kewibawaan guru di mata manusia, terlebih di mata Allah SWT. Lantas, apa bekal utama yang harus dicari dan dipersiapkan guru? Takwa. Karena, dengan bekal takwa, guru bisa meraih kemenangan yang sempurna di dunia dan di akhirat kelak (QS an-Nur: 52; QS Ali Imran: 148).

Di dunia, guru yang memiliki bekal takwa akan diterima semua amal kebajikannya dengan balasan pahala yang besar di sisi-Nya (QS Ali Imran: 172), memiliki jiwa yang tenang dan tenteram (QS al-Araf: 35), dihapuskan semua dosa di masa lalu serta mendatangkan ampunan dari Allah SWT (QS ath-Thalaq: 5; QS al-Anfal: 29), membuahkan kemuliaan dan akhir perjuangan yang membahagiakan (QS Hud: 49).

Di akhirat kelak, guru yang berbekal takwa akan diberi derajat tinggi dan martabat kemuliaan di sisi Allah SWT (QS Yunus: 2). Yang teristimewa, guru bertakwa akan dianugerahi oleh Allah SWT surga Jannatu Naim (QS Al-Qalam: 34) dan Jannatu Adn, surga-surga tertinggi sebagai tempat tinggal untuk selama-lamanya.

Firman Allah SWT: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga-surga Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan-Nya.'' (QS al-Bayyinah: 8).

Jika takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kemuliaan hidup dunia dan akhirat, mengapa kita tak pernah puas mengejar bekal ringan? Wahai guru, renungkanlah. Wallahu alam bishawab.

Tulisan pernah dimuat di Hikmah Republika edisi 15 November 2016.

Read more...
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com