Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

MNR Perbaiki Nalar Matematika Anak

Foto: Buku Pintar MNR merupakan panduan ketika proses pembelajaran matematika di Klinik Pendidikan MIPA 

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan kembali digemparkan dengan mencuatnya isu terjadinya penurunan kualitas kemampuan bernalar matematika anak-anak Indonesia, “Nalar Bermatematika Gawat, Harian Kompas, edisi Senin (12/11/18)”.

Jika dikaji secara mendalam, faktor penurunan kecakapan bernalar tersebut erat kaitannya dengan diterapkannya soal berjenis HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam sistem evaluasi pembelajaran matematika di kalangan pelajar SD hingga SMA.

Sejatinya, soal jenis HOTS tersebut dirancang sebagai pijakan agar pelajar Indonesia (generasi muda) mampu cakap berpikir di era pendidikan abad 21. Seperti yang kita ketahui, era pendidikan abad 21 menuntut lembaga pendidikan untuk mengubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik, menjadi berpusat pada peserta didik. Hal tersebut dilakukan agar para generasi muda terlatih kecakapan berpikir kritis dan kreatifnya.

Seiring berjalan waktu, tim menelaah akar permasalahan lemahnya keterampilan bernalar matematika anak Indonesia. Pada sebuah kesempatan, tim kontributor menyambangi Kantor Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang berpusat di Bogor dan bertemu dengan Muchammad Fachri selalu Kepala Lomba dan Thyeadi Tungson selaku Staf Ahli Litbang, untuk menguak fenomena lemahnya kecakapan bernalar anak Indonesia.

Foto: Kepala Divisi Lomba KPM, Muchammad Fachri/Dok. KPM

Muchammad Fachri mengatakan, berita tersebut memang betul mencerminkan kondisi dunia pendidikan saat ini. Hal tersebut diperkuat dengan hasil data Uji Soal MNR (Matematika Nalaria Realistik) yang telah dilakukan KPM periode September-Oktober 2018 lalu.

Sedangkan Uji Soal MNR merupakan event tahunan yang digelar Klinik Pendidikan MIPA (KPM) guna mengukur kemampuan peserta didik terhadap bidang matematika. Kegiatan yang sukses diikuti sebanyak 352.088 peserta dari berbagai wilayah Indonesia ini menjadi pilihan menarik bagi insan pendidikan karena dinilai sangat membantu pada perkembangan proses belajar matematika siswa.

Fachri mengungkapkan data yang telah dihimpun tim KPM, sebagian besar pelajar Indonesia masih sangat minim kemampuan bermatematikanya. Khususnya dalam bidang geometri dan pemecahan masalah.

“Ketika sudah berbicara lemahnya pemecahan masalah, sebuah pekerjaan rumah yang tak sederhana. Artinya, jika ada siswa yang tak memahami soal berjenis ini, berarti ada persoalan dalam berpikir nalarnya,” kata Fachri.

“Jika diamati, memang banyak faktor yang menyebabkan menurunnya kemampuan bernalar siswa. Beberapa sekolah masih menerapkan sistem belajar matematika yang bersifat hafalan rumus, hitung cepat, dan jarang dihadirkannya latihan soal yang memiliki karakteristik bernalar, sehingga pelajar pun kurang mendapat pengalaman mengerjakan soal-soal yang dapat menstimulus nalar seperti yang diterapkan KPM lewat metode MNR,” ungkap Fachri.

Tim Media

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com