Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

“Merencanakan Kesusahan” Jadi Strategi Orangtua KPM Hadapi Era Globalisasi

Foto: Klinik Pendidikan MIPA (KPM) bekerja sama dengan orang tua membuat strategi dengan konsep “Merencanakan Kesusahan”/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Menyiapkan generasi berkualitas untuk menyongsong era globalisasi merupakan pekerjaan besar bagi setiap kalangan, tak terkecuali para orang tua. Dengan bekal dan perencanaan yang matang sejak dini, mewujudkan generasi bermutu bukan sekedar utopia semata.

Berbicara ihwal masa depan generasi muda, tak bisa terlepas dari sebuah pendidikan. Dimana kesempatan tersebut sedianya dimulai dari keluarga. Keluarga merupakan garda terdepan dalam pembentukan pendidikan karakter bagi generasi muda.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Klinik Pendidikan MIPA (KPM) bekerja sama dengan orang tua membuat strategi dengan konsep “Merencanakan Kesusahan” (dalam hal kebaikan). Hal tersebut ditunjukan para orang tua dengan antusias mengikuti pelatihan cara berpikir suprarasional, yang digelar KPM pada hari Minggu (16/12/2018), bertempat di SD Insan Kamil Bogor, Jawa Barat.

“Acapkali, setiap manusia dalam menghadapi masalah hanya mengandalkan dua aspek, yakni akal dan raga. Belum lagi, orientasi hidup yang kadang melampaui kapasitas wadah rezeki, sehingga berbagai cara pun dilakukan agar persoalan terselesaikan,” kata Endang Purnama Giri, selaku peserta pelatihan.

Foto: Trainer Suprarasional, H. Moh Arodhi membekali para orangtua dengan cara berpikir suprarasional/Dok. KPM

Alumni Jurusan Ilmu Komputer, Universitas Indonesia ini bersyukur, karena pelatihan suprarasional yang didapat, mengantarkannya menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengoptimalkan tiga antena kehidupan, yakni akal, hati, dan panca indera.

Endang mengaku, pelatihan kali ini sangat berbeda daripada yang Ia ikuti selama ini. Hal tersebut didukung oleh penyaji materi yang kompeten, yakni Bapak Arodhi, karena dalam memberikan ilustrasi yang disampaikan berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. “Menariknya, pelatihan tersebut ditutup dengan implementasi secara langsung dengan merencanakan kesusahan berdasarkan kode umum dan kode khusus  untuk menghadapi persoalan hidup,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Neneng Hernawati. Neneng menambahkan bahwa beruntunglah masyarakat Indonesia jika mendapatkan dan menerapkan cara berpikir suprarasional. “Cara berpikir ini merupakan kunci dari permasalahan hidup. Selama ini kita lebih mementingkan konsumsi fisik (raga), jarang sekali membekali hati (jiwa). Jika jiwa sehat, maka InsyaAllah raga pun akan sehat,” ujar orang tua dari Rafidudin kelas 5 SDIT Kaifa Bogor.

Sementara itu, Trainer Suprarasional H. Moh Arodhi mengatakan, esensi menghidupkan hati (jiwa) adalah sebuah keniscayaan. “Jika hati sudah hidup, maka secara otomatis antena akal dan panca indera akan semakin optimal untuk mendapatkan tabungan jiwa. Salah satu aktivitas yang bisa menambah tabungan jiwa adalah dengan merencanakan kesusahan. Diharapkan, dengan diberikannya pelatihan suprarasional, para orang tua akan memiliki pengetahuan, keterampilan dan mengaplikasikan di dalam keluarga, sehingga kedepannya akan terwujud keluarga suprarasional,” tutupnya.

Tim Media 

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com