Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Bangsa Besar adalah Bangsa Suprarasional

Penulis: Asep Sapa’at (Penikmat Cara Berpikir Suprarasional)

Resensi Buku
Judul : Cara Berpikir Suprarasional
Penulis : Raden Ridwan Hasan Saputra
Penerbit : PT Pustaka Abdi Bangsa) Jakarta
Cetakan : Pertama, April 2017

Tebal : X + 178 halaman

ISBN : 978-602-08226-6-2

Kualitas cara berpikir bisa menentukan kualitas kehidupan suatu masyarakat di suatu bangsa. Baik kualitas cara berpikirnya, baik pula kualitas hidupnya.

Sebaliknya, rusaknya nalar dan cara berpikir bisa memengaruhi terjadinya kerusakan dalam kehidupan. Ada empat cara berpikir manusia, yaitu cara berpikir natural, rasional, supranatural, dan suprarasional (hlm. 6).

Berdasarkan pengalaman nyata yang dialami penulis buku, cara berpikir suprarasional berpotensi membuat seseorang menjadi orang besar. Hal ini pun berlaku bagi suau bangsa yang bercita-cita menjadi bangsa yang besar.

Cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir orang rasional yang dipakai ketika menghadapi masalah yang sangat sulit bahkan tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir rasional. Saat kebuntuan dihadapi, orang suprarasional meminta pertolongan kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini.

Dulu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang menikmati hasil dari cara berpikir suprarasional. Secara rasional, bangsa Indonesia tidak mungkin bisa mengalahkan penjajah yang memiliki kekuatan persenjataan canggih. Namun, keyakinan para pejuang kemerdekaan kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi modal utama dalam nafas perjuangan bangsa di masa perjuangan kemerdekaan.

Semua elemen bangsa bersatu padu dan bahu-membahu mengorbankan jiwa dan raga mereka tanpa pamrih. Semua demi satu tujuan: kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, wujud adanya peran Allah Swt dalam kemerdekaan bangsa Indonesia secara tersurat dituangkan dalam pembukaan UUD 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...” (hlm. 12).

Namun seiring berjalannya waktu, bangsa Indonesia didera persoalan besar. Masyarakat Indonesia cenderung menanggalkan cara berpikir suprarasional dalam kehidupan. Pemimpin tak bervisi. Politisi dan penegak hukum korup. Cendekiawan menggadaikan integritas. Pebisnis tamak.

Penulis sangat fasih memberikan ilustrasi adanya masalah cara berpikir manusia Indonesia dalam menjalani kehidupan. Mengapa bantuan modal usaha dari pemerintah tidak berhasil memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat?

Mengapa ada orang pintar tetapi tidak sukses? Mengapa ada sarjana yang menganggur? Mengapa banyak pejabat yang korupsi? Mengapa semakin banyak sekolah berdiri, semakin banyak lulusan yang tak terdidik? Jawabnya, karena kita salah memilih majikan. Kita menjadikan kekayaan, jabatan, kekuasaan, popularitas menjadi tuan kita. Saat tuan berubah menjadi Tuhan baru bagi masyarakat Indonesia, masalah datang silih berganti dan entah kapan bisa diakhiri.

Menjadikan Allah atau Tuhan sebagai majikan adalah pilihan cerdas bagi seseorang atau suatu bangsa. Hanya orang suprarasional yang mau dan mampu melakukannya. Dalam hidupnya, karyawan Allah atau Tuhan akan mengalami kondisi berkecukupan atau berkelimpahan (hlm. 15).

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya...” Pesan di lagu Indonesia Raya sangat jelas dan tegas. Bangsa Indonesia harus membangun jiwa dan raga secara seimbang. Pemerintah harus menyadari dan aktif mengembangkan program pemenuhan kebutuhan raga—pangan, sandang, papan--dan kebutuhan jiwa masyarakat Indonesia. Dalam bukunya, penulis menyebutkan kebutuhan raga menghasilkan tabungan raga (uang) dan kebutuhan jiwa menghasilkan tabungan jiwa (pahala).

Buku BEST SELLER Cara Berpikir Suprarasional Karya Ridwan Hasan Saputra, dapatkan di KPM Mart (pesan disini)

Tabungan raga bersifat terbatas. Contoh, jika kita ingin membeli sepeda motor senilai Rp 15.000.000,00 dan kita memiliki uang Rp 16.000.000,00, kita bisa memiliki sepeda motor tersebut. Sebaliknya, jika kita memiliki uang kurang dari Rp 15.000.000,00, otomatis kita tak bisa membeli sepeda motor tersebut.

Lain halnya ketika kita bicara tabungan jiwa. Saat seseorang terlahir dari keluarga miskin, dia masih punya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Saat dia rajin beribadah kepada Tuhan, semangat menuntut ilmu, hormat pada guru, menolong orang lain yang sedang membutuhkan, maka semua kebaikan yang dilakukan bisa menghasilkan tabungan jiwa.

Tabungan jiwa bisa dikonversi dalam bentuk harta, ilmu, keberhasilan hidup, dan sebagainya. Tegasnya, orang yang memiliki surplus tabungan jiwa karena keikhlasan dalam berbuat kebaikan, niscaya dia akan mendapatkan apa pun yang diharapkannya. Tabungan jiwa tidak hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan nonmateri (rumah tangga harmonis, anak-anak pintar dan saleh, para pejabat jujur, para pemimpin berlaku adil, rakyat sejahtera, bangsa beradab, dan sebagainya).

Indonesia terus meniti jalan takdirnya menjadi sebuah bangsa. Bangsa yang gemah ripah loh jinawi tetapi punya utang. Bangsa yang berlimpah sumber daya alam namun masyarakatnya miskin. Anomali.

Bangsa Indonesia harus hijrah menjadi bangsa suprarasional. Pemimpin bangsanya kompeten dan visioner. Politisinya berkarakter negarawan. Penegak hukumnya berintegritas. Cendekiawannya jujur. Para pengusahanya bertanggung jawab dan tidak serakah.

Saat cara rasional sudah dilakukan dan menemui jalan terjal untuk menyelesaikan beragam persoalan bangsa, hijrah menjadi bangsa yang berpikir suprarasional wajib diikhtiarkan.

Bangsa suprarasional memiliki surplus tabungan jiwa karena semua elemen masyarakatnya ‘kecanduan’ berbuat kebajikan. Pemimpinnya adil, masyarakatnya sejahtera. Tatanan kehidupan berjalan harmoni. Sesama elemen bangsa saling menolong dan menenun kebaikan. Hanya dengan cara inilah kita bisa merawat Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Tulisan ini pernah tayang di Tribun Sumsel edisi Minggu, 11 Februari 2018

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com