Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Suprarasional, Solusi Guru Mogok

Foto: Ridwan Hasan Saputra, Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Miris, ribuan guru honorer di Indramayu mogok mengajar mulai 15 oktober 2018. Mogoknya guru honorer ini sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap tidak peduli terhadap nasib mereka. Situasi mogok mengajar ini tidak bisa diperkirakan kapan akan berakhir (Republika, 15/10/2018). Fenomena mogok mengajar ini bisa jadi akan merembet ke berbagai kota lain di Indonesia. Jika hal ini dibiarkan terjadi, hal ini akan menjadi sebuah masalah besar. Menurut saya, dibalik kejadian ini, ada solusi besar yang harus dilakukan agar dapat menyelesaikan berbagai masalah guru di Indonesia.

Kisah Orang Bogor yang Mendunia dengan Keropak (ikuti kisahnya dengan memesan buku ini disini)

Sesungguhnya, guru adalah profesi yang sangat terhormat. Sebab guru bermakna digugu dan ditiru. Tidak ada profesi seperti itu, yang punya kekuatan luar biasa jika guru bisa menjalankan perannya dengan baik. Merujuk pada undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Tugas utama guru adalah mendidik. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah. Sebab, seorang pendidik akan berhasil mendidik anak ketika dirinya mempunyai nilai-nilai kehidupan yang baik. Nilai yang paling utama yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah moralitas dan kesetiaan kepada pekerjaan. Tugas mengajar adalah tugas kedua seorang guru setelah tugas mendidik. Banyak guru yang mengajar, tetapi tidak mendidik. Hasilnya, muridnya pintar tetapi perilakunya kurang baik. Jika guru tidak mau mengajar, maka otomatis guru tersebut tidak melakukan pendidikan. Sehingga dalam kasus guru mogok mengajar, guru telah meninggalkan dua pekerjaan yang sangat penting, yaitu mogok mendidik dan mogok mengajar.

Sikap yang dilakukan oleh para guru honorer ini bisa dimafhumi bersama karena mereka pun berhak untuk hidup sejahtera. Sebab, bisa jadi apa yang mereka lakukan sebagai guru honorer beban kerjanya sama atau bahkan lebih berat daripada guru-guru yang sudah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Sehingga para guru honorer ini menuntut kesamaan pendapatan atau minimal kejelasan pengangkatan sebagai ASN. Masalah lain yang muncul adalah anggaran negara bisa jadi belum mencukupi untuk bisa mengangkat para guru honorer ini secara besar-besaran. Belum lagi masalah teknis lain, apakah para guru honorer ini masuk kriteria untuk dijadikan ASN dengan kategori profesi guru atau pendidik profesional sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1. Masalah ini seperti mengurai benang kusut yang harus segera dicarikan solusinya.

Solusi masalah guru mogok mengajar bisa dibagi menjadi 2, yaitu solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang. Sebelumnya, mari kita lihat terlebih dahulu, mengapa sekarang bisa terjadi mogok kerja di kalangan guru honorer sekolah-sekolah negeri. Padahal, di kalangan dunia pesantren atau sekolah-sekolah yang berbasis organisasi keagamaan, tidak pernah kita mendengar guru-gurunya melakukan demo mogok mengajar. Padahal, bisa jadi gaji atau honor yang guru-guru itu terima sama atau bahkan lebih kecil dari honor guru honorer di sekolah-sekolah negeri. Begitu pula guru-guru honorer di zaman dahulu. Tidak pernah tersiar kabar ada demo guru mogok mengajar. Padahal, guru honorer zaman dulu jauh lebih sulit. Situasi ini akan berbeda seandainya perhatian pemerintah saat ini jauh lebih baik kepada para guru honorer. Jawabannya, menurut saya adalah keikhlasan menjadi guru.

Jika dilihat dari fenomena tersebut di atas, ada sesuatu yang harus dikaji terkait guru honorer saat ini. Para guru honorer saat ini kebanyakan adalah hasil pendidikan zaman sekarang yang orientasinya adalah materi. Dalam benak para guru honorer ini hampir bisa dipastikan tujuan menjadi guru orientasi utamanya adalah mencari uang, bukan pengabdian untuk membina generasi muda agar menjadi lebih baik. Sehingga tidak ada kesetiaan pada profesi, yaitu mendidik para muridnya. Hal ini bukan sepenuhnya kesalahan guru honorer, sebab mereka juga adalah korban hasil pendidikan yang lebih berorientasi pada materi. Nah untuk masalah ini harus ada solusi jangka panjang, yaitu mengubah kurikulum. Supaya pendidikan kita bisa menciptakan manusia-manusia yang tidak berorientasi pada materi semata, tetapi juga pada pengabdian bangsa dan negara. Nilai-nilai keimanan, dalam hal ini penyadaran tentang hakikat tugas manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai  tujuan hidup harus tertanam dalam hati peserta didik.

Solusi jangka panjang dapat dilakukan dengan cara mengubah cara pandang masyarakat terhadap guru. Jadikanlah profesi guru menjadi profesi yang terhormat dengan kesejahteraan yang tinggi dan kualitas manusia yang tinggi pula. Sehingga banyak anak-anak pintar dan bahkan terpintar di negeri ini pun berminat menjadi guru. Kemudian, pemerintah harus berani menghukum guru-guru yang terbiasa memanipulasi nilai rapor untuk keuntungan pribadi atau melakukan praktik jual beli nilai. Sehingga potensi anak-anak pintar menjadi terbengkalai. Hal yang sangat penting lainnya adalah pengelolaan guru harus dilakukan secara sentralistik oleh pemerintah pusat, tidak dilakukan oleh pemerintah daerah.

Solusi jangka pendek adalah membentuk guru suprarasional. Solusi guru suprarasional muncul berdasarkan pengalaman pribadi yang sangat mungkin bisa menjadi solusi umum. Solusi ini mudah dan murah untuk dilakukan. Saya pernah menjadi guru honorer di SMA Negeri di kota Bogor sekitar 3 tahun dari mulai akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an. Menjadi guru honorer kehidupannya memang sulit karena gajinya sangat kecil. Sehingga saya harus berangkat mengajar dengan cara jalan kaki daripada naik ojeg. Kemudian selepas mengajar, saya isi dengan kegiatan mengajar les privat kesana kemari sampai malam hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, puasa Senin Kamis sering saya lakukan untuk mencapai berbagai manfaat. Ternyata, setelah melakukan hal-hal tersebut, hidup saya tidak berubah. Perubahan hidup terjadi saat saya menjadi guru honorer justru ketika saya mengubah cara berpikir saya. Awalnya saya bekerja untuk mencari uang, lalu tujuan tersebut diubah hanya untuk mendapat ridho Allah. Cara berpikir itu, saya menyebutnya cara berpikir suprarasional.

Guru suprarasional adalah guru yang mengajar dengan tujuan untuk mendapatkan ridho Allah. Guru suprarasional adalah guru yang meyakini Allah yang memberikan rezeki, bukan pihak sekolah atau pihak pemerintah. Sehingga guru suprarasional tidak berpikir berapa gajinya yang diberikan pihak sekolah atau pihak yayasan. Saya jadi semakin meyakini kalau Allah Maha kaya. Karena selama 3 tahun saya menjadi guru honorer dan mengajar les privat hanya karena tujuan uang, ternyata hidup saya tidak berubah menjadi sejahtera, bahkan malah awet susah. Tetapi, setelah saya menjadikan Allah sebagai tujuan dalam mendidik dan mengajar, rezeki saya malah  terus bertambah. Padahal waktu itu, justru saya melakukan hal yang ekstrem, yaitu mengajar tanpa menentukan tarif atau bayaran seikhlasnya.

Menurut saya, cara berpikir ini harus dimiliki oleh para guru, baik para guru yang sudah menjadi ASN, guru honorer, bahkan guru di sekolah swasta. Jika para berguru selalu berharap kesejahteraan dari pemerintah atau yayasan, para guru harus siap kecewa. Sebab, pemerintah dan yayasan punya keterbatasan. Tetapi, jika para guru minta kesejahteraan kepada Allah yang Maha Kaya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka para guru tidak akan pernah kecewa. Mari kita anggap bahwa menjadi guru saat ini adalah bekerja kepada Allah dan Allah yang akan memberi upah pada kerja kita. Keyakinan seperti ini harus ditanamkan pada guru honorer sehingga tidak akan terjadi aksi mogok mengajar.

Solusi untuk mengganti guru honorer dengan TNI, POLRI, Guru Pesantren atau relawan pendidikan bukanlah solusi yang punya dampak jangka panjang bahkan membuat guru honorer menjadi semakin kecewa. Pemerintah harus menghargai pengorbanan para guru honorer selama ini. Solusi yang menurut saya paling tepat adalah memenuhi keinginan para guru dengan syarat mereka harus mengikuti pelatihan dan menjadi guru suprarasional terlebih dahulu sebelum mereka menjadi ASN. Jika mereka sudah menjadi guru suprarasional, mereka sudah tidak lagi menuntut untuk menjadi ASN. Sebab, rezeki dari Allah jumlahnya jauh lebih besar. Seperti saya, saya menyelesaikan tulisan ini di Langkawi Malaysia. Setelah saya mengajar guru-guru di Malaysia, saya bahagia meskipun saya bukan Aparatur Sipil Negara.

 

Tulisan pernah dimuat di Opini Republika edisi 17 Oktober 2018

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com