Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

KPM Kembangkan Kreativitas Mengajar Guru Sains


Foto: Pelatihan Sains Nalaria Realistik (SNR), 16-19 Juli 2019/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Prestasi belajar sains anak Indonesia kurang menggembirakan jika dilihat dari hasil studi internasional. Hal ini dapat dilihat dari data Program for International Student Assessment (PISA) 2015. Dari 70 negara yang berpartisipasi pada PISA 2015, Indonesia menempati posisi ke-62 untuk pelajaran sains. Senada dengan hasil studi PISA 2015, hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2016 tingkat Nasional pun menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains anak Indonesia sangat lemah dengan rincian 73,61% anak memiliki kemampuan sains kurang, 25,38% anak memiliki kemampuan sains cukup, dan hanya 1,01% anak memiliki kemampuan sains yang baik (Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemendikbud, 2016).

Foto: Belajar Sains Semakin Asyik dengan Buku BISA Karya Klinik Pendidikan MIPA (pesan disini)

Secara umum, pemahaman dan penalaran saintifik siswa masih lemah. Para siswa pun kurang memahami konsep sains secara bermakna dan masih terpaku pada penjelasan buku teks. Hal ini diungkapkan oleh Esti Rahmawati, salah satu peserta pelatihan Sains Nalaria Realistik (SNR) yang diselenggarakan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di ruko laladon Ciomas, Bogor (16-19/07). Menurutnya, anak-anak cenderung belajar sains pada level tahu tanpa memahami konsep secara mendalam. “Metode pembelajaran satu arah menyebabkan anak-anak belajar sains tanpa berpikir kritis. Padahal, keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu aspek penting yang harus dilatihkan agar kemampuan sains anak-anak menjadi bagus.” ujar guru SD Plus Al Kautsar Malang ini. Slamet Wahyudi menuturkan hal senada terkait tak terasahnya kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah anak dalam aktivitas pembelajaran sains di kelas. Guru SDIT Ar-Ridho ini mengungkapkan bahwa anak-anak kurang diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan sains dengan cara mereka sendiri. “Karena anak-anak tak difasilitasi untuk membangun pengetahuannya sendiri, kreativitas dan pemecahan masalah mereka kurang terasah. Anak-anak hanya tahu ilmu sains tanpa memahami arti dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari”, ujarnya penuh semangat.

Reformasi pembelajaran dan peningkatan kapasitas guru sains menjadi kata kunci untuk mewujudkan paradigma pembelajaran sains yang bermakna, kontekstual, dan menyenangkan bagi anak-anak Indonesia. KPM melalui kegiatan pelatihan SNR hadir dan berupaya memberikan kontribusi untuk mencapai hal tersebut. Pelatihan SNR dirancang untuk membantu para guru agar bisa mengembangkan inovasi dan kreativitas mereka dalam mengajar sains.

SNR merupakan pendekatan pembelajaran yang mengembangkan daya nalar. Ina Ana khoeriah, Kepala Divisi Litbang IPA di KPM mengatakan bahwa belajar sains tak harus dihafal, tetapi harus dipahami secara bermakna dengan mengedepankan kemampuan bernalar. “Hal penting bagi para siswa dalam mempelajari sains adalah pemahaman konsep. Pemahaman konsep penting dikuasai sebagai fondasi untuk mempermudah belajar sains di tahap berikutnya.” ungkap narasumber Fun Science Republika ini.

SNR mengembangkan tahapan-tahapan penyajian materi dalam pembelajaran sains, mulai dari penyajian masalah nyata, pemahaman konsep, penalaran komunikasi, pemecahan masalah, eksplorasi sains, dan pelaksanaan praktikum dengan metode STEAM (Science Technology Engineering Art Mathematics). Semua tahapan pembelajaran ini disajikan dan disimulasikan dalam pelatihan SNR bagi para guru dan praktisi pendidikan sains. Fenni Pratiwi, pengajar di SDIT Ash-Shibgoh menyampaikan rasa bahagianya bisa berpartisipasi dalam pelatihan SNR. Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman baru, terutama tentang konsepsi SNR, beliau juga merasa terpacu untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar sains di sekolah. “Selesai acara pelatihan SNR ini saya akan kembali ke sekolah dan membagikan ilmu ini ke rekan-rekan sejawat serta mempraktikkan ilmu SNR agar saya semakin paham manfaat penerapan SNR dalam pembelajaran sains.” tandasnya.

Tim Media

 

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com