Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Jalan Tengah Calon Mendikbudristek || Oleh: Arya (Pengamat Pendidikan)

 

Isu reshuffle kabinet yang kedua pada pemerintahan Jokowi di periode 2 menjadi berita yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. Posisi menteri yang seksi untuk diperhatikan adalah posisi Mendikbudristek, sebab posisi ini merupakan posisi strategis sehingga banyak kalangan yang menginginkan. Minat yang besar terhadap posisi ini terbukti dengan banyaknya berita dan opini di berbagai media yang membahas kinerja Mendikbud Nadiem Makarim. Berbagai kasus lama diangkat kembali dan berbagai kasus baru dimunculkan. Hal ini sebenarnya memberi isyarat kepada presiden Jokowi kalau sebaiknya Mas Nadiem ikut di-reshuffle pada gerbong reshuffle periode kedua ini.

Reshuffle ini sepenuhnya adalah hak presiden, penulis sebagai orang dari kampung yang peduli dengan pendidikan mencoba memberikan pandangan yang bisa jadi kurang tepat, karena maklum penulis adalah pengamat pendidikan kelas kampung. Penulis melihat bahwa banyaknya berita atau opini yang bernada kecewa dengan kinerja Mas Nadiem bisa jadi mengandung banyak kebenaran, karena tidak semua menulis dengan kepentingan politik.

Ada fenomena yang menarik di beberapa hari terakhir menjelang reshuffle. Banyak berita yang menampilkan seorang tokoh Muhammadiyah  pantas untuk menjadi pengganti Mas Nadiem. Di saat yang hampir bersamaan muncul berita tentang kekecewaan warga Nahdlatul Ulama karena K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU hilang namanya di Kamus Sejarah Jilid 1.  Saat opini ini sedang ditulis muncul berita kalau PBNU menilai Nadiem Makarim kompeten  pimpin Kemdikbudristek. Muncul juga berita bahwa Mas Nadiem sowan ke Ibu Megawati Ketua Umum PDI Perjuangan.

Saya mencoba menganalisa fenomena yang terjadi saat ini dan mungkin memberi masukan kelas kampung untuk situasi saat ini. Melihat fenomena yang ada sangat mungkin pemerintah sudah tahu fakta sebenarnya tentang kinerja Mas Nadiem, sehingga mulailah melirik tokoh Muhammadiyah sebagai alternatif untuk mengganti posisi Mas Nadiem.  Di saat yang bersamaan muncul kekecewaan yang tulus dari warga Nahdliyin atas dihilangkannya Nama K.H. Hasyim Asy’ari di kamus sejarah. Ketika Muhammadiyah dan NU bersama-sama kecewa dengan fakta yang benar adanya, tentunya posisi Mas Nadiem menjadi tidak aman.

Gerakan Mas Nadiem  ke Ibu Megawati sebagai ketua umum PDI Perjuangan merupakan gerakan yang cerdas ingin menyelamatkan posisi Mas Nadiem sebagai Mendikbudristek. Tapi kalau saya berkeyakinan Ibu Megawati adalah politikus yang sangat berpengalaman, jadi beliau sangat paham apa yang seharusnya dilakukan. Hal yang unik adalah kenapa tiba-tiba PBNU mendukung Mas Nadiem tetap menjadi menteri, hal ini tentu tidak lepas dari rivalitas antara NU dengan Muhammadiyah. Tidak bisa dipungkiri semenjak Mas Nadiem menjadi Mendikbud hubungan Kemendikbud dan PBNU semakin akrab terutama setelah adanya kasus Program Organisasi Penggerak.

Situasi saat ini jadi semakin rumit, karena secara faktual banyak organisasi yang mempermasalahkan kinerja Mas Nadiem.  Rivalitas antara NU dengan Muhammadiyah pun akan semakin terasa ketika Mas Nadiem masih di pertahankan (maaf jika saya salah). Jika  terjadi rivalitas NU dengan Muhammadiyah semakin tajam, maka hal ini akan memicu rivalitas di berbagai sektor tidak hanya pendidikan. Sebab kedua organisasi besar ini ada di berbagai bidang kehidupan di Indonesia. Jika hal ini terus dipelihara maka akan menjadi masalah besar di kemudian hari terutama dalam hal persatuan dan kesatuan.

Solusi dari pengamat kampung adalah dicari jalan tengah dengan memilih seorang Mendikbudristek yang merupakan orang NU sekaligus orang Muhammadiyah. Orang tersebut merupakan orang yang berkompeten di bidang pendidikan (gelar doktor atau profesor di bidang pendidikan) dan mempunyai kiprah yang nyata di bidang pendidikan dan teknologi. Pertanyaan menariknya adalah adakah tokoh yang mempunyai kompetensi itu tetapi tokoh tersebut adalah orang NU dan Muhammadiyah. Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, tetapi ada petunjuk yang menarik, di NU yang dimaksud orang NU ada dua macam yaitu NU struktural (pengurus NU) dan NU kultural (orang yang keluarganya mengikuti tata cara NU). Sedangkan di Muhammadiyah yang dimaksud orang Muhammadiyah biasanya adalah orang yang mempunyai kartu anggota Muhammadiyah atau yang aktif di organisasi Muhammadiyah. Tentunya orang ini harus dikenal di lingkungan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dan di lingkungan LP Ma’arif Nahdlatul Ulama.

Pemilihan orang yang kompeten di bidang pendidikan serta merupakan orang NU dan Muhammadiyah ini merupakan jalan tengah. Supaya NU dan Muhammadiyah bisa berjalan bersama. Insya Allah jika NU dan Muhammadiyah sudah berjalan bersama, maka ormas-ormas lain di bidang pendidikan bisa turut bersama dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia. Sehingga kegaduhan dalam bidang pendidikan akan jauh berkurang. Siapakah orangnya yang dimaksud? Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang (orang yang rajin berzikir) dan Mbah Google.

Ini hanya analisa pengamat kelas kampung, mohon maaf jika salah.

Bogor, 21 April 2021

back to top
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com