Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

Saatnya Guru Berpikir Suprarasional

Foto: Pelatihan Suprarasional MKKS SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 04-05 Maret 2019/Dok. KPM

Bogorplus.com-Sidoarjo, Jawa Timur – Sebanyak 65 guru dan kepala sekolah SD/MI Muhammadiyah sangat antusias mengikuti pelatihan “Berpikir Suprarasional dan Metode Pembelajaran Matematika Nalaria Realistik(MNR)” bersama pencetus Metode MNR dan Suprarasional, Ir. Ridwan Hasan Saputra, M.Si.

Selama dua hari, tanggal 4-5 Maret 2019 di Auditorium Mas Mansyur SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo, semua peserta mengikuti pembinaan dan pelatihan dengan penuh semangat hingga sesi terakhir.

Pak Achmad Irjik, S.Ag selaku ketua MKKS SD/MI Muhammadiyah Sidoarjo mengutip ayat Al Quran di Surah Ar Rahman di awal pembukaan acara:

 

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

 فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

 

"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Beliau mengutip ayat ini untuk mengingatkan dan memotivasi guru bahwa mengajar harus mengedepankan niat ikhlas karena Allah. Selebihnya, setiap kebaikan dalam mengajar dan mendidik akan dibalas Allah dengan kebaikan yang lebih banyak sesuai janji Allah.

Senada dengan itu, Pak Ridwan mengingatkan guru bahwa dalam mengajar jangan hanya mengejar materi saja. Karena sejatinya, manusia hidup membutuhkan kebutuhan fisik/nyata dan kebutuhan metafisik/gaib. Kebutuhan fisik yang bisa dilihat secara kasat mata dan bisa dipenuhi dengan tabungan materi seperti sandang, pangan, papan.

Sedangkan kebutuhan metafisik/gaib seperti wibawa, anak saleh, pasangan hidup yang saleh/salehah tidak bisa dipenuhi dengan bayaran fisik/materi. Namun, hanya bisa dibayar dengan tabungan jiwa. Tabungan jiwa tersebut meliputi fisik, akal, dan hati. Tabungan itu bisa dicairkan atau ditukarkan dengan kebutuhan fisik saat dibutuhkan.

Ada kisah seorang ulama yang memiliki tabungan jiwa berupa akal seperti Imam As Syafi’i. Dengan kecerdasan akalnya dan ketawadhuannya terhadap gurunya menjadikannya seorang ulama yang disegani di zamannya. Bahkan, karyanya masyhur hingga kini dan menjadi rujukan dalil bagi umat Islam.

Lebih hebatnya lagi, ada seorang pemuda yang memiliki gabungan ketiganya, yaitu fisik, akal, dan hatinya. Namanya Muhammad Al Fatih. Ia menguasai bahasa Yunani dan 6 bahasa lainnya ketika berusia 21 tahun. Sebagaimana telah disebutkan di atas, pada usia itu pulalah A-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Ia melatih akalnya dengan belajar Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran. Ia pun menjaga hatinya dengan senantiasa melatih dirinya dengan karakter ksatria dan mendekatkan dirinya pada Allah dengan banyak beribadah.

Secara fisik, ia sendiri ikut berangkat ke medan laga saat perang. Sang sultan tidak gentar berperang melawan musuh dengan pedangnya sendiri. Tentu hanya orang yang berfisik kuat dan pemberani yang bisa melakukan peperangan di medan pertempuran.

Maka, jika seorang guru ingin mendapatkan kemuliaan dimata Allah, sudah saatnya mengajar tidak lagi berpikir mengejar materi saja. Namun, justru sebaiknya mulai merancang ulang dirinya untuk berpikir suprarasional dengan melatih fisik, akal, dan jiwanya.

Buku BEST SELLER Cara Berpikir Suprarasional Karya Ridwan Hasan Saputra, dapatkan di KPM Mart (pesan disini)

Latihan fisik, guru hendaknya rajin berolah raga agar tidak sakit-sakitan. Latihan akal, guru harus terus belajar. Jangan malas belajar agar tidak memalukan ketika tidak bisa menjawab pertanyaan siswanya karena kurangnya belajar. Kuliah lagi jika ada kesempatan.

Terus mendekatkan diri pada Allah untuk membangun jiwa dan kedekatan diri pada pemilik alam semesta dengan memperbanyak amalan sunnah diluar ibadah wajib. Dengan demikian, tabungan jiwa akan semakin banyak. Suatu saat ketika dibutuhkan bisa ditukarkan dengan kebutuhan nyata/fisik seorang guru.

“Alhamdulillah, ilmu matematika hanya efek samping, yang utama adalah ilmu suprarasional yang mengantarkan kita menuju sukses dunia akhirat”, itulah komentar Ibu Anna Mey Jayanti, salah satu guru SD Muhammadiyah 10 Balong Bendo.

Penulis: Abdullah Makhrus (Guru SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo dan Ketua Sekolah Center Muhamadiyah Sidoarjo)

Begitu pula komentar Zaenal, seorang mahasiswa yang kini juga menjadi pengajar Sekolah Center Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Sidoarjo yang mengatakan, “Saya pribadi sangat berterima kasih. Adanya pelatihan ini telah memberi pengalaman baru bagi saya. Pengalaman tersebut memacu saya agar lebih kreatif lagi menjadi seorang guru. Besar harapan saya agar pelatihan-pelatihan tersebut menjadi agenda rutin”.

Begitu banyak motivasi dan inspirasi yang didapatkan peserta pelatihan selama dua hari. Rasanya ilmu yang sudah dimiliki terasa masih kurang dan ingin terus belajar dan berharap akan ada pelatihan seperti ini di bulan-bulan berikutnya.

Read more...

Teguh Imam Agus Hidayat: Esensi Berhitung itu Bukan Menghafal

Foto: Teguh Imam Agus Hidayat, Litbang Klinik Pendidikan MIPA/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat - Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari hal-hal yang terkait dengan kegiatan berhitung. Sementara, tidak semua orang suka dan pandai dalam matematika. Melalui metode kotak-kotak, perhitungan matematika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian menjadi lebih mudah dipahami. “Berhitung itu tidak perlu menghafal”, tegas Teguh Imam Agus Hidayat, Kepala Litbang Matematika di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa metode kotak-kotak dirancang untuk mempermudah anak dalam berhitung. Metode yang tepat digunakan untuk menanamkan konsep dasar berhitung bagi para siswa kelas bawah (kelas 1 SD sampai kelas 3 SD) serta untuk orang yang tidak suka matematika. “Anak-anak bisa belajar dengan menggambar kotak-kotak, sesuatu yang konkret bagi anak-anak. Anak-anak langsung melakukan simulasi berhitung dengan kotak-kotak yang tersedia di lembar kerja.” pungkas pemilik gelar magister pendidikan ini.

Metode kotak-kotak merupakan hasil kajian Bapak Ir. R. Ridwan Hasan Saputra, M.Si dan Tim KPM yang telah diujicobakan di berbagai sekolah, pesantren, dan berbagai instansi. Metode yang sangat cocok untuk membantu anak-anak yang tidak suka matematika agar lebih mudah memahami perhitungan matematika. Anak-anak akan lebih menikmati dan senang belajar karena mereka diajak menggambar kotak-kotak terlebih dahulu sebagai strategi untuk berhitung. Proses menggambar ini akan membuat anak aktif membangun pengetahuan. Karena anak aktif membangun pengetahuan tentang konsep berhitung lewat metode kotak-kotak, pemahaman mereka tentang konsep berhitung bisa lebih baik daripada hanya dijelaskan oleh gurunya saja.

Jadi teringat dengan pepatah Cina, “Jika saya dengar, saya lupa. Jika saya lihat, saya ingat. Jika saya lakukan,  saya paham.” Tunggu apa lagi, segera praktikkan metode kotak-kotak untuk pembelajaran anak-anak kita! Selamat mencoba.

Tim Media

Dapatkan buku berhitung dengan metode kotak-kotak di KPM Mart (pesan disini)
Read more...

SMPIT Al Hassan Fokus Perkuat Pembelajaran Matematika Berbasis Nalar

Foto: Sosialisasi KMS di SMPIT Al Hassan Bekasi/Dok. KPM

Bogorplus.com-Bekasi, Jawa Barat – Lembaga Pendidikan SMPIT Al Hassan Bekasi tengah fokus menggarap program peningkatan kualitas guru dan proses pembelajaran matematika berbasis nalar. Program tersebut hendak diwujudkan dengan cara membuka Klub Matematika Seikhlasnya (KMS). 

Hal ini disampaikan Kepala SMPIT Al Hassan, Arif Shohiburrohman saat membuka acara KMS yang digelar di Aula SMPIT Al Hassan, Sabtu (02/03).

Dalam program ini, SMPIT Al Hassan melibatkan kerja sama dengan tiga lembaga, yakni Ponpes Modern Al Hassan, Yayasan Averroes Center, dan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) selalu penggagas program KMS.

Foto: Sosialisasi KMS di SMPIT Al Hassan Bekasi/Dok. KPM

“Saya pikir sudah saatnya kita melakukan terobosan untuk memperkuat akademik, terutama dalam pelajaran matematika dan sains. Program KMS yang digagas KPM selaras dengan cita-cita lembaga kami. Program ini bisa memfasilitasi minat dan bakat anak sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing anak-anak dalam menjawab tantangan global,” tutur Arif Shohiburrohman.

Arif juga menambahkan pentingnya menyiapkan anak-anak sejak dini agar kelak mereka bisa menjadi calon ilmuwan besar. “Kita berharap, melalui program Klub Matematika Seikhlasnya (KMS) yang telah kita mulai pada tanggal 02 Maret 2019 ini, akan lahir generasi-generasi seperti para ilmuwan muslim sebelumnya, yakni Ibnu Sina, Ibnu Rusdy dan Al-Khawarizmi,” tutupnya.

Tim Media

Read more...
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com