Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

KPM Ajak Pelajar Perkuat Literasi Sains Lewat ROSC

Sumber foto: www.freepik.com

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Sebagai bangsa yang besar, sudah sepatutnya Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21. Penguasaan enam literasi dasar yang telah disepakati Word Economic Forum pada tahun 2015 menjadi sangat penting bagi peserta didik. Salah satu di antara enam literasi dasar yang perlu dikuasai adalah literasi sains.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ridwan Hasan Saputra (RHS) sebagai salah satu pemerhati pendidikan turut andil guna mendukung penguatan literasi sains. Langkah konkret yang kini digagas RHS adalah mengajak para pelajar kelas 4 SD – 11 SMA untuk mengikuti Read1 Online Science Competition (ROSC). Kompetisi perdana yang  digelar Klinik Pendidikan MIPA (KPM) akan diselenggarakan pada Minggu (26/7/20) dengan biaya pendaftaran seikhlasnya (sesuai kemampuan).

Gelaran ROSC tidak hanya memberikan kesempatan para pelajar untuk mengikuti kompetisi, tetapi yang jauh lebih penting adalah menstimulus para pelajar agar memiliki pemikiran inovatif dan kreatif. Sebab, soal-soal yang akan disajikan berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Dalam metode pembelajaran di KPM lebih dikenal dengan istilah Sains Nalaria Realistik (SNR).

Ina Ana Khoeriah selaku Litbang KPM mengatakan, ROSC merupakan langkah konkret agar siswa mampu mengidentifikasi masalah, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena secara ilmiah, dan mengambil kesimpulan berdasarkan bukti-bukti.

Ina menambahkan ikhtiar yang dilakukan KPM merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dalam upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berilmu pengetahuan agar dapat menjadi aset berharga di masa depan.

Pada pelaksanaan ROSC nanti, para siswa akan berkompetisi melalui metode daring (online). Adapun waktu pelaksanaan kompetisi akan berlangsung selama 90 menit. Setiap siswa akan mengerjakan soal sesuai dengan levelnya masing-masing. Sebelum pelaksanaan kompetisi, siswa bisa mengikuti latihan secara gratis yang akan dilaksanakan selama dua hari yakni, pada tanggal 18 dan 19 Juli 2020.

Untuk informasi & pendaftaran, para peserta bisa langsung mengunjungi laman www.kpm.read1institute.org atau menghubungi 0812.8546.962

Tim Media 

Read more...

Segera Daftar! KPM Bakal Gelar Read1 Online Science Competition

 

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Setelah sukses menyelenggarakan Read1 Online Mathematics Competition (ROMC), Klinik Pendidikan MIPA (KPM) bakal menggelar lomba sains berbasis daring (online) yang bertajuk Read1 Online Science Competition (ROSC) Se-Indonesia untuk siswa kelas 4 SD hingga 11 SMA, Minggu (26/7/2020) mendatang.

ROSC merupakan sebuah kompetisi sains berbasis daring (online) yang diprakarsai oleh Ridwan Hasan Saputra (RHS) dengan menerapkan sistem biaya pendaftaran seikhlasnya (sesuai kemampuan).

Kepala Divisi Lomba, M. Fachri menjelaskan bahwa ROSC hadir pertama kalinya untuk memberikan manfaat dalam menumbuhkan wawasan dan aktualisasi diri di bidang sains. Kompetisi ROSC juga sebagai pembuktian bahwa para pelajar tetap bisa berprestasi meskipun belajar dari rumah.

"Diharapkan, di tengah pandemi Covid-19, ROSC ini menjadi angin segar bagi para siswa sehingga mereka tidak hanya monoton mengikuti pembelajaran online learning dari sekolah, namun juga dapat menambah wawasan dengan cara berkompetisi," pungkas Fachri.

Adapun waktu pelaksanaan kompetisi akan berlangsung selama 90 menit. Setiap siswa akan mengerjakan soal sesuai dengan levelnya masing-masing. Sebelum pelaksanaan kompetisi, siswa bisa mengikuti latihan secara GRATIS yang akan dilaksanakan selama dua hari, mulai tanggal 18 dan 19 Juli 2020.

Dikarenakan pelaksanaannya menerapkan metode daring (Online), para peserta wajib menggunakan fasilitas laptop atau HP yang terkoneksi dengan jaringan internet agar dapat terhubung dengan laman (website) yang sudah disediakan untuk mengerjakan soal nantinya.

Selain itu, yang menarik dari kompetisi ini adalah hadiah bagi para peraih 10 terbaik di masing-masing level, yaitu pembinaan secara gratis dan akan dilaksanakan di Bogor. Tentunya dilatih oleh pelatih-pelatih hebat. Sebagai tambahan akan ada penghargaan yang akan diperebutkan yaitu medali emas, perak, perunggu dan partisipan beserta sertifikat.

Untuk informasi & pendaftaran, para peserta bisa langsung mengunjungi laman www.kpm.read1institute.org. Penasaran seperti apa keunikan soal-soalnya, yuk daftarkan diri kalian dan raih manfaatnya! Narahubung 0812.8546.962

Tim Media 

Read more...

Kiat Pak Ridwan Ungkap Cara Mengajar Matematika yang Menyenangkan

Sumber: Freepik.com

Sumber: freepik.com

Bogorplus.com-Bogor, Jawa Barat – Tidak bisa ditampik lagi kalau pelajaran Matematika kerap menjadi momok bagi anak. Angka-angka, perhitungan, memahami soal cerita, hingga menghafal rumus-rumus tak sedikit yang akhirnya membuat mereka membenci matematika dan malas untuk mempelajari dengan lebih serius.

Kira-kira, apa yang bisa guru dan orang tua lakukan agar ketakukan pada Matematika nggak terjadi ke anak? Host Program Gemar Matematika Kemdikbud RI sekaligus Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Ridwan Hasan Saputra mengatakan bahwa orang tua dan guru tanpa disadari telah melupakan esensi mengajarkan Matematika dengan cara yang menyenangkan. Lantas, bagaimana caranya agar anak terlebih dahulu menyenangi Matematika itu sendiri?

Simak kiat cara mengajarkan Matematika yang menyenangkan menurut cara berpikir suprarasional.

Foto: Ridwan Hasan Saputra (Presiden Direktur KPM)/Dok. KPM

  1. Kenali dan Dekat dengan Anak/Murid

Ridwan menganalogikan Guru Ibarat Teko, Murid Ibarat Cangkir. “Kalau bisa teko itu mendekati cangkir dan dekat dengan cangkir. Sehingga airnya akan mudah mengalir ke dalam cangkir. Jangan sampai posisi cangkir lebih tinggi daripada teko,” ungkap RHS dalam unggahan video di Channel Youtube Ridwan Hasan Saputra.

Mengapa demikian? Pada saat proses mengajar seharusnya guru dan orang tua memiliki kedekatan dengan anak/murid, baik secara hati maupun fisik. Sehingga anak merasa nyaman ketika menerima ilmu dari guru maupun orang tua. Tak jarang juga seorang guru pasang muka galak di awal belajar sehingga anak sudah merasa ketakutan.

Pada saat belajar juga terdapat proses perpindahan ilmu. Jika guru/orang tua yang diibaratkan sebuah teko tidak dekat dengan murid/anak yang diibaratkan cangkir, maka ilmunya tidak akan mengalir dengan sempurna ke anak. “Artinya, hati anak dengan hati guru/orang tua dalam posisi menjauh. Itu tidak bagus, sehingga ilmunya susah disalurkan atau ketika dikucurkan ilmunya tidak tepat sasaran,” tegas RHS.

Buku Cara Berpikir Suprarasional karya Ridwan Hasan Saputra (pesan di sini) 

  1. Pahami Kompetensi Diri Ketika Mengajar Matematika

Sebelum mengajar, kita juga harus mengetahui kompetensi diri masing-masing. Ridwan menjelaskan, seorang guru Matematika tidak harus memiliki kompetensi di semua level. Ketika guru tersebut hanya mampu mengajar di level SMP, jangan memaksakan diri untuk mengajar di level SMA atau perguruan tinggi. Bahkan, ketika hanya bisa mengajarkan berhitung 1 sampai 10, guru tersebut sudah bisa dikatakan sebagai guru Matematika karena yang terpenting anak bisa menyenangi dan memahami ilmunya.

  1. Menjadi Fasilitator Agar Anak Semangat Belajar

Sesekali berikanlah penghargaan atau pujian kepada siswa yang berprestasi, misalnya, “kamu hebat”, kamu luar biasa”, dan sebagainya, sehingga anak jadi lebih bersemangat. Ketika ada anak yang gagal, jangan dicaci atau dimarahi karena metode ini akan mempengaruhi motivasi dan psikologi anak dalam belajar Matematika. Ketika ada siswa yang sulit memahami soal, berikan soal dari yang termudah dan berikan semangat sampai mereka menemukan solusinya. “Ingat belajar Matematika bukan berpikir adu cepat,” kata RHS.

  1. Mencari Guru yang Tepat

Jika orang tua merasa tidak mampu lagi membekali anaknya belajar Matematika karena tingkat kesulitan soal, carilah guru yang tepat. Pada dasarnya, setiap guru adalah ujung tombak dalam keberhasilan pembelajaran Matematika. oleh karena itu, carilah seorang guru yang memiliki rekam jejak baik. Kendati demikian, yang terpenting adalah rasa suka terlebih dahulu sama Matematika, barulah siswa tersebut akan semangat belajar. Jika belum memiliki rasa suka terhadap Matematika, diikutsertakan bimbingan belajar pun akan merasa segan, sekalipun gurunya harus datang ke rumah.

  1. Ajarkan Adab dan Akhlak Dahulu, Matematika Kemudian

Pelajaran Matematika itu berisi kesepakatan-kesepakatan rumus, misalnya rumus segitiga (alas x tinggi : 2) dan rumus persegi panjang (panjang x lebar). Anak yang salah mengerjakan berarti dia telah melanggar kesepakatan. Maknanya apa? Sebelum mengajarkan Matematika, ajarkan terlebih dahulu adab dan akhlak. Sebagai contoh bagi yang beragama islam harus hormat kepada guru, hormat kepada orang tua, taat berlalu lintas, dan sebagainya.

Menurut Tokoh Perubahan Republika Tahun 2013 ini semua aturan-aturan yang tidak berhubungan dengan angka langsung dinamakan Matematika tanpa angka.  Menurut RHS, Matematika tanpa angka ini harus diajarkan pertama kali kepada anak sebelum seorang guru/orang tua mengajarkan Matematika dengan angka.

Urgensi pembelajaran adab dan akhlak sejatinya perlu diutamakan dan diimplementasikan sejak dini. RHS berharap jika Matematika tanpa angka (adab dan akhlak) baik, maka Matematika dengan angka akan baik pula. Karena di hati seorang anak sudah terbiasa mengikuti aturan dalam kehidupan. Kesimpulannya, proses pembelajaran Matematika bukan sekedar fokus pada menciptakan anak yang pintar Matematika saja, tetapi harus memiliki ketiganya yakni, anak yang saleh, salihah, dan pintar Matematika.

Tim Media 

Read more...
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com