Menu
RSS
Banner Top Topik Sepekan

KPM Tingkatkan Kualitas SDM lewat Program Kelas Berpikir

Foto: Pertemuan perdana kelas berpikir karyawan KPM bersama Presiden Direktur KPM, Ridwan Hasan Saputra/Dok. Klinik Pendidikan MIPA

BOGORPLUS.COM-BOGOR-JAWA BARAT. – Pentingkah memiliki kecakapan berpikir? Cogito ergo sum, ‘aku berpikir maka aku ada’, demikian yang diutarakan Descartes, sang filsuf ternama dari Prancis. Berpikir merupakan salah satu keterampilan hidup yang harus dilatih. Karena berpikir merupakan aktivitas mental yang berfungsi untuk dapat menyelesaikan masalah, membuat keputusan, serta memahami sesuatu dengan baik.

Klinik Pendidikan MIPA (KPM) menyadari pentingnya upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) secara konsisten dan berkelanjutan. Salah satunya dengan membekali keterampilan berpikir bagi para karyawan KPM. Presiden Direktur KPM, Ridwan Hasan Saputra menjadi narasumber dalam pertemuan perdana program Kelas Berpikir yang diselenggarakan di ruko KPM (9/5)Semua karyawan ditantang untuk bisa menyelesaikan tes kecakapan berpikir sejumlah 10 soal dalam waktu 20 menit. Selepas aktivitas pengerjaan soal selesai, Ridwan Hasan Saputra langsung memimpin proses diskusi dan pembahasan soal-soal yang diujikan.

Foto: Motivator Cara Berpikir Suprarasional, Ridwan Hasan Saputra/Dok. Klinik Pendidikan MIPA

Ridwan Hasan Saputra menjelaskan bahwa kecerdasan seseorang bisa diukur dari kemampuan berpikirnya. Jika kemampuan berpikirnya bagus, cara seseorang untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah juga akan bagus. “Keterampilan berpikir harus dilatihkan kepada para karyawan KPM. Karena karyawan dengan kecakapan berpikir andal adalah aset lembaga.” tegas Tokoh Perubahan Republika 2013 ini. Hal ini pun diamini Rheta Rezkianti, Kepala Bagian HRD yang menyampaikan bahwa tujuan utama dari program Kelas Berpikir adalah untuk meningkatkan mutu pola berpikir semua karyawan. Harapannya, program ini akan menjadikan SDM di KPM menjadi sosok yang cerdas, cepat dan tepat dalam bekerja maupun mengambil keputusan. “Program kelas berpikir akan dilaksanakan satu kali dalam sepekan. Para karyawan akan diberikan soal-soal yang menguji keterampilan berpikir logis-rasional agar mereka semakin mahir berpikir. Program ini sangat penting untuk pengembangan SDM dan pencapaian tujuan lembaga di masa mendatang.”  

Imam Permana yang sehari-hari bertugas sebagai security menyampaikan manfaat yang dirasakannya mengikuti program Kelas Berpikir. Dirinya mengaku bahwa berlatih berpikir sangat penting untuk mengembangkan potensi rasionalnya supaya kian terasah. Karena baginya, ketika memilki cara berpikir yang baik akan membuat dirinya lebih teliti dalam bekerja dan profesional saat bekerja. “Kalau cara berpikirnya bagus, hasil kerjanya akan bagus pula.” ungkap penggemar olah raga ini. Begitu pula yang dirasakan Joko Santoso, tim sarana prasarana di KPM. Menurutnya, program kelas berpikir sangat membantu meningkatkan daya nalar para karyawan KPM. Joko menuturkan, “Melatih kemampuan berpikir itu merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah SWT yang dapat meningkatkan derajat kita sebagai manusia. Semakin manusia memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, insyaallah manusia akan semakin banyak bersyukur.”(as)

Read more...

Pendukung 01,02 dan Poros Suprarasional

Foto: Motivator Cara Berpikir Suprarasional, Ridwan Hasan Saputra (RHS)/Dok. Klinik Pendidikan MIPA

BOGORPLUS.COM-BOGOR-JAWA BARAT. - Menjelang tanggal 22 Mei 2019, suhu politik di Indonesia semakin memanas. Perbedaan pendapat antara pendukung 01 dan 02 makin meruncing. Tuduhan pemilu curang dari pihak 02 dan tuduhan akan ada makar dari pihak 01, membuat ketegangan antara kedua kubu  semakin tinggi. Jika tidak segera dilakukan antisipasi, jika kedua massa pendukung turun ke jalan dalam jumlah besar dan dalam kondisi berhadap-hadapan, sangat mungkin akan terjadi benturan yang menyebabkan banyak jatuh korban. Benturan pertama tersebut bisa jadi memancing benturan berikutnya di berbagai daerah. Sehingga korban akan semakin banyak, baik korban jiwa maupun harta. Konflik ini bisa merembet menjadi konflik antar ormas, antar etnis, dan antar agama yang berlangsung lama. Kondisi ini bisa merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, Indonesia terancam jadi negara gagal gara-gara pilpres ini.

Saat ini, kedua kubu merasa yang paling benar sesuai versinya masing-masing. Secara pribadi, saya berkeyakinan kalau 01 dan 02 pasti mempunyai niat yang baik untuk membuat Indonesia lebih baik. Jadi, buat saya siapa pun yang akan jadi presiden tidak masalah. Saya pun melihat di barisan pendukung 01 dan pendukung 02 sama-sama ada yang berlatar belakang ulama dan pemuka agama lainnya, ada muslim dan non-muslim, ada orang-orang dari berbagai etnis, ada purnawirawan pembela NKRI. Saya tidak bisa membagi pihak-pihak itu secara dikotomi, satu pihak pendukung budi luhur dan pihak lain pendukung angkara murka.  Saya tidak bisa membagi salah satu pihak sebagai pendukung anti Islam dan pihak lain sebagai pendukung Islam. Bagi saya, pendukung 01 dan pendukung 02 adalah saudara sebangsa dan setanah air yang kebetulan sedang bertengkar.

Jika dalam situasi ini rakyat Indonesia terbelah dua, yaitu sebagai pendukung 01 dan pendukung 02,  ibarat dua saudara yang bertengkar, tidak ada lagi saudara yang memisahkan. Apalagi sudah tidak lagi guru bangsa yang suaranya didengar oleh kedua belah pihak. Institusi negara pun sudah tidak dipercaya. Maka, kondisi ini memungkinkan adanya  pihak asing yang turut membantu memisahkan ketika konflik ini terjadi. Namun, tidak ada makan siang gratis. Sangat mungkin, sambil berupaya memisahkan, pihak asing tersebut mengkavling-kavling kekayaan alam di Indonesia, dan mengeruknya untuk kepentingan mereka. Akhirnya, yang rugi kita semua sebagai bangsa Indonesia.

Agar kemungkinan itu tidak terjadi, harus ada sebagian dari rakyat yang tidak memihak kedua kubu dan berperan sebagai penengah. Peran sebagai penengah ini bukan  secara fisik pada saat benturan terjadi, karena yang mempunyai hak dan kewenangan tersebut adalah aparat keamanan. Peran yang bisa dilakukan oleh sebagian rakyat Indonesia untuk menengahi benturan kedua pendukung ini adalah dengan membentuk “pagar gaib”. Apa yang dimaksud “pagar gaib”? Dalam cara berpikir suprarasional, ketika kedua belah pihak saling berprasangka buruk, maka yang terjadi adalah caci maki, fitnah, iri dengki, dan timbulnya perilaku buruk lainnya. Aktivitas-aktivitas tersebut membuat tabungan jiwa atau energi positif kedua belah pihak jadi semakin berkurang. Sehingga awalnya di antara mereka ada tabungan jiwa atau energi positif yang membentuk “pagar gaib” yang menghalangi gesekan atau benturan. Maka ketika pagar gaib itu sudah tidak  ada lagi, benturan itu pasti akan terjadi.

Oleh karena itu harus ada sebagian dari rakyat Indonesia yang membentuk pagar gaib baru. Bagaimana cara membentuk pagar gaib? Caranya adalah harus ada sebagian dari rakyat Indonesia yang konsisten meningkatkan keimanan, memperbanyak amal saleh, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menasihati dalam kesabaran. Praktik di lapangannya, dalam situasi ini harus ada sebagian rakyat Indonesia yang rajin pergi ke masjid,  ke tempat ibadah untuk mendoakan keselamatan bangsa. Harus ada sebagian dari rakyat Indonesia yang bersilaturahim ke berbagai elemen masyarakat untuk mengajak lebih bertakwa kepada Allah, lebih meningkatkan ibadah, untuk saling tolong -menolong, menjaga persatuan dan kesatuan. Jika hal-hal tersebut dilakukan, akan timbul tabungan jiwa baru atau energi positif baru yang bisa menjadi “pagar gaib” baru yang menghindari benturan.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan Bapak-Ibu semua di bulan puasa ini, marilah secara berjamaah kita tingkatkan iman dan takwa, melalui sholat berjamaah tiap waktu, membaca Alquran, i’tikaf di masjid, membayar  zakat, perbanyaklah amal saleh. Mari jadikan diri kita semua sebagai penyejuk situasi dan tetap lakukan aktivitas-aktivitas ini tidak hanya pada bulan Ramadhan, namun juga setelah bulan Ramadhan. Doakanlah bangsa ini agar selamat dari bencana kemanusiaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saat ini yang dibutuhkan bangsa ini adalah doa dari orang-orang saleh yang banyak beribadah. Sebagian rakyat Indonesia yang melakukan aktivitas ini saya menyebutnya sebagai “poros suprarasional”. Gerakan untuk membentuk “Poros Suprarasional” bisa dilakukan oleh aparat atau elemen bangsa yang peduli dengan keselamatan bangsa, dari mulai tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota/kabupaten, Provinsi dan Nasional. Jika lebih dari 50% rakyat Indonesia menjadi bagian dari “Poros Suprarasional”, Insya Allah apa yang disebut “goro-goro” tak akan berlangsung lama, bahkan mungkin tidak akan terjadi. Selain itu, bisa jadi “Poros Suprarasional”  memberi dan menjadi solusi tak terduga dari masalah bangsa yang dihadapi saat ini.

Insya Allah saya adalah bagian dari “poros suprarasional”. Apakah Anda juga termasuk salah satu di antaranya? Jika ya, mari perbanyak ibadah, amal saleh, dan berdoa untuk keselamatan bangsa ini.

JIka setuju dengan tulisan ini, silakan bagikan kepada yang lain. Semoga suasana pada tanggal 22 Mei menjadi lebih sejuk.

Wassalamu’alaikum wr wb

Kampung Matematika Laladon, Bogor, 13 Mei 2019

Read more...

MIHT dan Optimalisasi Potensi Anak di Bidang Olimpiade Matematika

 

Sentul, Bogor – Setiap anak Indonesia memiliki hak untuk dikembangkan potensi dirinya di berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali anak-anak Indonesia yang memiliki potensi di bidang matematika. Untuk memfasilitasi pengembangan minat dan bakat anak Indonesia di bidang matematika, Read1 Institute menggelar program khusus, Math In House Training (MIHT) goes to International Mathematics Contest Singapore (IMCS) dan International Mathematics Wizard Challenge (IMWiC) 2019. Program MIHT bertujuan untuk mengenalkan anak pada materi pembelajaran matematika, khususnya pada penguatan dasar-dasar dalam memahami soal-soal olimpiade matematika nasional maupun olimpiade matematika internasional.      

Ryky Tunggal Saputra Aji, Kepala Bagian Pelatihan di Read1 Institute menguraikan beberapa manfaat yang bisa didapatkan oleh para peserta MIHT, di antaranya: menguatkan pemahaman anak pada materi dasar olimpiade matematika, mengasah keterampilan berpikir anak dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade, melatih kemandirian dan sikap tanggung jawab anak, serta membangun kebersamaan dan menjalin persahabatan di antara sesama peserta yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda. “Aturan yang kami rancang di acara MIHT, salah satunya adalah aturan tidak memperbolehkan peserta MIHT membawa perangkat elektronik selama kegiatan berlangsung. Hal ini menjadi strategi agar anak-anak  bisa lebih fokus dalam belajar dan bisa mengasah keterampilan berkomunikasi dan keterampilan bersosialisasi mereka.” ujar Team Leader di ajang China Southeast Mathematical Olympiad (CSMO) 2018 di China.

Para peserta yang terdiri dari murid kelas 3 SD – 8 SMP memiliki kesan mendalam dalam keikutsertaannya pada program MIHT goes to IMCS dan IMWiC 2019. Daffa Sulthan Wibawa, murid kelas 3 Gema Nurani International School ini merasa senang karena mendapat ilmu baru, diajari cara mengerjakan soal-soal matematika, dan belajar hidup teratur serta disiplin. Ratu Alifia Mutiara Kusumah, murid kelas 8 SMP Negeri 1 Margahayu Bandung ini pun menuturkan perasaan bangga dan bersyukur bisa menjadi peserta MIHT. “Bagi saya, kegiatan MIHT sangat bermanfaat karena saya mendapatkan teman baru, wawasan baru tentang matematika, dan saya memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti kompetisi matematika di tingkat internasional.” pungkas murid yang bercita-cita menjadi dokter ini.  

Read more...
Topik Banner Bottom
ads by bogorplus.com